Pangalengan- Guna merebut pangsa pasar, petani kopi di Kecamatan Pangalengan Kabupaten Bandung mengembangkan budaya usahatani kopi organik. Target produksi tahun ini 20 ton per Ha kata Moch Aleh saat ditemui di lahan kopi organiknya, di Kp. Panyindangan, Ds. Margamulya, Kec. Pangalengan pada Selasa (21 Mei 2019).

Menurutnya awal tahun implementasi pertanian organik, produksi menurun cukup drastis, namun kesuburan tanah dan perbaikan raga tanaman berangsur meningkat. Sebaliknya semakin lama produksi kopi mulai semakin meningkat, pada tahun 2018, pihaknya telah memperoleh hasil dalam bentuk Cerry (buah kopi merah) sebanyak 10 ton/Ha dengan populasi tanaman 2.000 pohon/Ha. Tahun 2019 ini beliau menargetkan produksi rata-rata 10 kg/pohon sehingga untuk luas 1 Ha akan dicapai 20 ton buah kopi merah (cerry).  

Ketua poktan Margamulya yang akrab disapa Aleh tersebut menuturkan pihaknya telah mendapat bimbingan  pengembangan kopi organik dari Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat sejak 5 tahun lalu. Dia mencoba mengembangkan kopi organik dengan pola dan konsepnya sendiri secara otodidak, namun sekitar tahun 2016 beliau mendapat fasilitas berupa bantuan domba dan bimbingan dari Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementan melalui Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat. Kini beliau telah mulai merasakan hasilnya, pupuk organik dari kotoran domba yang diolahnya sendiri menjadi sumber utama unsur hara tanaman kopinya. Target produksi yang dicita-citakan kini telah tercapai, lahan pertanaman kopi semakin subur dan performa tanaman tampak semakin sehat.

Saat ditemui di lokasi kebun, beliau sangat mengharapkan bimbingan dan fasilitas penyempurnaan metode konservasi tanah dan air yang telah dibuatnya karena masih terdapat beberapa teras, rorak dan saluran pembuangan air yang belum tepat teknik pembangunannya. Pada titik titik tertentu perlu membuat teras bangku dengan rumput penguat teras pada tampingan dan bibir teras untuk mengurangi erosi saat intensitas hujan cukup tinggi.

Berdasarkan penilaian kondisi saat ini (kesesuaian lahan aktual), tanaman kopi tersebut berada pada lahan Sesuai (Suitable) atau tergolong kelas kesesuaian lahan S2. Artinya lahan tersebut mempunyai pembatas-pembatas yang agak serius untuk mempertahankan tingkat pengelolaan yang harus diterapkan. Faktor pembatas yang ada akan mengurangi produktivitas lahan serta mengurangi tingkat keuntungan dan meningkatkan masukan yang diperlukan.

Faktor pembatas dominan yang dijumpai pada lahan kopi Aleh adalah temperature udara (tc), curah hujan (wa), tekstur tanah (rc), retensi hara (nr) dan kemiringan lereng (eh).  Khusus kemiringan lereng cukup variatif,  berkisar antara 10-25%, pada beberapa titik terdapat kemiringan 30%. Disinilah perlunya penerapan konservasi lahan berupa teras bangku agar setelah diadakan perbaikan (kesesuaian lahan potensial), lahan tidak mempunyai pembatas yang serius untuk menerapkan pengelolaan yang dibutuhkan atau hanya mempunyai pembatas yang tidak berarti dan tidak berpengaruh nyata terhadap produktivitas lahan serta tidak akan meningkatkan keperluan masukan yang telah biasa diberikan.

Memang dalam mengembangkan kopi organik tidaklah semudah kopi konvensional. Pasalnya, dibutuhkan konsistensi petani yang telah mendapatkan pembinaan dan pelatihan tentang pengelolaan kebun kopi organik, oleh sebab itu tugas yang tak kalah penting adalah mendampingi dan mengawasi mereka agar bertahan di organik.

Kelompok Tani Kopi Margamulya, Desa Margamulya, Kecamatan Pangalengan Kabupaten Bandung terpilih menjadi salah satu kelompok tani yang diikutsertakan dalam Program Pengembangan Desa Pertanian Organik. Kelompok tani yang dipimpin Aleh tersebut mengikuti proses sertifikasi secara Organik SNI, EU-ACT dan RA.   Sertifikat RA tentu memiliki aturan tambahan yang cukup berbeda dengan sertifikat lainnya, sertifikat RA lebih memperhatikan kondisi lingkungan, sosial, ekonomi, bahkan budaya masyarakat setempat.

Aleh dan anggota kelompoknya menargetkan peningkatan kopi organik sebesar 10 persen per tahun dengan penerapan sistem tanam perkopian dan perluasan area tanaman. Target dalam peningkatan produksi kopi organik, dengan melaksanakan perluasan lahan yang bebas dari pupuk berbahan kimia, penerapan Good Agricultural Practices (GAP) dan penerapan sistem jaminan mutu. Dia menjelaskan, sejauh ini pertumbuhan tanaman kopi organik di Kecamatan Pangalengan menunjukkan peningkatan yang signifikan, khusus pada lahan kopi organik yang dikelolanya dapat meningkat hingga 100 persen.

Menurut dia, penerapan sistem tanam kopi secara organik,  telah menyadarkan masyarakat petani  akan dampak yang ditimbulkan penyubur tanaman yang mengandung bahan kimia. Disamping itu, kopi organik mampu menjadi olahan produk yang dapat menembus pasar dalam dan luar daerah bahkan permintaan pasar duni sudah banyak, ujar Aleh.

Beliau punya prinsip, produksi kopi organik dapat tercapai dengan baik asalkan petani dapat menerapkan sistem tanam yang sesuai dengan aturan, selain itu bimbingan teknis yang diberikan pemerintah dapat dilaksanakan petani, sehingga peningkatan target panen dapat tercapai.

Kopi organik menjadi salah satu produk perkebunan Jawa Barat. Kebun kopi yang dikelola menggunakan pupuk organik pada tahun pertama hanya mampu menghasilkan 900 kg/Ha, paling tinggi 1 ton/Ha.  Jumlah tersebut secara perlahan menunjukkan peningkatan yang sangat menggembirakan petani, hingga kini data terakhir yang diperoleh dari petani kopi organik di Pangalengan, produksi buah / cerry rata-rata  mampu mencapai 20 ton/Ha (Siti Purnama).


Dibaca : 449 kali