Bandung - 2 Mei 2019, Balai Perlindungan Perkebunan Jawa Barat melaksanakan sosialisasi kegiatan Demplot Pengendalian OPT pada Tanaman Kopi Robusta di Kelompok Tani Mitra Pasundan, Desa Lamajang, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Kegiatan tersebut dihadiri dari tim BPP yang dipimpin oleh Kepala Seksi Sarana Teknologi PHT Bapak M. Sopian Ansori, S.P., M.P., Petugas BPP Saepudin, Petugas Satuan Pelayanan Kabupaten Bandung Anindita Arsita P., S.P., Petugas Brigade Proteksi Tanaman Handi Noerhakim, SH. dan dihadiri oleh Kepala Seksi Perlindungan Tanaman Perkebunan, Dinas Pertanian, Bidang Perkebunan Kabupaten Bandung Bapak Aep Suradi Permana, S.P. dan Petugas Lapang Bapak Regar Laksana, S.P., beserta 25 orang anggota Kelompok Tani Mitra Pasundan.

Kegiatan ini bertujuan untuk membantu petani kopi robusta dalam permasalahan pengendalian OPT kopi robusta. Salah satu OPT utama pada OPT kopi robusta yaitu Hama Penggerek Buah Kopi (Hypothenemus hampei). Berdasarkan wawancara dengan petani, hama tersebut kerap menyerang buah kopi mereka. Buah kopi yang terserang menyebabkan penurunan produksi dan menurunkan kualitas kopi mereka. Produksi ceri kopi paling banyak dalam setahun rata-rata bisa mencapai satu ton, sedangkan produksi paling rendah dalam satu tahun seberat lima kwintal. KT Mitra Pasundan masih menjual kopinya dalam bentuk ceri (glondongan). Mereka menjual dengan harga Rp 3.500,00/kg. KT Mitra Pasundan awal membudidayakan kopi robusta pada tahun 2010 dan umur tanaman kopi mereka sekarang sudah sembilan tahun.

Sebelum memulai praktek pengamatan dan aplikasi APH cair, petani diberi paparan mengenai pengenalan Organisme Pengganggu Tumbuhan pada tanaman kopi dan tata cara pengamatan OPT kopi. OPT tersebut adalah OPT utama pada tanaman kopi diantaranya Penggerek Buah Kopi (Hypothenemus hampei), Karat daun kopi (Hemileia vastatrix), kutu hijau (Coccus viridis), Penggerek ranting/cabang (Zeuzera coffeae). Petani juga diajarkan cara memasang perangkap atraktan PBKo. Kemudian para petani melakukan praktek pengamatan OPT dan aplikasi APH cair jamur Trichoderma sp. Dosis APH cair tersebut sebanyak 20 mL/ 1 Liter air. Dalam kegiatan ini petani melakukan pengamatan OPT dan pengaplikasian APH cair setiap satu minggu sekali dan pengamatan PBKo yang terperangkap pada perangkap atraktan setiap dua minggu sekali.

Antusias petani cukup tinggi untuk lebih mengenal OPT kopi, pengamatan OPT kopi. Petani juga antusias ingin diajarkan cara membuat APH cair, karena APH cair (Bang Ali) dari BPP merupakan pestisida organik yang aman digunakan dan juga lebih praktis dalam penggunaannya. Semoga dengan adanya kegiatan ini petani dapat terbantu dan dapat menerapkan pengendalian OPT dengan cara Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu (PHT) supaya tidak merusak ekosistem sekitar.

 

Penulis : TIM BPP DISbun

Editor : MS Ansori


Dibaca : 422 kali