Tahukah anda apa yang membuat pertumbuhan dan perkembangan daun tanaman teh tidak maksimal? Jangan remehkan serangan penyakit cacar daun pada tanaman teh karena tanaman ini yang dikonsumsi adalah daunnya, jika daun banyak yang terserang penyakit cacar maka secara ekonomi kerugian telah berada di depan mata. Lantas apa yang harus dilakukan? Pahami hama penyakit penting yang selalu menyerang daun tanaman teh dan pahami cara pengendaliannya yang aman dan tidak menimbulkan resiko negative bagi kesehatan manusia.

Tergantung pada pestisida kimia? Jangan….. Mengapa? Sebab, banyak cara dan teknik yang bisa dilakukan tanpa merusak ekosistem di lingkungan tanaman sekaligus membuat tanaman lebih sehat dan  aman bagi penggunanya. 

Sebenarnya tanaman mengandung berbagai senyawa sekunder seperti alkaloid, terpenoid dan plavanoid  yang  berperan dalam interaksi antara tanaman dengan hama.  Secara alami, senyawa kimiawi ini bisa menjadi sistem pertahanan tanaman terhadap organisme pengganggu tanaman.

Saat ini penerapan teknologi pertanian berwawasan lingkungan menjadi pilihan petani, dan telah menjadi perhatian pemerintah melalui berbagai gerakan dan aksi.  Salah satu aksi yang cukup unik adalah AKSI TALI INTAN (Aksi Petani Peduli Perlindungan Tanaman).  Aksi ini mendorong munculnya motivasi dan semangat cinta alam dan lingkungan dalam diri petani.  Konsistensi dan kesinambungan tindakan dibutuhkan dalam keberhasilan Aksi Tali Intan, sebab teknik yang digunakan benar-benar sangat mudah dan mudah, hanya bermodal kemauan dan kesungguhan.

Aksi tali intan mengajarkan petani  menjaga alam sekitar dengan tidak menggunakan bahan-bahan kimia.  Potensi yang dimiliki petani terpacu untuk melestarikan lingkungan melalui kepedulian terhadap tanamannya. Pemerintah ambil bagian dalam memfasilitasi transfer teknologi kepada petani secara bertahap melalui pendampingan berkesinambungan sampai petani bisa mandiri.

Cacar daun teh yang disebabkan oleh jamur E. vexans dapat menurunkan produksi pucuk basah sampai 50 persen karena menyerang daun atau ranting yang masih muda.  Umumnya serangan terjadi pada pucuk peko, daun pertama, kedua dan ketiga.  Gejala awal terlihat bintik-bintik kecil tembus cahaya, kemudian bercak melebar dengan pusat tidak berwarna dibatasi oleh cincin berwarna hijau, lebih hijau dari sekelilingnya dan menonjol ke bawah. Pusat bercak menjadi coklat tua akhirnya mati sehingga terjadi lubang.

Penyakit tersebar melalui spora yang terbawa angin, serangga atau manusia.  Perkembangan penyakit dipengaruhi oleh kelembaban udara yang tinggi, angin, ketinggian lokasi kebun dan sifat tanaman. Oleh sebab itu aksi memetik daun yang terserang dan memasukkannya ke dalam kantong plastik merupakan tindakan yang sangat baik karena memutus kemungkinan berkembangnya spora di kebun akibat terbawa angina. 

Aksi ini dilakukan setiap hari sambil berjalan mengelilingi kebun sehingga multi fungsi bagi petani, disamping memperoleh udara yang sehat, olah raga dan juga melakukan tindakan perlindungan dan kepedulian terhadap tanaman teh.

Pemusnahan cacar daun teh  dengan cara konvensional merupakan pilihan yang tepat   mengingat cara tersebut lebih aman dibandingkan dengan cara meyemprotkan pestisida,  Jadi dipungut saja lebih aman.  Selain memungut Cacar Daun, jika terjadi serangan eksplosif, pengendalian dilakukan dengan  cara menyemprotkan pestisida hayati, yang diberikan kepada petani pungutan terbanyak.  Langkah tersebut sudah terbukti memberi dampak positif bagi petani teh.  Daun semakin subur dan sehat, produksi daun meningkat, agroekosistem sekitar tanaman berada dalam siklus keseimbangan. 

Inovasi yang murah mendatangkan hasil yang tinggi.  Komitmen, kemauan dan tekat mampu dihadirkan melalui strategi pelayanan prima. Strategi dan inovasi semacam inilah yang diharapkan mampu tergali dan berkembang dilingkungan petani atau masyarakat. Input produksi yang murah dan mudah mampu mendatangkan output produksi yang tinggi dan mahal sehingga pemerintah tidak terbebani. (Ir. Siti Purnama, MP.)13/01/2020.


Dibaca : 59 kali