JAKARTA – Sistem Informasi Peta Peruntukan Lahan Perkebunan atau yang dikenal dengan Si Perut Laper, masuk Top 99  Inovasi Pelayanan Publik Tahun 2019, yang  digelar oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN-RB) RI dalam rangka Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (KIPP).  “Ini prestasi yang membanggakan karena kompetisi yang diikuti lebih dari 1.300 peserta tersebut, Jawa Barat berada di Top 99” kata Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (Emil), saat mempresentasikan inovasi Pemprov Jabar itu menuju Top 45 dihadapan  tim panel independen di Ruang Rapat Sriwijaya I KemenPAN-RB, Jakarta, pada Senin (8/7/2019).

Emil mengatakan tanah Pasundan mempunyai lahan subur dan cocok untuk perkebunan, namun potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal. "Kami masih mendapati ada sampai 74 ribu hektare lahan 'nganggur.' Mengapa?  Karena petani bingung, tidak tahu mau menanam apa, jenis apa, laku apa tidak, akhirnya  lahannya dibiarkan dan terjadilah tanaman campur-campur  tidak bermanfaat. Melalui aplikasi si perut laper dan konsolidasi dengan masyrakat petani, akhirnya lahannya menjadi baik dan produktif.

Dua  tahun lalu  terdapat  90 % lahan tidak jelas dan tidak bermanfaat, lahan  yang benar-benar sesuai pemanfaatannya hanya 10%. Tahun depan minimal 50%  lahan  sudah   sesuai dengan tanaman yang tumbuh di atasnya, dan tahun berikutnya berkembang terus, sehingga lebih dominan  lahan yang  sesuai  dan  tidak ada lagi lahan bengong atau lahan nganggur. Hal ini  terjadi karena  Pemprov Jabar memberikan solusi dengan menghadirkan Si Perut Laper, agar tidak ada lagi masyarakat desa yang migrasi ke kota, sehingga   kesimpulannya tinggal di desa tapi rejeki kota, ucapnya.

Emil yang didampingi inovator (Siti Purnama) dan tim teknis (Dody Firman Nugraha) tersebut menuturkan, berkat Si Perut Laper, para petani dapat menyesuaikan jenis komoditas yang ditanam dengan kondisi lahan serta waktu penanaman. Pihaknya berharap link-and-match tersebut dapat meningkatkan produksi dan produktivitas sekaligus melestarikan lingkungan.

Menurut Emil,  nilai plus  Si Perut Laper  mampu memberikan solusi rekayasa faktor pembatas melalui rekomendasi pengelolaan lahan secara mekanik dan vegetative. "Informasi tersebut diharapkan dapat menjawab pertanyaan petani dalam memanfaatkan lahan secara optimal," ujar Emil.

Namun demikian, Emil juga mengakui masih ada petani Jawa Barat yang tidak melek digital. Untuk menyelesaikan persoalan tersebut, Pemprov Jawa Barat mengkombinasikan Si Perut Laper dengan program Desa Digital yang menjadi salah satu upaya gerakan membangun desa (Gerbang Desa).

Selain itu, Pemprov Jawa Barat menginstruksikan kepada para perangkat desa untuk menyampaikan informasi terkait penggunaan Si Perut Laper kepada para petani, atau warga desa, melalui infrastruktur digital yang ada di desa.  Emil pun menyatakan bahwa Si Perut Laper berkontribusi besar dalam mewujudkan misi Pemprov Jawa Barat, yakni Petani Juara.

 “Sebelum dan sesudah (aplikasi Si Perut Laper) sangat signifikan. Sebelumnya, tanah nganggur sekarang sangat bermanfaat, sebelumnya warga tidak ada kerjaan sekarang sibuk di kebun, sebelumnya lingkungan rusak, sekarang lebih baik,” katanya.  Ditinjau dari aspek sosial, ekonomi, dan budaya, kata dia, Si Perut Laper mampu membuka lapangan kerja, meningkatkan produksi dan mutu produk, dan pada akhirnya semua itu harus dipayungi dengan kekuatan hukum.

Emil mengatakan,  aplikasi ini bottom-up. Jadi, ada penyuluh desa terlibat, kepala desa terlibat, kepala dinas kabupaten terlibat, pebisnis, tidak hanya petani, bahkan nanti hasil kebunnya bisa juga dijual secara digital,” ucap Emil.

“Intinya dengan teori PENTAHELIX,  lima unsur kekuatan pembangunan di Jawa Barat, (unsur pemerintah, masyarakat atau komunitas, akademisi, pengusaha, dan media) bersatu membangun kebersamaan dalam pembangunan Jawa Barat.  Unsur pemerintah mempunyai political power untuk merumuskan sebuah kebijakan melalui keputusan, unsur  masyarakat atau komunitas menjadi  social power.  Akademisi, dengan kekuatan knowledge power menghadirkan ilmu yang bermanfaat membuat hidup ini lebih berfaedah,  pebisnis atau pengusaha dan media hadir memahami peran masing-masing untuk mewujudkan sila kelima. Keadilan sosial bagi seluruh warga Jawa Barat, sehingga dari si perut laper menjadi si perut kenyang artinya masyarakat Jawa Barat sudah sejahtera, tutup Emil. (Siti Purnama)


Dibaca : 90 kali