Bandung, 27 Juli 2020. Di tengah Pandemi Covid-19, pemerintah mengharapkan sektor pertanian tetap bergerak. Petani baik pangan, hortikultura, perkebunan tetap melaksanakan usaha taninya. Petani perkebunan yang umumnya didominasi tanaman tahunan tetap merawat tanamannya, dengan harapan memberikan pendapatan memadai ditengah pandemi Covid-19 ini. Termasuk petani cengkeh yang saat ini sedang memasuki panen raya. Hanya panen raya tidak mendatangkan kegembiraan bagi petani tetapi malah merana karena harga turun dari sebelumnya Rp120.000/kg menjadi Rp60.000/kg.

Menurut DR. A.M Dahlan Said , Ketua Asosiasi Petani Cengkeh Indonesia, pabrik rokok hanya bersedia membeli cengkeh dengan harga Rp60.000/kg. Alasannya menyesuaikan dengan harga dunia. Kalau petani tidak mau menjual dengan harga Rp60.000/kg mereka memilih impor. Asosiasi Petani Cengkeh Indonesia sudah menghadap Menteri Perdagangan supaya pemerintah tidak mengizinkan impor cengkeh oleh pabrik rokok. Tetapi Mendag menolak dengan alasan Presiden Jokowi sudah menginstruksikan supaya setiap hambatan yang membuat bisnis tidak efisien harus dicabut. Pabrik rokok kalau lebih efisien menggunakan cengkeh impor harus diijinkan, tidak boleh ada larangan impor. Dahlan juga sudah menghadap Menteri Pertanian. Mentan hanya bertanya berapa harga yang diinginkan petani. “Bagi kami harga Rp80.000/kg sudah bagus, ada margin walau tipis. Biaya produksi tertinggi adalah biaya panen. Bunga cengkeh harus dipetik manual dan karena pohonnya sudah tinggi harus memakai tangga. Hal ini menyebabkan biaya panen tinggi,” katanya.

Buku statistik cengkeh 2018-2020 yang diterbitkan Ditjenbun menyebutkan luas areal cengkeh tahun 2018 mencapai 569.052 ha, terdiri dari perkebunan rakyat 560.342 ha, perkebunan besar negara 2.285 ha dan perkebunan besar swasta 6.425 ha. Jelas sekali cengkeh didominasi perkebunan rakyat yaitu 98,41% dengan jumlah petani 1.046.302 orang. Produksi 131.014 ton terdiri dari perkebunan rakyat 132.811 ton, perkebunan besar negara 446 ton, dan 1.461 ton. Produktivitas rata-rata 400 kg. Ekspor tahun 2018 20.246 ton dengan nilai USD101.766 ribu, sedang impor 13.733 ton dengan nilai USD105.650 ribu. Cengkeh ditanam di seluruh Indonesia kecuali di Kalimantan Tengah dan Riau. Provinsi dengan luas areal terbesar adalah Sulawesi Utara 75.665 ha, Sulawesi Tengah 74.676 ha, Sulawesi Selatan 63.074 ha, Jawa Timur 44.442 ha, Maluku 44.435 ha, Jawa Tengah 41.294 ha, Jawa Barat 36.566 ha dan Sulawesi Tenggara 31. 588 ha. Dari sisi produksi yang paling tinggi adalah Maluku 20.001 ton, kemudian Sulawesi Selatan 19.869 ton, Sulawesi Tengah 15.575 ton, Sulawesi Tenggara 13.237 ton, Jawa Timur 10.312 ton, Sulawesi Utara 4.548 ton, Jawa Barat 7.931 ton, Jawa Tengah 7.451 ton, Aceh 5.315 ton dan Maluku Utara 4.225 ton.

 

Sumber : http://mediaperkebunan.id


Dibaca : 393 kali