SUMEDANG – Konservasi tanah dan air ditujukan  untuk mencegah erosi, memperbaiki tanah yang rusak, memelihara dan meningkatkan produktivitas tanah serta menjamin ketersediaan air agar dapat digunakan secara berkelanjutan. Manfaat ini sangat dirasakan oleh ketua kelompok tani Bagja Waluya ”Nunung”, setelah lahan tembakaunya ditata melalui penerapan teknik konservasi tanah dan air. “Sekarang tanaman tembakau saya mampu mencapai pertumbuhan terbaik setelah ditata dan diterasering” kata Nunung,  saat mengikuti bimbingan dan pengawasan (Bimwas) konservasi lahan tembakau di Desa Tegalmanggung Kecamatan Cimanggung Kabupaten Sumedang pada Selasa (30/04/2019).

Bimwas yang dipandu seksi penataan lahan tersebut, bertujuan untuk memotivasi petani dalam melakukan pemeliharaan rutin lahan yang sudah mendapat perlakuan konservasi, agar pertumbuhan tanaman tembakau terjaga dengan baik, produktivitas lahan tanam keberlanjutan, kelas kemampuan lahan meningkat  dan kelestarian lingkungan terjamin.

Sebanyak 20 orang anggota kelompok Bagja Waluya  mendapat arahan dari praktisi teknologi pertanian Ir. Enjang Suyitno pada saat bimwas di lahan pertanaman tembakau mereka.  Menurut Enjang yang menjadi fokus perhatian pada lahan yang sudah mendapat perlakuan konservasi tersebut adalah pemeliharaan teras dengan cara penyempurnaan saluran air vertikal lengkap dengan bangunan terjunan airnya, penanaman rumput penguat teras dan pemeliharaan bibir teras dengan tidak mencabut tanaman kacang merah yang sudah ada pada pinggiran teras.

Enjang mengatakan, saluran teras (saluran pembuangan air horizontal) pada teras bangku merupakan saluran yang terletak dekat perpotongan  antara  bidang olah  dan  tampingan  teras.  Saluran teras dibuat agar air yang mengalir dari bidang olah dapat dialirkan secara aman ke saluran pembuangan air.   

Saluran pembuangan air (SPA) merupakan saluran drainase yang dibuat untuk mengalirkan air dari saluran teras ke tempat   penampungan   atau   pembuangan   air   lainnya.  Saluran pembuangan air (SPA) dibuat searah lereng atau berdasarkan cekungan alami. Pada lahan yang kemiringannya >15%, SPA harus dilengkapi dengan bangunan terjunan air, yaitu bangunan yang terbuat dari susunan batu atau bambu atau bahan lainnya  pada  SPA,  yang  berfungsi  untuk  mengurangi  kecepatan  aliran  air  pada SPA.  

“Dengan demikian Saluran  Pembuangan  Air  (SPA)  dan  Bangunan  Terjunan Air (BTA) pada lahan pertanaman tembakau ini masih  tetap  diperlukan  dan harus disempurnakan karena berfungsi untuk  mengalirkan  sisa  aliran  permukaan  yang  tidak terserap  oleh  tanah”, ujarnya.

Menurutnya, efektivitas  teras  bangku  akan  meningkat  bila  ditanami  tanaman  penguat teras   pada   bibir   dan   tampingan   teras. Nilai tambah lainnya dari teras bangku yang ditanami rumput penguat teras adalah  tersedianya sumber pakan ternak dan bahan organik tanah.

Jenis tanaman yang biasa digunakan   sebagai   tanaman   penguat   teras   adalah   tanaman   legum   seperti hahapaan (Flemingia congesta), gamal (Gliricidia sepium) dan dari jenis rumput seperti bahia (Paspalum  notatum), bede  (Brachiaria  decumbens),  setaria  (Setaria  sphacelata), rumput gajah  (Penisetum  purpureum)  atau  akar  wangi  (Vetiveria  zizanioides).   

Pihaknya menjelaskan tanaman kacang merah yang saat ini ditanam pada bibir teras, cukup mampu berfungsi sebagai penguat teras, namun  cara memanen pada saat panen, tidak boleh dicabut sampai ke akar-akarnya, akan tetapi harus dipotong  pada bagian bawah batang agar akar tetap mengikat agregat tanah, dengan demikian  tidak terjadi penggerusan pinggir teras.

Namun demikian, Enjang mengharuskan untuk tetap menanam rumput pada bibir teras. Beliau khawatir jika tanaman pinggiran teras dipanen dengan cara mencabut maka secara otomatis tanah akan terbawa dan tergerus. Hal ini mengakibatkan rusaknya teras, unsur hara hanyut terbawa aliran air, akibatnya  lama kelamaan tanah akan menjadi miskin unsur hara. Tentu kondisi demikian akan memperburuk pertumbuhan tanaman yang saat ini sudah mencapai optimal.

Enjang juga mengingatkan bahwa  masing-masing   jenis   teknik   konservasi   tanah   mempunyai kelebihan dan kekurangan, sehingga diperlukan strategi yang tepat dalam penerapannya agar dapat mengoptimalkan kelebihan dan meminimalkan kekurangannya.

Tidak semua teknik  konservasi tanah dapat diterapkan untuk semua kondisi lahan, melainkan bersifat spesifik lokasi, dan penerapannya harus  disesuaikan  dengan  agroekosistem  setempat, ucapnya.

Teknik  konservasi  tanah mekanik  akan  lebih  efektif  dan  efisien  bila  dalam  aplikasinya  dikombinasikan dengan  teknik  konservasi  tanah  vegetatif.  Selain  itu,  dalam  menerapkan  teknik konservasi  ini  akan  didapatkan  nilai  tambah  yang  dapat  dijadikan motivasi  bagi pengguna atau petani, ujarnya seraya mengakhiri arahannya. (Siti Purnama).


Dibaca : 281 kali