BANDUNG – Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat  adakan bimtek Jurnalistik penulisan berita dan artikel, Selasa  (23/07/2019),  di ruang rapat Lt II kantor Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat, Jl. Surapati no. 67 Kota Bandung. 

“Mengelola media sama halnya seperti mengelola warung, harus tau  siapa yang menjadi target sasaran agar menu yang akan disajikan bisa  disesuaikan dengan kebutuhan mereka” kata Sardi Duryatmo saat memberikan tips penulisan ilmiah popular pada  tim media Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat.  

Sardi menerangkan, menulis menjadi penting oleh karena itu bukan hanya sekedar tau objek yang ditulis tetapi harus mampu menyampaikan apa yang ditulis dengan mudah dan gamblang agar pesan sampai kepada pembaca. “Sebuah berita harus dideskripsikan, dapat dibandingkan atau terdapat komparasi yang menegaskan informasi yang disampaikan agar orang tau dan mampu membayangkan maksud berita tersebut”, katanya.  

Media perkebunan dan media lainnya berisi tulisan ilmiah populer, artinya  pembaca media sangat luas wilayah grografisnya, populasinya besar, maknanya heterogen, karakteristik sosial ekonominya berbeda-beda, pendidikannya beda-beda, oleh sebab itu kalau ada  istilah teknis pertanian dalam tulisan pemberitaan harus dijelaskan agar mereka bisa memahami dengan baik, papar Sardi.  

Beliau membuka rahasia atau kiat menulis yang baik dan benar agar tulisan lebih mudah dicerna, dipahami atau diterima pembaca. Menurut beliau 3 hal pokok ini harus dikuasai penulis:

  1. Pahami pag (news hook, story hook); alasannya apa berita itu harus ditulis, apakah menarik atau tidak.
  2. Mengapa perlu ditulis; mengapa tulisan itu harus disampaikan kepada pembaca/khalayak.
  3. News Value (Nilai Berita); tidak semua berita dapat dipublikasikan atau "layak muat' (fit to print, fit to broadcast). “Agar sebuah berita dapat dipublikasikan di media haruslah memenuhi karateristik atau   nilai- nilai berita", katanya.

Nilai berita digunakan untuk mengukur layak tidaknya suatu tulisan diangkat menjadi berita. Semakin tinggi nilai berita yang dikandung dalam sebuah peristiwa semakin kuat peristiwa tersebut diangkat sebagai berita. Sebaliknya, semakin rendah nilai beritanya semakin rendah pula peristiwa tersebut dianggkat sebagai berita. Jadi nilai berita menjadi tolak ukur layak atau tidaknya sebuah berita ditayangkan atau diterbitkan, ujarnya.

Sardi menguraikan, seorang penulis dituntut harus memahami karakteristik atau nilai berita.  Alat ukur yang berfungsi sebagai indikator menilai berita setidaknya unsur berikut: 

  1. Cepat, yaitu aktual atau ketepatan waktu. Berita adalah sesuatu yang baru (new).
  2. Nyata, yaitu informasi tentang sebuah fakta (fact) yang terdiri dari kejadian nyata, pendapat, dan pernyatan sumber berita.
  3. Penting, yaitu menyangkut kepentingan orang banyak.
  4. Menarik, yaitu mengundang orang untuk membaca berita yang kita tulis.
  5. peristiwa yang dekat dengan kalayak,
  6. berpengaruh terhadap hidup orang banyak atau dampak dari peristiwa itu ke masyarakat,
  7. melibatkan orang-orang terkenal atau ketokohan orang yang terlibat dalam peristiwa tersebut,
  8. menyangkut hal-hal luar biasa atau hal biasa tetapi menumbuhkan rasa simpati, empati, iba, atau menggugah, serta aktual dan baru terjadi.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa, sebuah berita dinyatakan sempurna dan layak tayang apabila telah memenuhi unsur-unsur berita yang dikenal dengan 5W+1H. Apa itu 5W+1H? Ini dia penjelasannya; What = Apa yang terjadi, Where = Di mana hal itu terjadi, When = Kapan peristiwa itu terjadi, Who = Siapa yang terlibat dalam kejadian itu, Why = Kenapa hal itu terjadi dan How = Bagaimana peristiwa itu terjadi, tuturnya.

Disamping itu harus dipahami pula, suatu berita memiliki struktur berita yang terdiri dari: Judul berita (Head), Teras berita (Lead) dan Isi berita (Body).  Judul berita harus ringkas (antara 3-5 kata), mencerminkan isi, menarik, dan sebaiknya berupa kalimat aktif yang terdiri dari Subjek + Predikat + Objek (SPO).  Teras berita adalah alinea atau paragraf pertama naskah berita setelah judul. Teras berita yang bagus tidak lebih dari 30-35 kata atau tiga barisan ketikan. Cara menulis  teras  berita antara lain menyusun unsur berita (5W+1H), terutama menempatkan unsur WHO dan WHAT di awal kalimat dan unsur WHEN dan WHERE di akhir kalimat. Unsur WHY dan HOW ditempatkan di tubuh berita (body), ucap Sardi.

Saat menulis berita yang baik dan benar,  harus memperhatikan etika menulis berita, yaitu  objektif berita, akurasi/akurat/tepat.  Tulisan berita harus faktual atau dituliskan berdasarkan fakta dan data yang benar- benar ditemukan dilapangan, lanjutnya.

Jangan sekali-kali menyucikan fakta, ucap beliau, artinya berita itu bukan produk sastrawi tetapi produk jurnalistik oleh sebab itu tidak boleh ada ruang untuk imajinasi atau opini pendapat penulis, yang harus ditulis adalah fakta di lapangan, jangan memainkan data.  Dengan demikian seorang wartawan dilarang melibatkan kepentingan pribadi, opini pribadi dan pandangan subyektif atas peristiwa, tegasnya.

Hal lain yang harus diperhatikan adalah penggunaan kalimat, lanjut Sardi. Makin sederhana kalimat yang digunakan semakin baik, jangan menggunakan kalimat majemuk bertingkat, cukup satu pokok kalimat dan satu sebutan kalimat. Keberadaan kata dalam kalimat harus bermakna oleh sebab itu kata yang tidak mengubah makna kalimat jika dihilangkan sebaiknya dibuang saja, tutur beliau.

Pihaknya mencontohkan, yang paling baik adalah 14 -17 kata dalam 1 kalimat  dan satu ide gagasan atau 1 pokok kalimat atau  1 alinea cukup berisi 4-5 kalimat.

Berantas lah kata-kata berkabut atau kata-kata yang tidak jelas maknanya. Gunakan kata kerja bukan kata sifat karena kata kerja lebih menjelaskan tindakan. Jika menggunakan kata sifat harus di deskripsikan agar mudah dipahami, karena  kata sifat hanya memberitahu tidak menggambarkan realita di lapangan, ucap Sardi.

Tisp lain yang cukup penting menurutnya adalah ekonomi kata artinya hemat kata, kata-kata yang tidak efektif atau tidak mengubah makna jangan digunakan atau lebih baik dibuang saja. Disamping itu kata-kata penat juga harus dicegah, maksudnya agar jangan terlalu sering mengulang kata yang sama dalam satu kalimat.

Berita harus menyentuh sisi kemanusiaan dan harus mampu memberi roh artinya fokus mengurai mengapa dan bagaimana informasi tersebut bisa muncul. Pilihan kalimat sebaiknya menggunakan kalimat aktif, predikatnya kata kerja. Hal penting berikutnya, harus bisa membangkitkan emosional yaitu menonjolkan dimana kelebihannya, baik positif maupun negatif.

Akhirnya terkait pada pilihan kata, ternyata harus menggunakan kata-kata yang sudah baku, hindari perumpamaan atau kata yang tidak lazim, tutupnya mengakhiri ulasan tips penulisannya sambil mengajak peserta untuk berexcercise penggunaan kata baku. Selamat mencoba memilih kata-kata baku dan selamat menulis berita atau artikel, tutupnya.


Dibaca : 74 kali