Setiap musim penghujan tiba, terkesan banyak informasi tentang terjadinya tanah longsor terutama di daerah-daerah perbukitan dan kawasan pegunungan, fenomena ini  tidak jarang merenggut korban jiwa dan harta benda.   Pada kenyataannya memang lahan pegunungan dan perbukitan merupakan kawasan pertanian dan perkebunan yang produktif, kerapkali dimanfaatkan oleh masyarakat untuk bercocok tanam  berbagai macam tanaman terutama hortikultura, perkebunan dan tanaman pangan untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari guna menopang ekonomi keluarga.  

Sebenarnya aktivitas bercocok tanam tidak dilarang pada kawasan perbukitan dan pegunungan asalkan memperhatikan prinsip konservasi tanah dan air, mengingat wilayah tersebut sangat rentan terhadap longsor dan erosi. Yang terpenting dan perlu diwaspadai adalah bagaimana menggerakkan dan memotivasi petani agar dalam budidaya di daerah lahan pegunungan tidak melupakan kaidah-kaidah konservasi tanah dan air.

Prinsip Korsi Pinter

Kopi salah satu komoditas strategis Jawa Barat, kebanyakan di tanam pada daerah pegunungan karena kopi tumbuh baik pada ketinggian >900 mDpl.  Konservasi tanah dan air sangat diperlukan dalam budidaya tanaman kopi  terutama yang berlokasi di wilayah pegunungan atau perbukitan karena curah hujan tidak dapat seluruhnya masuk ke dalam tanah, namun   air hujan  cenderung lebih banyak mengalir di atas permukaan tanah dan terbawa arus kebagian yang lebih rendah sehingga menyebabkan terjadinya erosi.

Konservasi tanah dirancang untuk penempatan setiap bidang tanah melalui cara penggunaan yang sesuai dengan kemampuannya dan memperlakukannya sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar tidak terjadi kerusaka. Konservasi tanah juga menjadi  serangkaian strategi pengaturan untuk mencegah terjadinya erosi tanah dari permukaan bumi atau terjadi perubahan secara kimiawi atau biologi akibat penggunaan yang berlebihan.

Konservasi tanah  sangat erat kaitannya dengan konservasi air karena setiap perlakuan yang diberikan pada  sebidang tanah akan mempengaruhi tata air pada tempat tersebut dan tempat-tempat lain yang dialirinya, oleh sebab itu tindakan konservasi tanah tak dapat dipisahkan dengan tindakan konservasi air.

Hal ini dapat dipahami karena sumber daya utama ini baik tanah maupun air mudah mengalami kerusakan atau degradasi, sehingga jika terjadi kerusakan pada kedua sumber daya alam tersebut  maka akan berdampak pada penurunan tingkat produktivitas.

 

Faktor - faktor yang menyebabkan terjadinya kerusakan atau degradasi sumber daya utama tersebut (tanah dan air) antara lain :

  1. Kehilangan unsur hara akibat terbawa erosi dan ini akan menyebabkan menurunnya kesuburan tanah,
  2. Salinitas dan penjenuhan tanah oleh air,
  3. Hilangnya atau terkikisnya tanah dan bagian-bagian tanah dari suatu tempat yang diangkut oleh air ke tempat lain.

Berdasarkan hal tersebut, maka diperlukan suatu usaha untuk tetap menjaga kestabilan tanah dan air yaitu melalui konservasi tanah dan air, sehingga kerugian-kerugian yang diakibatkan baik secara teknis maupun  kerugian secara ekonomis dapat diminimalisir.  Merujuk pada kerugian yang diakibatkan degradasi tersebut maka  prinsip-prinsip konservasi tanah debedakan atas prinsip yang meliputi aspek teknis dan prinsip yang meiputi aspek ekonomis.

Prinsip dari aspek teknis;

  1. Tindakan konservasi yang akan dilakukan harus cocok untuk kondisi biofisik setempat.
  2. Kegiatan konservasi harus mampu meningkatkan penutupan permukaan tanah, misalnya melalui penggunaan mulsa/seresah dan peningkatan kanopi (tajuk) tanaman untuk mengurangi pukulan butiran air hujan pada permukaan tanah.
  3. Mencegah terkonsentrasinya air aliran permukaan, khususnya di daerah dengan tanah yang peka erosi alur (riil erosion) dan erosi jurang (gully erosion).
  4. Untuk daerah beriklim kering, kegiatan konservasi terutama ditujukan untuk meningkatkan simpanan air tanah melalui peningkatan kapasitas infiltrasi dan simpanan air di permukaan tanah melalui pembuatan sumur resapan, rorak atau embung penampung air.
  5. Sisa tanaman perlu dikembalikan ke permukaan tanah baik secara langsung dalam bentuk mulsa maupun secara tidak langsung dalam bentuk pupuk kandang atau kompos.
  6. Perlu dilakukan usaha untuk meningkatkan dan mempertahankan kandungan bahan organik di dalam tanah, karena bahan organik penting untuk pengaturan peredaran air dan udara dalam tanah serta untuk memperbaiki struktur tanah.
  7. Konservasi tanah harus diintegrasikan di dalam sistem budidaya tanaman yang ada serta kebiasaan yang ada pada petani.
  8. Tindakan konservasi yang dilakukan bersama-sama dalam suatu hamparan akan lebih efektif dibandingkan dengan tindakan yang dilakukan secara terpencar-pencar.  

Prinsip dari aspek ekonomis;

  1. Tindakan konservasi tanah harus cocok untuk keadaan sosial ekonomi setempat, misalnya tindakan konservasi yang  memberikan keuntungan jangka pendek dalam bentuk peningkatan hasil panen dan peningkatan pendapatan.
  2. Petani pemilik cenderung lebih cepat mengadopsi teknologi konservasi dibandingkan petani yang bukan pemilik lahan.
  3. Kemungkinan petani perlu biaya kredit untuk melakukan konservasi tanah, terutama untuk kegiatan yang manfaatnya tidak dapat dinikmati langsung oleh petani.
  4. Untuk petani miskin harus diintroduksikan (diperkenalkan) tindakan konservasi tanah yang murah dan mudah dilakukan.
  5. Tindakan yang efektivitasnya sedang tetapi dapat diterima petani lebih baik dikembangkan daripada tindakan yang sangat efektif namun tidak diterima petani.
  6. Petani yang sudah memahami dampak erosi terhadap lahannya biasanya akan lebih tertarik untuk melakukan tindakan konservasi tanah dari pada petani yang belum tahu atau tidak merasakan pengaruh dari erosi.
  7. Kegiatan konservasi yang akan diterapkan seharusnya dipilih oleh petani bersama-sama dengan penyuluh yang bertindak sebagai fasilitator.

Konservasi Lahan Kopi Melalui Terasering

Budidaya komoditas kopi di lahan pegunungan, secara nyata pasti menghadapi faktor pembatas biofisik   seperti lereng yang relatif curam, kepekaan tanah terhadap longsor dan erosi, curah hujan yang relatif tinggi dan lain-lain. Kesalahan dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya lahan di daerah pegunungan dapat menimbulkan kerusakan berupa degradasi kesuburan tanah dan ketersediaan air, yang dampaknya tidak hanya dirasakan oleh masyarakat di lahan pegunungan tetapi juga akan dinikmati oleh masyarakat didatara rendah.

Penerapan  pengelolaan lahan pegunungan yang tepat guna dan tepat sasaran melalui teknologi sistem usahatani konservasi, disinyalir dapat memberikan keuntungan secara ekonomi dan melindungi lingkungan secara simultan sehingga pembangunan perkebunan dan pembangunan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan dapat terwujud. 

Teras adalah   bangunan konservasi tanah dan air secara mekanis yang dibuat untuk memperpendek panjang lereng dan atau memperkecil kemiringan lereng dengan jalan penggalian dan pengurugan tanah melintang lereng. Tujuan pembuatan teras adalah untuk mengurangi kecepatan aliran permukaan (run off) dan memperbesar peresapan air, sehingga kehilangan tanah berkurang. Teras berfungsi mengurangi panjang lereng dan menahan air, sehingga mengurangi kecepatan dan jumlah aliran permukaan, dan memungkinkan penyerapan air oleh tanah. Dengan demikian erosi berkurang.  

Terasering adalah penanaman dengan membuat teras-teras yang dilakukan untuk mengurangi panjang lereng dan menahan atau memperkecil aliran permukaan agar air dapat meresap ke dalam tanah.  

Sebelum tahun  2017 sebanyak 60 % petani kopi arabika di Jawa Barat, mengeluh  masalah  efisiensi penggunaan pupuk, yang mereka rasakan adalah dari 1 kg pupuk yang diberikan  pada tanaman kopi, hanya 30 % yang mampu diserap tanaman, sedangkan 70% hilang  terbawa erosi tanah. Sebagai solusi permasalahan tersebut, Dinas Perkebunan mencoba membuat suatu gagasan dan merancang perpaduan konservasi teras bangku dan rumput penguat teras.  

Manfaat yang dirasakan petani setelah membuat konservasi tanah melalui terasering dan rumput penguat teras, yang sangat menonjol selama ini  diketahui dapat;

  1. Mengurangi kecepatan aliran permukaan sehingga daya kikis terhadap tanah dan erosi diperkecil,
  2. Memperbesar peresapan air ke dalam tanah,
  3. Mengendalikan kecepatan arah aliran permukaan menuju ke tempat yang lebih rendah secara aman.
  4. Memanfaatkan proses ekologis alami untuk mempertahankan kelembaban, meningkatkan kesuburan tanah, memperkuat struktur tanah, dan mengurangi keberadaan hama penyakit.

Akhir Tahun 2019 penyerapan pupuk telah meningkat menjadi 80 %  di 10 lokasi percontohan,  ini membuktikan  erosi tanah terkendali, degradasi lahan terhindarkan dan kelestarian lingkungan hidup terjaga.  Diharapkan awal tahun 2020 pupuk yang diberikan telah mampu diserap tanaman sampai 100%. Secara signifikan, kini petani kopi merasa lega dan keluhan permasalahan penyerapan pupuk telah menurun menjadi 20%. (Ir. Siti Purnama, MP/26-12-2019)


Dibaca : 180 kali