KAB. BANDUNG – Konservasi tanah dan air merupakan amanat UU 37 tahun 2014, dan penting untuk dilakukan agar tanah tetap terpelihara dan air tetap tersedia. Namun demikian, yang selalu dilupakan dan  sangat sulit dilakukan adalah pemeliharaan lahan yang sudah dikonservasi. Bimbingan dan pengawasan ini menjadi aktivitas utama untuk mendorong petani tembakau melakukan pemeliharaan dan perawatan terhadap lahan pertanaman tembakau yang sudah dikonservasi, ujar Enjang pada saat memberikan bimbingan pada kelompok tani Nyimas Doyong Sari, yang beralamat di Desa Citaman Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung pada Selasa (30/04/2019).

Bimwas yang dilakukan langsung di lahan pertanaman tembakau tersebut, menyadarkan petani pemilik akan kerugian yang dialami jika tidak melakukan pemeliharaan. Berbagai masalah akan muncul mengancam keberlanjutan pertanaman misalnya unsur hara yang seharusnya terkandung dalam tanah dan bahan organik akan hilang, terjadi proses salinisasi atau terkumpulnya garam / racun dalam tanah, air tawar pada akar dan batang akan jenuh ditambah lagi terjadinya erosi tanah, kata pakar teknologi pertanian tersebut.

“Dalam konteks pertanian berkelanjutan, kaidah konservasi lahan harus diterapkan dan menjadi  perhatian prioritas pemerintah, pasalnya masih banyak lahan pertanaman yang menjadi garapan para petani, belum memenuhi syarat layak  ditanami”, kata Enjang. 

Konservasi yang diterapkan harus benar sesuai kontur. Pemeliharaan juga harus benar. Dituntut untuk mampu memahami tanaman yang tidak diperbolehkan ditanam di bibir teras. Ubi-ubian tidak boleh ditanam di bibir teras karena saat panen, tanah akan terbawa longsor. Enam puluh (60) cm dari bibir teras tidak boleh ditanam tanaman yang akan dipanen dengan cara membongkar.  

Enjang berpesan pada kelompok agar tanaman penguat teras diganti dengan legume atau jenis lain yang bukan tanaman ubi. Rumput penguat teras harus segera ditanam kembali karena fungsinya sangat banyak, selain menjadi penguat teras juga dapat dipanen untuk makanan ternak seperti domba.

Irigasi tetes yang sudah dibuat agar dijaga sebagai konservasi air. Jangan hanya bisa membangun atau membuat akan tetapi harus bisa juga memelihara yang sudah dibangun tersebut, ini yang sangat penting, katanya.

Pihaknya menyoroti tanaman talas yang terdapat pada bidang olah teras bagian luar dipinggir bibir teras, karena talas termasuk tanaman ubi2an maka kurang baik dan harus dihindarkan untuk ditanam pada bibir teras, umbinya rakus unsur hara sehingga tembakau akan kekurangan unsur hara, akibatnya  usaha tani tembakaunya tidak menguntungkan. Selain itu pada saat panen juga pasti dilakukan pembongkaran tanaman, yang secara langsung akan merusak pinggiran teras, ini yang sangat berbahaya, ujarnya

Untuk anggota kelompok yang belum mengedukasi terasering, beliau berharap ke depan segera membuat konservasi sesuai aturan. Jika biaya dan tenaga kurang memadai maka disarankan membuat teras kredit yang dimulai dengan  guludan-guludan  terlebih dahulu. Pada ketinggian 40-60 cm diatas guludan ditanam rumput 2 baris secara siksak agar erosi terganjal. Setiap musim pengolahan tanah atau mencangkul maka tanah disekeliling gulugan harus dinaikkan lagi sehingga lama kelamaan akan terbentuk  seperti teras bangku. Mulailah lakukan konservasi dengan teras gulud, cukup ukuran  30cm x 40cm x 60cm, tidak sulit dan tidak menyita waktu banyak  hanya menambah 3 hari dari jumlah hari normal yang digunakan untuk pengolahan tanah, namun demikian mendapatkan manfaat ganda yaitu kelestarian lingkungan, ucapnya.

Pihaknya mengingatkan, pemupukan juga merupakan tindakan konservasi, oleh sebab itu jangan lupa menutup lubang pupuk setelah melakukan pemupukan karena jika  pupuk tidak dalam keadaan tertutup maka pupuk yang mampu diserap tanah dan tanaman  hanya 40% saja, sedangkan yang 60% nya sia-sia terbuang sehingga untuk memenuhi kebutuhan tanaman membutuhkan pupuk yang lebih banyak.

Enjang menuturkan, berdasarkan hasil penelitian pada 100 tumbak lahan yang belum dikonservasi membutuhkan pupuk sebanyak 1,5 Kwintal, namun setelah dilakukan konservasi lahan, maka jumlah pupuk yang dibutuhkan hanya 75 Kg, jadi lebih efisien.  

Namun demikian hati hati dengan penggunaan pupuk urea, jika urea terlalu banyak maka disamping pemborosan juga tanaman akan rentan terhadap penyakit.

Konservasi berfungsi meratakan unsur hara pada bidang olah, agar pertumbuhan tanaman juga lebih merata. Jika tidak dikonservasi dan kondisi lahan tidak datar maka  unsur hara yang terdapat pada bidang olah akan terbawa air ke bagian bawah, akibatnya pertumbuhan tanaman akan lebih bagus pada bidang olah  bagian bawah.

Kelembaban mikro tidak bisa terjamin jika tanpa konservasi tanah, akibatnya tanaman akan cepat layu pada  tengah hari  karena air terbawa ke bawah. Untuk mempertahankan kelembaban dan kelestarian lingkungan, maka sebaiknya dibuat rorak.

Sesaat sebelum mengakhiri bimbingannya, beliau mengingatkan kembali, yang perlu disempurnakan dan dilakukan kembali pada  lahan kelompok tani Nyimas Doyong Sari adalah melakukan pemeliharaan yang sesuai, membongkar ubi jalar yang ditanam pada bibir teras, saluran teras (saluran pembuangan air horizontal)  harus diangkat agar air mengalir ke kiri dan ke kanan karena tidak boleh air tergenang, pinggir teras ditanami tanaman odot.

SPA perlu pemeliharaan secara rutin, jika ada celah celah ruang diantara BTA, harus segera diperbaiki dengan menggunakan batu batu kecil. Jika diperlukan embung sebagai penampung air maka harus melakukan perhitungan luas yang akan diairi agar tau ukuran embung yang akan di bangun (Siti Purnama).


Dibaca : 400 kali