ARJASARI- “Untuk dapat menjamin adanya ketersediaan air baik di musim penghujan maupun musim kemarau (iklim tropis) diperlukan beberapa teknogi yang applicable dan hemat biaya karena petani lahan kering pada umumnya miskin”, kata Enjang saat melakukan sosialisasi konservasi lahan tembakau di Desa Ancol Mekar, Kecamatan Arjasari Kabupaten Bandung, Kamis (08/08/2019).

Menurut beliau, petani tembakau di Desa Ancol Mekar sangat membutuhkan bimbingan dan arahan dalam budidaya tanaman tembakau, khususnya teknik pengelolaan lahan dan air yang memiliki kemiringan lereng di atas 25 %.  Pasalnya  para petani tembakau mengaku bahwa kondisi lahan mereka sangat rentan terhadap erosi terutama erosi permukaan. Mereka mengeluhkan  pertumbuhan tanaman tembakaunya selalu kurang  optimal karena tingginya aliran permukaan sehingga membawa unsur hara dan pupuk hanyut ke bagian yang lebih rendah.

Sejalan dengan kondisi tersebut,  “Atja”, selaku ketua kelompok tani Tali Wargi mengatakan, “lahan telah diterasering, namun aliran air masih tetap tidak terkendali jika musim hujan, barangkali teknik dan cara yang kami lakukan kurang tepat”, katanya sambil berharap  anggota kelompoknya  diberi contoh cara mengelola lahan dengan ilmu teknologi konservasi yang tepat  agar pada musim tanam nanti  tanaman tembakaunya mampu berproduksi optimal.

Merujuk pada keluhan Atja tersebut, Enjang selaku tenaga ahli konservasi tanah dan air menjelaskan, beberapa penelitian konservasi tanah dan air telah dilakukan dan diujicobakan pada berbagai tempat untuk dapat memaksimalkan simpanan air hujan dan mengoptimalkan manfaat sumberdaya air terutama di musim kemarau.  Namun demikian teknologi konservasi tersebut bukan untuk perorangan akan tetapi untuk dipahami dan digunakan bersama dengan masyarakat atau petani lainnya dalam rangka menjaga kelestarian lingkungan.

Pihaknya mengatakan, tidak akan bermanfaat suatu konservasi jika hanya satu orang yang menerapkannya,   sementara petani disekelilingnya masih tidak mau menerapkan dengan ilmu atau teknologi yang tepat, tegas Enjang.    

Perlu dipahami, tujuan konservasi adalah  mewujudkan kelestarian sumberdaya alam hayati serta kesinambungan ekosistemnya sehingga dapat lebih mendukung upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, perlu dilakukan strategi dan juga pelaksananya, tutur beliau.

Di Jawa Barat, khususnya Dinas Perkebunan, telah membuat suatu strategi yang baik dimana kegiatan konservasi dilaksanakan secara bersama oleh pemerintah dan masyarakat, terutama  masayarakat petani, lembaga swadaya masayarakat, perguruan tinggi, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian  dan  pihak-pihak terkait lainnya.

Enjang mengatakan, metoda konservasi tidak dapat berdiri sendiri, namun harus terpadu antara mekanik (sipil teknis) dan vegetative, artinya pada saat membuat teras (mekanik) harus dibarengi dengan menanam rumput penguat teras (vegetative) pada bibir teras, inilah yang dimaksud dengan konservasi lahan terpadu.

Pihaknya menjelaskan, metode vegetatif lainnya  juga  dapat dilakukan dengan menanam berbagai jenis tanaman seperti tanaman penutup tanah, tanaman penguat teras, penanaman dalam strip, pergiliran tanaman serta penggunaan pupuk organik dan mulsa.

Telah terbukti bahwa pengelolaan tanah secara vegetatif dapat menjamin keberlangsungan keberadaan tanah dan air karena   memelihara kestabilan struktur tanah melalui sistem perakaran dengan memperbesar granulasi tanah, penutupan lahan oleh seresah dan tajuk mengurangi evaporasi.  Disamping itu dapat pula meningkatkan aktifitas mikroorganisme yang mengakibatkan peningkatan porositas tanah, sehingga memperbesar jumlah infiltrasi dan mencegah terjadinya erosi.  Fungsi lain dari pada vegetasi terutama  tanaman kehutanan  adalah memiliki nilai ekonomi sehingga dapat menambah penghasilan petani, kata beliau.

Pengolahan tanah secara mekanik atau sipil teknis  merupakan suatu metode konservasi dengan mengatur aliran permukaan sehingga tidak merusak lapisan olah tanah (Top Soil) yang bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman. Usaha konservasi dengan metode sipil teknis ini dapat dilakukan dengan cara  membuat bangunan-bangunan konservasi antara lain pengolahan tanah menurut kontur, pembuatan guludan, teras, dan saluran air (Saluran Pembuanga air, Terjunan dan Rorak), lanjut Enjang.

Cara membuat konservasi juga harus tepat teknik dan  tepat waktu. Artinya perlu diketahui kondisi dan kemiringan lahan yang dimiliki, sebab pengolahan tanahnya harus sesuai kontur, jika tidak dipahami, ini yang sering terjadi di kalangan petani “asal membuat teras, tidak tau ilmunya” sehingga tidak bermanfaat, bahkan malah makin merusak lahan karena teras yang dibuat justru memperbesar terjadinya erosi. Tepat waktu juga diperlukan, terkait dengan penanaman rumput penguat teras atau penanaman tanaman lainnya yang berfungsi sebagai penguat teras, jika dilakukan pada musim kering, sia-sia karena tidak akan tumbuh, malah rumput atau tanaman tersebut akan mati kekurangan air, ucapnya. 

Aktivitas lain yang termasuk dalam komponen teknologi konservasi  adalah pengembalian bahan organik, dan pemanfaatan mulsa.  Menurut pengalaman dan hasil penelitian mulsa yang paling baik adalah mulsa jerami dari pada mulsa plastik. Pemanfaatan mulsa ini harus dilakukan karena sangat baik dampaknya.  Perbandingan antara lahan yang ditutup mulsa dengan lahan yang tidak ditutup mulsa terasa berbeda pada iklim mikronya.  Jika diukur iklim mikronya  dengan thermometer, maka lahan yang menggunakan mulsa  paling suhunya 30 derajat sedangkan lahan yang tidak menggunakan  mulsa tidak kurang dari 36 derajat. Perbedaan suhunya cukup signifikan, sebesar  6 derajat, ini baru pengaruh  dari aspek suhu, belum aspek lainnya, tutur Enjang.

Beliau meyakini sebenarnya para petani sadar dan sudah bisa menerapkan konservasi, namun masih susah untuk melaksanakannya karena terlalu perhitungan dengan ekonomi, padahal sangat murah dan mudah. Pihaknya mengajak agar mulai dari sekarang anggota kelompok membuat kontur pada lahan masing-masing, untuk yang sudah membuat mungkin teknik dan ilmunya belum diterapkan sehingga kurang bermanfaat, oleh sebab itu perhatikan baik-baik  tahapan pembuatan kontur yang akan kita peragakan hari ini, ajak Enjang.

Langkah pertama yang harus dilakukan dalam membuat kontur, siapkan peralatan untuk membuat ondol-ondol lengkap dengan  waterpas. Gunakan waterpas untuk mengetahui tingkat kemiringan  dan interval vertikal bidang olah yang diinginkan, karena  teras atau sengkedan harus dibentuk  seragam.  Perlu diperhatikan, membuat kontur tidak semata-mata bagus dipandang mata karena mata juga suka menipu oleh karena itu yakinkan dengan menggunakan waterpas untuk membuat ondol-ondol atau bingkai A terlebih dahulu. Selanjutnya gunakan ondol-ondol untuk mengukur tinggi dan lebar teras, ujarnya sambil mengajak para petani untuk mempraktekkan di lahan ketua kelompok tani “Atja”.(SITI PURNAMA)


Dibaca : 193 kali