KAB. GARUT – Bimbingan dan pengawasan (Bimwas) penataan dan pelestarian lahan perkebunan merupakan salah satu upaya untuk mengetahui dan melihat sejauh mana kaidah konservasi lahan diterapkan dan berkembang di lingkungan petani.  Ini menjadi agenda penting dalam pengelolaan lahan perkebunan sebab penataan dan pelestarian lahan melalui penerapan konservasi sudah seharusnya menjadi budaya keseharian petani dalam mengelola usaha taninya. 

Bimwas yang dihadiri anggota kelompok tani Karya Mandiri tersebut telah melakukan konservasi lahan tanaman kopi sejak  tahun 2017, dibawah bimbingan Enjang Sujitno yang difasilitasi Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat.  Menurut Uloh Sutarman sebagai ketua poktan,   penataan dan pelestarian lahan tersebut sangat bermanfaat dalam meningkatkan produksi tanaman. Hal ini diungkapkan beliau saat bimwas dilahan kopinya  di Desa Cikandang, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut pada hari Selasa (30/04/2019).

Menurut penuturan ketua kelompok yang beranggotakan 38 orang petani kopi tersebut, luas tanam kopi arabika di Desa Cikandang tercatat seluas 138 hektar dengan rincian 119 hektar pada lahan Perhutani dan 19 hektar pada lahan petani. Dengan adanya lahan seluas 138 hektar tersebut target dari penataan dan pelestarian lahan perkebunan berbasis konservasi lahan tentu harus seluas 138 hektar juga, padahal percontohan (demplot) konservasi yang dilakukan sebelumnya hanya berada pada 1 lokasi dengan luasan tidak lebih dari 1 hektar.  Uloh berharap suatu waktu Dinas Perkebunan Provinsi masih bisa memfasilitasi konservasi lahan kopi pada anggota kelompok lainnya.  Pihaknya menuturkan saat ini sudah cukup banyak petani yang mengedukasi  demplotnya terutama yang berada disekitar lokasi. 

Penataan dan pelestarian lahan memang tidak hanya berpatokan pada tanaman perkebunannya saja, akan tetapi bagaimana lahan tersebut dapat lestari dan berkelanjutan. Oleh karena itu penerapan kaidah konservasi pun tidak terbatas pada lahan milik petani saja, akan tetapi harus bisa diterapakan pada lokasi lainnya juga.

Berdasarakan hasil pengawasan, lokasi percontohan (demplot) penataan dan pelestarian lahan masih terjaga oleh petani, hal ini menunjukkan bahwa petani memiliki komitmen dalam melestarikan lahannya. Penuturan Enjang saat memberikan bimbingan, ada beberapa point yang menjadi perhatian dalam pemeliharaan konservasi antara lain; 1). Bagaimana saluran air dapat berfungsi dengan baik, 2). Pemanfaatan rumput sebagai penguat teras sekaligus pakan ternak.   

 “Penataan lahan memang menjadi kegiatan kelompok tani” ujar Uloh. Pernyataan tersebut menunnjukan adanya keselarasan antara kegiatan yang dilakukan oleh Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat dan Kelompok Tani Karya Mandiri. Lebih jauh Uloh menyatakan bahwa terjadi peningkatan serapan pupuk oleh tanaman kopi dari 40% menjadi 90% pada lahan yang telah dikonservasi, hal ini dapat dilihat dari pertumbuhan tanaman yang lebih baik. 

Menrut Enjang, konservasi lahan merupakan sebuah investasi, baik jangka pendek, menengah maupun panjang. Investasi jangka pendek yaitu adanya efisiensi pemberian pupuk, investasi jangka menengah adalah peningkatan produktivitas tanaman, dan investasi jangka panjang adalah kelestarian dan keberlanjutan lahan.

Lebih jauh konservasi lahan dapat menjaga keselarasan antara aspek  ekologi, ekonomi dan sosial. Aspek ekologi tentu saja kelestarian lahan dan lingkungan di wilayah petani dan wilayah bawahnya, aspek ekonomi dengan meningkatkanya produktivitas tanaman tentu akan meningkatkan pendapatan petani, dan aspek sosial adalah adanya keterpaduan antara petani dan peternak, dimana rumput dapat digunakan untuk pakan ternak dan kotoran ternak dapat dijadikan pupuk untuk tanaman.

Adanya manfaat yang dapat dirasakan secara langsung oleh petani dan lingkungannya tersebut diharapkan menjadi penyemangat dalam melakukan budidaya yang menerapkan kaidah-kaidah konservasi lahan. Pun demikian dengan demplot yang dilakukan harus menjadi contoh dan pemicu bagi petani mengenai bagaiamana konservasi lahan diterapkan dalam budidaya tanaman, ujar Enjang.

Semoga dengan adanya Bimwas ini petani dapat lebih memahami pentingnya penerapan konservasi lahan. Lebih lanjut petani harus bisa menjadi agen perubahan untuk lingkungannya, yaitu dengan mengembangkan (memperluas) lahan-lahan yang menerapkan kaidah-kaidah konservasi lahan. (Adi Firmansyah)


Dibaca : 191 kali