BANDUNG – Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat melalui Bidang Pengembangan dan Perlindungan Perkebunan, kembali menggali kekayaan intelektual Jawa Barat melalui inisiasi wilayah indikasi geografis komoditas perkebunan. Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat “Dody Firman Nugraha” pada acara  Sosialisasi Inisiasi Wilayah Indikasi Geografis (IG) Komoditas Perkebunan yang digelar pada Selasa (26/03/2019) di ruang rapat Lt. III Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat, Jl. Surapati No. 67 Bandung.    

Kali ini akan diinisiasi kopi arabika untuk wilayah kabupaten Bandung, Bandung Barat, Garut, Sumedang dan Subang. Kopi robusta untuk wilayah Kabupaten Bogor, Ciamis, Cianjur, Kuningan, Pangandaran, Sumedang dan Tasikmalaya. Sedangkan kakao akan diinisiasi pada wilayah Kabupaten Ciamis, Pangandaran dan Sukabumi. Untuk cengkeh akan diinisiasi pada wilayah Kabupaten Bandung, Bogor, Ciamis, Cianjur, Garut, Kuningan, Majalengka, Purwakarta, Subang, Sukabumi, Sumedang dan Tasikmalaya.

Sekitar 50 orang undangan hadir mewakili pejabat struktural dan staf teknis  dinas kabupaten/kota yang menangani perkebunan,  unit Eselon III Lingkup Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat, stakeholders terkait dan undangan lainnya.

Saat memberi arahan, “Doddy” mengajak peserta untuk menyamakan persepsi tentang pengertian inisiasi agar satu paham, satu langkah dan satu tujuan dalam melakukan inisiasi wilayah IG komoditas perkebunan. Dalam ensiklopedia bebas, inisiasi diartikan sebagai permulaan atau memulai. Jadi inisiasi wilayah IG maksudnya melakukan aktivitas awal atau permulaan untuk wilayah IG, istilah krennya menginventarisasi potensi wilayah IG, ungkapnya.

Data hasil inventarisasi potensi wilayah IG ini sangat penting bagi stakeholder terkait,  sebagai salah satu upaya untuk pelestarian kekayaan intelektual, karena pelestarian kekayaan intektual melalui sertifikat IG  menjadi  suatu tanda yang menunjukkan daerah asal suatu barang dan/atau produk yang karena faktor lingkungan geografis termasuk faktor alam, faktor manusia atau kombinasi dari kedua faktor tersebut, akhirnya mampu memberikan reputasi dan kualitas, dan karakteristik tertentu pada barang dan/atau produk yang dihasilkan.

Pengaruh kondisi lahan dan lingkungan sangat kental, oleh sebab itu melalui inisiasi ini diharapkan muncul kekayaan intektual baru dari produk kopi robusta, kakao dan cengkeh serta  perluasan wilayah IG Kopi Arabika Java Preanger (KAJP), diluar wilayah 10 gunung.

Selama ini kita telah mempunyai dua varian, IG KAJP; 1). Bandoeng Highlant (kopi yang ditanam di wilayah Gunung; Cikuray, Papandayan,   Malabar,   Tilu,   Patuha, Halu,   Beser), 2). Soenda Mountain (kopi yang ditanam di wilayah Gunung; Burangrang, Tangkuban Perahu dan   Manglayang). Kemungkinan besar masih ada varian yang sama namun belum tercatat dalam buku MPIG, karena itu mari kita coba teliti untuk dikembangkan wilayah IG nya.

Komoditas lain seperti kopi robusta, cengkeh, kakao, akar wangi, gula merupakan produk perkebunan yang bila mempunyai sesuatu ciri atau tanda yang khas bisa kita IG kan, tuturnya.

Saat ini menurut data dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, jumlah Indikasi Geografis Jawa Barat yang telah terdaftar di Kemenkum HAM sebanyak 7 (tujuh) IG yaitu: 1). Tembakau Hitam Sumedang (Kab. Sumedang), 2). Tembakau Mole Sumedang (Kab. Sumedang), 3). Ubi Cilembu Sumedang (Kab. Sumedang), 4). Kopi Arabika Java Preanger (Kab. Bandung), 5). Teh Java Preanger (Kab. Bandung), 6). Beras Pandanwangi Cianjur (Kab. Cianjur), 7). Sawo Sukatali (Kab. Sumedang).  Dari 7 IG tersebut, terdapat 4 IG komoditas binaan Dinas Perkebunan yaitu Tembakau Hitam Sumedang, Tembakau Mole Sumedang, Kopi Arabika Java Preanger dan Teh Java Preanger. Tidak lama lagi akan terbit IG Kopi Robusta Java Bogor, mari kita support agar secepatnya bisa terbit.

Sebuah prestasi yang patut dibanggakan, mengingat Jawa Barat merupakan Provinsi dengan jumlah Indikasi Geografis terbesar di Indonesia. Namun demikian kita jangan lelah untuk terus menggali potensi Jawa Barat, Seperti yang akan diinisiasi oleh Bidang Banglin, barangkali saja kopi robusta di tempat lain mempunyai ciri khas diluar kekhasannya Java Bogor, atau cengkeh dan komoditas lainnya. Mari kita terus lakukan inisiasi untuk menggali potensi yang ada, ajaknya.

Perlu dipahami bahwa, sertifikat IG ini sebenarnya mempunyai beberapa manfaat penting karena bisa dijadikan patokan untuk menjaga kualitas dan keaslian suatu produk. Ini memberikan jaminan bahwa suatu produk bisa ditelusuri asalnya. Jaminan ini berguna untuk menghindarkan konsumen dari pemalsuan produk dan menjaga kredibilitas produsen/penjual.

IG juga mendorong peningkatan harga jual produk secara ekonomi. Konsumen yang mengerti bahwa produk IG dijamin kualitas dan keasliannya maka akan mau membeli dengan harga yang tinggi.

Senada dengan arahan Doddy, Endy Pranoto, S.Sos.,M.Sc. dari Ditjenbun mengamanatkan jika ingin melakukan inisiasi wilayah IG maka aktivitas yang tidak bisa dihindarkan adalah mendiskripsikan lingkungan wilayah, membuat gambaran umum komoditas, analisis tanah, analisis iklim, faktor manusia, sejarah dan adat istiadat, serta mutu fisik dan uji citarasa.

Tidak hanya itu, lanjut Endy, dari sisi metode produksi dan pengolahan, harus diamati terkait budidaya (bahan tanaman, penanaman, penaung, pemangkasan, hama dan penyakit, pemupukan), terkait panen (cara panen, sortasi, penyimpanan), dan terkait pengolahan (pengolahan basah, kering, Full washed/semi full washed).

Beliau menegaskan agar kebun/komoditas yang menjadi sasaran benar-benar diperhatikan tipologinya apakah baik, sedang atau kurang terhadap standar budidaya dan pengolahan hasil tanaman. 

Selain itu, berdasarkan kualitas kebun perlu diklasifikasikan juga tergolong tipe baik, cukup layakkah untuk didaftarkan sebagai produk IG. Demikian juga berdasarkan keunggulan dan kelemahan yang ada.     

Sejalan dengan pernyataan Endy, diperkuat pula oleh Gunawan, S.Si. dari Kementerian Hukum dan HAM. pihaknya menjelaskan bahwa objek perlindungan IG meliputi sumber daya alam, barang kerajinan tangan dan hasil industry. Oleh karenanya dalam melakukan inisiasi IG, perlu memperhatikan sejak awal tentang nama barang dan/atau produk yang akan dilindungi Indikasi Geografis.

Produk tersebut, harus mampu teruraikan karakteristik dan kualitasnya, dan juga  hubungannya dengan daerah, lingkungan geografisnya (faktor alam dan manusia), batas-batas wilayah, sejarah dan tradisi terkait indikasi geografis, proses produksi, pengolahan dan pembuatan, metode yang digunakan untuk menguji kualitas, label yang akan digunakan pada barang bersangkutan, ucapnya.

Sebagai penutup, Gunawan menuturkan, potensi IG dari Jawa Barat sangat banyak, seperti Kopi Arabika, Kopi Robusta, Akar Wangi Garut, Gula Aren/ gula kelapa (gula batok, gula semut), Kayu Manis, Kakao dan lain sebagainya. Dengan demikian inisiasi wilayah IG ini sangat sesuai dilaksanakan, kalau perlu berkesinambungan setiap tahun untuk menggali semua potensi produk perkebunan di Jawa Barat, pungkasnya. (Siti Purnama)


Dibaca : 57 kali