Bandung – Kopi asal Desa Mekarwangi, Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat atau lebih dikenal Kopi Gunung Halu telah selesai di sertifikasi oleh Lembaga Sertifikasi Organik (LSO). Proses sertifikasi ini sudah berlangsung selama 3 tahun. Luas areal perkebunan kopi yang di daftarkan untuk sertifikasi adalah seluas 28 Ha yang diurus oleh 25 orang petani.

Sertifikat yang akan di berikan kepada Gapoktan Preanger Spesialty diantaranya sertifikat Organik Standar Nasional Indonesia (SNI), Sertifikat Organik Ekspor Uni Eropa, dan Sertifikat UTZ.

Lokasi kebun kopi organik di kunjungi langsung oleh Bapak Direktur Perlindungan Perkebunan Direktorat Jendral Perkebunan Kementrian Pertanian, Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat, dan Kepala UPTD Balai Perlindungan Perkebunan. Kehadiran mereka diantaranya terkait upaya sertifikasi organik, dimana di lapangan juga terdapat tenaga asesor urusan kopi organik.

          Saat ini gelondongan kopi organik harganya Rp. 10.000/kg masih disamakan dengan kopi non organik, kedepannya setelah sertifikat organik didapatkan para petani yang lolos sertifikasi harga jual kopinya akan naik berkisar 10 – 15%. Dalam penanganan proses pengolahan pasca panen kopi organik dan non organik dipisahkan dan disiapkan tempat khsusu penjemuran kopi organik.

Manfaat yang dirasakan oleh petani dengan adanya program desa organik dari Balai Perlindungan Perkebunan Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat diantaranya meningkatkan pendapatan, produksi meningkat, serta kondisi tanah menjadi gembur. Selain dari kopi juga para petani Gapoktan Preanger Spesialty juga mendapatkan hasil dari ternak domba, semula 30 ekor saat ini sudah bertambah menjadi 48 ekor, kotorannya di gunakan untuk bahan pupuk kompos.

Sedangkan untuk memotivasi dan memacu usaha kopi secara organik, para petani pun dibiasakan untuk rajin melakukan pencatatan di buku petani. Nantinya para petani dapat mengetahui secara jelas hitung-hitungan hasil  usaha, karena selama ini para petani umumnya hanya berdasarkan taksiran.

 

 

Penulis : Tim UPTD BPP

Editor : M. Sopian Ansori, SP., MP.


Dibaca : 276 kali