Kondisi cuaca dan iklim  Jawa Barat yang subur dan indah, memberikan keuntungan besar bagi masyarakat dalam memilih mata pencaharian yang digelutinya. Tak jarang dijumpai menggemari  mata pencaharian  bercocok tanam, baik tanaman pangan, palawija maupun  tanaman keras atau tanaman yang berumur tahunan (tanaman perkebunan).

Seperti pada usaha lainnya, dalam bercocok tanam juga para petani menemui beragam permasalah, antara lain tingginya serangan hama penyakit.  Pada tahun 2018 tercatat sebanyak 60% tanaman (teh, kopi, kelapa, kakao, karet, cengkeh, tebu, tembakau, vanili dan lada) di 14 kabupaten/kota terserang hama penyakit.  Sudah barang tentu kondisi ini menimbulkan kerugian secara ekonomi dan social sehingga para petani terpaksa mencari jalan pintas dengan melakukan pengendalian secara kimiawi karena diyakini bahwa bahan-bahan kimia memberikan reaksi cepat dan mudah dalam pelaksanaannya.

Maraknya penggunaan sarana produksi yang berbahan aktif kimia telah nyata terbukti dikalangan para petani, dan ini secara terang terangan merusak kesehatan dan lingkungan hidup.

Atas dasar inilah, muncul ide membuat aksi petani peduli perlindungan tanaman atau yang lebih dikenal dengan nama Aksi Tali Intan.  Adapun tujuan penerapan Aksi Tali Intan adalah untuk merubah pola pikir petani beralih dari cara kimiawi menjadi cara alami agar tercipta pertanian berkelanjutan.

Teknik yg diterapkan pada aksi tali intan sangat mudah, sederhana dan aman bagi petani, tanaman dan lingkungan. Setiap orang mampu melakukannya karena hanya bermodal kemauan dan keinginan untuk melestarikan lingkungan hidup. 

Ciri khas aksi tali intan  terletak pada teknik pengendalian hama penyakitnya, yang dilakukan dengan cara memungut hama penyakit setiap hari, lalu dikumpulkan pada kantong plastik  untuk dihitung dan dicatat jumlahnya sebagai laporan pada regu pengendali OPT (RPO), setiap satu bulan sekali RPO melakukan evaluasi terhadap kinerja para petani.   

Aksi pemungutan dihargai dengan memberi insentif bagi petani terbanyak mengumpulkan hama penyakit. Insentif ini berupa sarana produksi seperti pupuk organik atau bahan pengendali hayati yang diberikan setiap enam bulan sekali.

Pemungutan hama penyakit secara manual dan alami ini telah memberi banyak manfaat, seperti  terhindar dari kontaminasi bahan kimia, lahan semakin subur dan gembur, tanaman menjadi aman dikonsumsi  dan yang terpenting adalah   lingkungan hidup lestari.

Manfaat aksi tali intan, telah dirasakan oleh petani karena   mampu menurunkan serangan hama penyakit minimal sebanyak 4,12%/tahun.  

Disamping itu terjadi juga peningkatan produktivitas sebesar 8,56%, peningkatan serapan pasar terhadap produk yang dihasilkan sebesar 75,54%, peningkatan pendapatan petani sebesar  72,53%. Hal ini tentu akan mendorong terwujudnya peningkatan kesejahteraan petani, yang salah satu inidkatornya ditunjukkan oleh tingkat kepuasan petani terhadap Aksi Tali Intan sebesar 84%.

Dampak positif lainnya terjadi pada sumber daya lahan dan lingkungan.  Nihilnya penggunaan bahan kimia, telah mendorong perlindungan dan pelestarian lingkungan hidup dalam mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan. 

Transfer aksi tali intan  menjadi salah satu strategi dan inovasi dalam pelayanan publik yg berkaitan dengan pemanfaatan sumber daya alam, dalam rangka menjaga kelestarian lingkungan untuk mewujudkan perkebunan berkelanjutan (Ir. Siti Purnama, MP).


Dibaca : 51 kali