Sejak zaman dulu pembangunan ekonomi Jawa Barat di topang oleh sub sektor perkebunan, salah satu komoditas andalan yang berperan penting dalam mendukung  gerakan roda perekonomian  masyarakat Jawa Barat   adalah kopi. Terdapat 2 jenis kopi yang tumbuh baik di Jawa Barat yaitu, kopi arabika dan kopi robusta. Di beberapa lokasi terdapat juga kopi liberika, namun dikalangan petani dan pelaku usaha kopi pamor nya tidak sebagus kopi arabika dan robusta.

Rata – rata kopi arabika ditanam pada ketinggian di atas 900 m dpl, bahkan khusus Kopi Arabika Java Preanger (KAJP) di dalam buku persyaratan Indikasi Geografis (IG) nya dinyatakan bahwa KAJP minimal ditanam pada ketinggian 1.000 m dpl.  Sudah barang tentu ketinggian tersebut berada pada perbukitan atau pegunungan dengan kemiringan lereng di atas 25%.  Kondisi topografi yang demikian selayaknya mendapat perhatian dan penanganan khusus jika digunakan sebagai kawasan budi daya, namun sejauh ini tidak  terdapat petani yang menerapkan  kaidah konservasi tanah dan alr.  Kondisi ini dapat  dibayangkan berapa besar aliran permukaan tanah yang terjadi dan berapa besar top soil tanah yang terkikis. 

Menurut UU No. 37/2014 tentang konservasi tanah dan air, harus dilakukan perlindungan fungsi tanah pada lahan, pemulihan fungsi tanah pada lahan, peningkatan fungsi tanah pada lahan dan pemeliharaan fungsi tanah pada lahan untuk menjaga dan mempertahankan kondisi lahan prima baik pada kawasan lindung maupun pada kawasan budi daya.  Telah diamanatkan pula bahwa metode yang dapat digunakan antara lain metode vegetative, agronomi, sipil teknis pembuatan bangunan konservasi tanah dan air, metode manajemen dan metode lain sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Berdasarkan pengamatan di lapangan dan pengakuan petani, terdata sebanyak 60% petani kopi mengeluhkan bahwa pupuk yang diberikan sebagai nutrisi tanaman kopi hanya mampu diserap sekitar 30%, sedangkan sisanya sebanyak 70% hanyut terbawa aliran permukaan.  Atas dasar ini muncul suatu ide membuat korsi pinter atau konservasi lahan kopi terpadu dengan  memadukan metode sipil teknis pembuatan bangunan konservasi tanah dan air dan metode vegetative.

Metode sipil teknis dilakukan dengan cara membuat teras bangku, sedangkan metode vegetative dilakukan dengan cara menanam rumput pada bibir teras bangku yang berfungsi sebagai penguat teras sehingga perpaduan ke dua metode ini menjadi lebih nyata dalam perlindungan dan pemulihan fungsi tanah pada lahan.

Teknologi yang diterapkan pada korsi pinter sangat sederhana, murah dan mudah dilakukan karena semuan bahan dan alat yang digunakan terdapat dilingkungan sekitar petani.  Alat-alat  yang diperlukan hanya berupa 4 lembar papan, 30 meter selang waterpas, palu, spidol, penggaris, pacul, tali rapia, ajir/patok dan klep. Sedangkan bahan yang diperlukan hanya berupa air untuk mengisi waterpas.

Ciri khas Korsi Pinter adalah “ONDOL-ONDOL” yaitu sebidang papan yang dibuat menyerupai alat ukur dengan bagian tengahnya dibubuhi waterpas.  Ondol-ondol berfungsi sebagai alat ukur pembentukan teras bangku, agar bentuk teras sesuai dengan kontur baik lebar bidang olah maupun tinggi teras.

Sebagai penguat teras digunakan rumput, yang ditanam pada bibir teras.  Berbagai jenis rumput yang bersifat sebagai penutup tanah dan memiliki akar kuat dapat digunakan, namum kebanyakan petani lebih suka menggunakan rumput odot   karena mempunyai palatabilitas yang cukup baik untuk digunakan sebagai pakan kambing atau pakan domba sebab rumput ini memiliki tekstur yang lebih lunak dari pada rumput gajah dan rumput raja. Rumput odot tidak berbulu seperti yang terdapat pada rumput gajah dan rumput raja.  Selain dapat digunakan sebagai makanan ternak, akar dari rumput ini sangat kuat untuk mencengkram agregat tanah, sehingga mampu menahan aliran permukaan.  Beberapa petani juga menggunakan rumput gajah karena lebih mudah didapat,  hal ini tidak menjadi masalah sebab fungsi ke dua jenis rumput, sama-sama mengurangi aliran permukaan.

Pada bagian dalam bidang olah dibuat Saluran Pembuangan Air (SPA) biasanya disebut SPA horizontal yang berfungsi untuk mengendalikan air atau aliran permukaan sehingga erosi tertahan. Pada beberapa tempat dibagian pinggir bidang olah dibuat SPA vertical searah kontur yang berfungsi mengurangi pukulan air yang jatuh dari SPA Horizontal.

Perpaduan konservasi lahan mekanik (teras bangku) dan vegetative (rumput penguat teras) ini telah nyata memberi banyak manfaat bagi petani pengguna.  Petani mengakui setelah menerapkan korsi pinter, terjadi peningkatan  serapan pupuk, yang semula hanya 30% kini meningkat menjadi 80%. Disamping itu terjadi juga peningkatan produktivitas sebesar 10%, peningkatan serapan pasar terhadap produk yang dihasilkan sebesar 59%, peningkatan pendapatan  sebesar  86%, hal ini  berkorelasi positif dengan mendorong terwujudnya peningkatan kesejahteraan petani.

Dampak positif lainnya terjadi pada sumber daya lahan dan lingkungan, minimnya aliran permukaan yang terjadi telah mendorong terwujudnya tujuan pembangunan berkelanjutan dan kelestarian lingkungan. 

Transfer teknologi konservasi lahan terpadu menjadi salah satu strategi dan inovasi dalam pelayanan publik yang berkaitan erat dengan pemanfaatan sumber daya alam spesifik lokasi dalam rangka menjaga kelestarian lingkungan untuk mewujudkan pertanian berkelanjutan (Ir. Siti Purnama, MP).


Dibaca : 93 kali