SUMEDANG-Implementasi metoda konservasi lahan vegetative dilaksanakan dengan menanam rumput penguat teras pada pinggir teras. Hal ini dapat memberikan banyak manfaat, antara lain;  menekan erosi  teras, menjadikan teras lebih stabil, memperbaiki kondisi bidang olah, sebagai filter sedimen, dan mendukung penyediaan pakan ternak  kata Enjang saat memberikan bimbingan dan pengawasan pada kelompok tani Garuda di Desa Ganjaresik, Kecamatan Wado Kabupaten Sumedang pada Kamis (9/5/2019).

Bimwas yang dihadiri 20 orang anggota kelompok tersebut, merupakan bentuk penyuluhan atas penataan dan pelestarian lahan kopi yang telah dibangun pada tahun 2017 lalu.  Menurut Enjang, sangat diperlukan pemeliharaan rutin teras bangku yang sudah dibuat, demikian pula dengan pemeliharaan rumput penguat teras, jangan sampai setelah dibuat didiamkan saja, lama kelamaan pasti rusak, katanya.

Memang biasanya lebih sulit melakukan pemeliharaan dari pada saat membangunnya, namun budaya inilah yang perlu dirobah. Banyak manfaat yang didapat dari teras dan rumput, misalnya  dari  rumput selain menekan erosi juga dapat mengurangi pengeluaran untuk membeli pakan ternak dari hasil pangkasannya, bahkan bisa mendatangkan uang jika hasil pangkasan rumput  dijual pada orang yang memiliki ternak domba atau sapi.

Selain rumput, ada beberapa tanaman yang cukup efektif dijadikan sebagai tanaman penguat teras, seperti legum semak/perdu sebagai sum-ber bahan organik dan pakan ternak (Flemingia congesta, Gliricideae sp., Calliandra sp.), dan tanaman buah-buahan (pisang, mangga, rambutan, dan lain-lain).  

Beberapa peneliti menyatakan dengan penanaman rumput pada tampingan dan bibir teras mampu menekan erosi.  Penanaman tanaman penguat teras pada tampingan teras dapat menekan erosi sebesar 38,4% - 66,2%.  Cukup signifikan untuk memberikan perbaikan unsur hara tanaman karena penurunan tingkat erosi akan memperbaiki tingkat kesuburan tanah, baik fisik, kimia, maupun biologi.

Penurunan kualitas lahan karena erosi merupakan  awal dari proses degradasi lahan yang dapat mengganggu ekosistem, mendorong  terbentuknya lahan kritis, dan memicu penurunan hasil tanaman. Rehabilitasi lahan yang terdegradasi membutuhkan waktu yang lama dengan biaya yang besar.

Berbagai penelitian teknik konservasi sudah banyak diteliti oleh para pakar konservasi tanah dan air, tentunya   untuk mengetahui tingkat  erosi, degradasi, kesuburan tanah, dan kandungan hara.  Ini artinya mempertegas betapa pentingnya meminimalisir terjadinya erosi tanah.

Menurut Enjang, banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi terjadinya   erosi, selain membuat terasering yang dipadukan dengan penanaman rumput pada tampingan dan bibir teras juga menjaga keberadaan saluran pembuangan air baik saluran teras/horizontal maupun saluran vertikal.  Alasan inilah membuat Enjang menekankan pada  kelompok tani Garuda untuk melakukan  perawatan  saluran air pada teras dan menggunakan pupuk organik diatas rata-rata untuk mengimbangi tingkat kesuburan tanah yang saat ini telah dinyatakan sangat miskin alias tidak subur.

Dia mengakui kondisi lahan terasering kelompok Garuda saat ini masih bagus, namun  butuh tahapan untuk  melangkah  lebih baik karena terasnya masih  utuh  tidak diratakan dengan tanah, rumput terpelihara dengan baik sehingga pertumbuhan dan tingginya sama rata.  Masalah pokok yang harus disempurnakan adalah, pemberian pupuk organik dengan volume diatas normal sebab tanahnya  telah tergolong miskin akibat  bekas lahan pertanaman singkong  selama  bertahun-tahun.

“Untuk 1 Ha dibutuhkan pupuk  kandang sebanyak 20 ton/ha, ingat bukan pupuk kandang mentah karena  masih panas, tanaman akan kering dan mati akibatnya, kata beliau”.    Mulai sekarang, hindarkan ubi kayu, tata dengan baik pola tanamnya jika terpaksa masih menanam ubi kayu, lanjutnya.

Menurut dia yang  prinsip perbaikan SPA, pengembalian pupuk organik, kalau  bisa  dibubuhi  serasan, agar dalam jangka waktu 2-3 tahun kesuburan tanah akan kembali baik lagi. Saluran air vertikal hrs diperhatikan juga, ucapnya.

Rido sebagai ketua kelompok Garuda mengeluhkan banyak anggota kelompoknya yang sudah mengadopsi teras bangkunya, kurang lebih seluas 5 Ha, namun berhunung penggunaan batu cukup mahal jadi para anggota hanya membuat teras dan menanam rumput pada bibir teras, memang sebagian masih ada yang belum menggunakan rumput, ujar nya .

Disisi berbeda, Enjang mengakui konservasi lahan dengan menggunakan batu memang sangat mahal untuk ukuran petani, akan tetapi  konservasi tidak harus  menggunakan batu yang  penting,  pengukuran konturnya  benar, cara membuat teras tepat,  SPA  dan BTA  harus tepat. Untuk pengukuran kontur harus menggunakan ilmu dan teknologi yaitu ondol-ondol,  perhatikan intervalnya per berapa meter, katanya.

Kalau  lahan ingin subur dan sehat kembali maka jangan menggunakan herbisida untuk menyiangi rumput, ucapnya pada Rido.  Harus  sering pertemuan dengan anggota kelompok  sosialisasikan cara  pemeliharaan lahan secara umum,  harus punya strategi karena merubah perilaku manusia tidak mudah, lanjut Enjang dihadapan Rido.

Di tempat lain sesaat setelah berbincang di lapangan, Kepala Bidang Perkebunan, Dinas Pertanian Kabupaten Sumedang dalam arahannya juga menyatakan dukungannya terhadap pemeliharaan lahan. “Tanah Priangan subur, topografi Sumedang bagus sehingga bisa dikembangkan berbagai komoditas. Jangan sampai tanah subuh malah dibuat jadi tandus, tanah subur pemberian alam harus dijaga”,  katanya penuh semangat.  Tanah subur yang sudah  tersedia jangan sampai dibiarkan jadi  kritis, tutupnya.

Sementara itu,  Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat “Dody Firman Nugraha” yang melakukan kunjungan secara terpisah  ke lahan terasering kelompok Garuda, menanyakan asal usul bibit kopi yang ditanam, tingkat kesuburan tanah yang terlihat sangat tandus dan juga kondisi beberapa tanaman kopi yang pertumbuhannya tidak optimal.

Dia juga berpesan agar dihindari menanam singkong pada lahan pertanaman kopi tersebut, karena sudah sangat kritis, unsur hara hampir tidak ada hal ini terlihat dari warna tanah, tekstur tanah dan juga tumbuhan yang tumbuh di atasnya, ujar Dody.

Pihaknya menyarankan agar pengembangan teras bangku semacam itu dilahan anggota kelompok tani, tidak usah menggunakan batu agar tidak mahal, namun jangan lupa tetap dilakukan penanaman rumput agar tidak terjadi erosi parit yang akan menggerus tanah.

“Lahan pengembangan anggota kelompok Ini sudah bagus, namun bibir terasnya belum semua tertutup rumput, akibatnya terjadi erosi yang membuat bidang olah bagian pinggir longsor. Coba lihat perbedaan lahan dengan bidang olah yang bibir terasnya  tanpa rumput dengan bibir teras yang ditanami rumput, katanya.

Hal ini diamini Enjang sebagai tenaga ahli konservasi. Pihaknya sependapat dengan Dody, harus secepatnya ditanami rumput minimal pada bibir teras dan jika memungkinkan pada tampingan teras agar agregat tanah lebih pageuh…ucapnya. (Siti Purnama)

 


Dibaca : 102 kali