KAB. BANDUNG – Salah satu informasi yang dibutuhkan dalam perencanaan pengelolaan lahan adalah kemampuan lahan yaitu potensi lahan dan kesesuaiannya untuk jenis tanaman tertentu. Informasi ini diperlukan terutama untuk menentukan aktivitas atau jenis konservasi tanah yang harus dilakukan, kata Enjang pada saat memberikan bimbingan dan pengawasan penataan pelestarian lahan kopi di kecamatan pangalengan kabupaten Bandung pada Senin (15/04/2019).

Menurut Enjang faktor penghambat yang sering menjadi masalah di lapangan adalah erosi, drainase, kondisi tanah, iklim dan kelerengan. Oleh sebab itu perlu penataan untuk keberlanjutan pertumbuhan tanaman.  “Konservasi itu menciptakan keseragaman pertumbuhan tanaman merata mulai dari bagian atas lahan hingga ke bagian bawah lahan tanam, apalagi dipadukan dengan serba organik, ini sangat pas, namun hatus menjadi catatan  kopi yang ditanam secara organik, jika konservasi tidak diperhatikan, produksi bisa turun sampai 30%, sebaliknya jika konservasi dipelihara maka produksi akan naik ”katanya.  

Memperhatikan kondisi lahan konservasi yang dibangun tahun 2017 lalu, dihadapan 20 orang petani kopi, pihaknya menguraikan hal-hal yang harus segera diperbaiki, akibat kurang pemeliharaan selama dua tahun terakhir, yaitu;

  • Untuk teras yang sudah di tanami rumput perlu perawatan dengan pemangkasan rumput agar batu pada dinding teras tidak tertutup rumput penguat teras semuanya.
  • Untuk teras yang rumputnya mati/belum sempat tertanami agar segera ditanam ulang.
  • Saluran pembuangan air horizontal dan vertikal harus di rawat dengan cara menyiangi rumput dan mengangkat tanah yang menutup saluran.
  • Saluran pembuangan air yang sudah tidak berbentuk lagi akibat tertutup tanah, harus segera diroris atau dibentuk kembali.

Sebaliknya, umpan balik dari kelompok tani terkait manfaat konservasi disampaikan secara bergiliran.  Manfaat konservasi menurut ketua kelompok tani Tribakti “Usep” sangat banyak, yang paling dirasakan beliau pada aktivitas pemupukan. Dulu sebelum dikonservasi pupuk hanya dapat diserap tanaman sebesar 30% dari yang diaplikasikan, namun sekarang setelah lahan dikonservasi, pupuk mampu terserap 90%.

Sementara penuturan salah satu anggota kelompok Tribakti “Aris”, manfaat konservasi baginya yang beliau amati pada lahan pertanamannya adalah menjaga erosi/longsor, memperbaiki mikroba dalam tanah, mempertahankan pupuk dalam tanah, pertumbuhan tanaman makin membaik, misalnya daun makin tebal dan tidak mudah gugur, secara keseluruhan penampilan tanaman lebih sehat dan kekar, ucapnya.

Hal senada juga terucap dari beberapa anggota kelompok lainnya, mereka mengakui kalau konservasi lahan yang diedukasinya telah membawa dampak yang cukup besar, baik terhadap penyerapan pupuk, kelembaban mikro dilingkungan tanaman, produksi maupun ketahanan tanaman terhadap gangguan OPT dan iklim.

Mereka berharap agar aktivitas penerapan konservasi pada penataan lahan kopi difasilitasi pemerintah daerah kembali mengingat masih banyak anggota kelompok yang membutuhkan bantuan untuk pelaksanaan konservasi dimaksud. Harapan ini ingin diwujudkan segera mengingat kopi sedang membaik di pasar lokal dan mancanegara.

Sebagai penutup bimwas, Enjang berpesan bahwa semua manfaat yang sudah dirasakan harus dipertahankan dengan cara melakukan pemeliharaan teras dan rumput serta ditularkan pada anggota lain yang belum mengedukasi konservasi.  Pada intinya harus ada pola, bagaimana pelaksanaan teknisnya, bagaimana pemeliharaannya, bagaimana menularkannya pada anggota lain. “Kembangkan kaidah konservasi untuk semua jenis tanaman yang ditanam pada lahan miring (berlereng > 25%), ucapnya mengakhiri bimbingannya.(Siti Purnama)


Dibaca : 162 kali