Kondisi Lapangan

Jawa Barat memiliki lahan yang subur dan cocok untuk usaha tani perkebunan. Berbagai komoditas perkebunan dapat tumbuh baik, mulai dari dataran rendah, dataran sedang sampai dengan dataran tinggi. Anugerah tersubut belum dapat termanfaatkan  petani dengan baik, sehingga produktivitas komoditas perkebunan yang ditanam  belum optimal.

Berdasarkan pengamatan di lapangan ditemui dua permasalahan mendasar yang selalu muncul di kalangan para petani yaitu  kesesuaian   lahan  dengan komoditas yang akan ditanam atau  kesesuaian  komoditas yang ingin ditanam dengan  lahan yang dimiliki.  Fenomena ini muncul karena produksi komoditas yang ditanam masih belum optimal, artinya masih bisa ditingkatkan.

Pengakuan “Aleh” sebagai ketua kelompok tani Tribakti di Desa Margamulya, Kecamatan Pangalengan Kabupaten Bandung, mayoritas petani tidak paham harus melakukan  tindakan apa  lagi untuk mengoptimalkan produksinya. Selama ini telah menggunakan pupuk tepat dosisi, tepat waktu dan tepat sasaran, menggunakan  bibit unggul bersertifikat, melakukan pengendalian OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) dan lain sebagainya, namun semua itu masih belum membuahkan hasil yang optimal. Terkadang ada petani yang mulai putus asa sehingga membiarkan lahannya terlantar, tidak diurus dan dirawat, alhasil produktivitas semakin menurun. Harga semakin memburuk dan lama kelamaan lahan dibiarkan menjadi semak belukar yang tidak berfungsi produksi, maka terjadilah lahan tidur dan lahan tidak produktif.

Menurut Aleh,  hampir tidak pernah terpikirkan tentang kesesuaian lahan, mengingat sejauh ini setiap komoditas yang ditanam tetap dapat tumbuh dan berproduksi, walau hasilnya belum seperti yang diharapkan. Apalagi menurut Aleh usaha tani bercocok tanam telah dilakukan secara turun temurun sejak dulu dan tidak ada yang mempersoalkan masalah kesesuaian lahan, maka pada  saat dijelaskan kepada beliau bahwa kesesuaian lahan itu menjadi syarat utama dalam penentuan komoditas yang akan di tanam pada lahan miliknya, barulah beliau paham dan sadar bahwa selama ini telah mengabaikan satu komponen penting dalam berusaha tani.

Inovasi Jadi Solusi  

Sistem Informasi Peta Peruntukan Lahan Perkebunan (Si Perut Laper)  yang tahun ini mendapat Top 45 dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara Reformasi dan Birokrasi (Kemenpan RB), merupakan inovasi  pelayanan publik khusus bidang perkebunan. Inovasi ini berperan penting dalam membantu petani perkebunan  untuk menentukan komoditas yang akan ditanam pada lahan miliknya agar mampu berproduksi secara optimal. Inovasi yang telah akrab di kalangan masyarakat selama setahun ini telah menghantarkan  petani bergairah kembali mengelola lahannya dengan baik sesuai anjuran Si Perut Laper. Alhasil tak disangka, banyak para petani yang mempunyai gagasan cemerlang dalam mengimplementasikan inovasi tersebut.   Haji Dinuri yang berprofesi sebagai petani kopi dan penangkar benih kopi, ternyata mengimplementasikan Si Perut Laper lebih dari yang diharapkan, selain pada lahan miliknya, beliau juga mensosialisakikan pada calon pembeli benih kopinya  dengan cara terlebih dahulu menanyakan lokasi tanam untuk benih yang akan dibelinya, jika rekomendasi Si Perut Laper sesuai maka beliau akan langsung melakukan transaksi namun jika kurang sesuai, maka Dinuri pun menyampaikan rekomendasi yang muncul dalam aplikasi Si Perut Laper sebagai perlakuan yang harus dilakukan calon pembeli benih agar benih kopinya mampu berproduksi optimal. Sungguhh luar biasa cerdas petani berkat adanya inovasi Si Perut Laper.  

Inovasi ini dirancang  tidak hanya bertujuan untuk optimalisasi lahan, namun lebih jauh dari itu, fungsi pelestarian lingkungan dan daya dukung lahan  menjadi tujuan jangka panjang yang akan menjamin keberlanjutan usaha tani para petani. Disisi lain melalui Si Perut Laper, petani  juga  bisa berkreasi menjadikan kebunnya  sebagai agrowisata yang merupakan wadah petani untuk mewujudkan penghasilan tambahan sesuai kebutuhan secara berkesinambungan. Sudah barang tentu agrowisata ini akan memberi dampak positif yang sangat besar karena menyentuh hingga ke level masyarakat paling bawah, sehingga akan berdampak pada konektivitas dan pertumbuhan ekonomi yang berujung pada terwujudnya kesejahteraan warga Jawa Barat.

Lahan Teh yang berfungsi Sebagai Agrowisata

Dampak Inovasi

Suatu inovasi dikatakan berhasil apabila memberikan dampak positif yang diakui oleh penggunanya.  Hasil Evaluasi selama satu tahun ini (sejak akhir tahun 2018 hingga saat ini) tercatat   dari  1.205 orang anggota kelompok tani kopi, sebanyak 862 orang atau 71,54% mengatakan sangat merasakan manfaat dari inovasi ini, terutama pada peningkatan produksi yang secara signifikan menambah pendapatannya. Alhasil terjadi perbaikan kehidupan dan kesejahteraan yang membuat petani semakin kreatif dalam menjalankan usaha taninya. 

Menurut pengakuan petani pada 10 kabupaten yang dikunjungi, terdapat peningkatan produktivitas sebesar 36-60%, peningkatan serapan pasar terhadap produk yang dihasilkan sebesar 64-1.000 kg, dan peningkatan pendapatan sebesar Rp. 11 juta hingga Rp. 128 juta per tahun. Dampaknya sungguh signifikan dalam perbaikan ekonomi petani, artinya ekonomi perdesaan semakin membaik dalam setahun ini. Pendapatan petani lebih terjamin kontinuitasnya, semakin meningkat dan merata yang pada akhirnya  berdampak pada  lingkungan masyarakat,  tidak ada lagi pencurian.

Dari aspek  lingkungan, petani merasakan pada musim kemarau tidak lagi mengalami kekurangan air, dan pada  musim hujan tidak pernah banjir dan longsor.  Sementara dampak yang dirasakan pada aspek sosial,  terjadi penurunan pengangguran bahkan dapat dibilang tidak ada pengangguran karena produksi meningkat sehingga membutuhkan lebih banyak tenaga kerja. 

Dari sisi serapan teknologi, menurut pengakuan Aleh, anggota kelompok tani yang tidak memiliki Hand Phon (HP) tetap bisa mengikuti kemajuan teknologi dengan adanya grup kelompok tani yang guyub.  Melalui grup ini para petani saling mengajari dan saling memberi informasi, sehingga anggota kelompok tani menjadi sama pintarnya terhadap kemajuan teknologi dan juga memahami adanya inovasi yang membantu kehidupannya.  Keberhasilan dan kemajuan pesat sangat dirasakan para petani  selama satu tahun belakangan ini.  

Kolaborasi Petani Juara untuk Jabar Juara

Salah satu kunci keberhasilan inovasi adalah terjalinnya kemitraan dan kolaborasi yang kondusif antar lembaga pemerintah, swasta, masyarakat dan stakeholder terkait.  Selain itu, azas manfaat antar pihak terlibat juga menjadi ruh yang harus ditumbuhkan sejak inovasi dimulai dengan maksud memperkuat keberhasilan. Pemetaan peran dan manfaat inovasi bagi seluruh stakeholders harus disepakati bersama agar kolaborasi berjalan tanpa hambatan.

Perbaikan perekonomian petani dan peningkatan kesejahteraannya menjadi cikal bakal petani juara untuk mewujudkan Jabar Juara. Oleh sebab itu diperlukan strategi yang terkonsep baik, inovasi pelayanan publik  yang menyentuh semua lapisan masyarakat  dan kolaborasi harmonis antara  pemerintah, masyarakat, akademisi, pengusaha dan media  yang bersifat terbuka bagi semua pengguna dan memberikan informasi yang   mudah dipahami dan dilaksanakan.  

Partisipasi semua pihak dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat khususnya petani bahwa profesi petani merupakan profesi yang elegan dan menjadi sebuah cara hidup untuk juara. (Siti Purnama)


Dibaca : 259 kali