Kontribusi komoditas perkebunan terhadap ekspor komoditas pertanian Indonesia sebesar 91,4% (Warta Ekonomi, 2019). Hal tersebut tidak terlepas dari peran benih dalam sistem budidaya tanaman. Namun masyarakat sulit memperoleh benih bersertifikat, tanaman tua rusak mencapai 4.824,75 Ha dari areal seluas 5.639,817 Ha /85,54% (Statistikbun Jabar, 2018), berakibat produktivitas rendah rata-rata hanya 44% (850 kg/ha), membutuhkan biaya untuk penyediaan benih sebesar Rp391.388.269.345,- Jika seluruhnya mengandalkan bantuan pemerintah tidak mungkin dapat dicapai kebutuhan pekebun akan benih, padahal benih menjadi salah satu variable produksi yang sangat menentukan keberhasilan tanaman dalam mencapai tingkat produksi dan produktivitas yang maksimal. Dengan benih swadaya petani masih banyak yang menggunakan benih asalan (kongkoak) yang diambil dari kebun produksi yang tidak jelas asal usulnya yang berakibat stamina tanaman menjadi lemah mudah terserang hama penyakit, produksi rendah dan umur tanaman menjadi lebih pendek dibandingkan dengan benih bersertifikat yang berasal dari kebun sumber benih yang telah ditetapkan sebagai kebun sumber benih. 


Diawali dari masalah rendahnya produktivitas kebun petani yang rata-rata baru mencapai 42% dari standar optimal 2 ton/ha, di antaranya disebabkan oleh tanaman yang sudah tua dan rusak serta penanganan teknis budidaya yang tidak sesuai dengan Good Agricutural Practicies (GAP). Setelah dikaji bahwa pekebun perlu benih yang berkualitas baik bersertifikat untuk mengganti tanaman yang tua dan rusak sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian R.I. Nomor 50/Permentan/KB.020/9/2015 tentang produksi, sertifikasi, peredaran dan pengawasan benih tanaman perkebunan. https://drive.google.com/open?id=1qELNC_C4z8UiXVlbaENrdP-FkSnIU-j2

Awalnya pekebun hanya menggunakan benih berasal dari kebun produksinya sendiri yang sebelumnya tidak jelas asal usulnya, padahal benih itu harus berasal dari kebun khusus sebagai sumber benih yang dapat dijamin varietas kualitasnya dan telah ditetapkan sebagai kebun sumber benih oleh Keputusan Menteri Pertanian, sedangkan benih yang tidak jelas asal usulnya tidak dapat disertifikat dan tidak dijamin menghasilkan tanaman yang tahan serangan hama penyakit dan tidak dijamin menghasilkan produktivitas secara optimal.

Bantuan benih kopi arabika kepada pekebun dari APBD Jawa Barat secara masif telah dilakukan sejak tahun 2014 sebanyak 1.000.000 batang, tahun 2015 sebanyak 2.000.000 batang, tahun 2016 sebanyak 2.000.000, tahun 2017 sebanyak 5.000.000 batang dan tahun 2018 sebanyak 2.000.000 batang sehingga seluruhnya berjumlah 12.000.000 batang benih yang didistribusikan kepada pekebun di Jawa Barat. https://sites.google.com/view/sibulubabeh/beranda

Tahun 2020 terdapat kegiatan penyediaan benih unggul kopi sebanyak 5 juta batang untuk pengembangan kawasan kopi di Jawa Barat sehingga perlu dilakukan peningkatan teknik pengelola kopi dari hulu sampai hilir dalam upaya pengembangan kopi juara.

Penyediaan benih unggul kopi dilakukan secara swakelola yang telah dikenal secara umum dengan sebutan pembenihan kopi java preanger unggul bersertifikat. Pembenihan dilakukan di kebun dinas milik Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang dikelola Dinas Perkebunan, dan di lokasi lain yang dilaksanakan bersama-sama kelompok tani penangkar (produsen benih) sebagai salah satu bentuk pemberdayaan pekebun yang tersebar di 26 lokasi yaitu Kota Bandung (1 titik), Kabupaten Bandung (4 titik), Bandung Barat (2 titik), Garut 6 titik), Tasikmalaya (1 titik), Ciamis (1 titik), Sumedang (4 titik), Subang (1 titik), Cianjur (2 titik).

Pada Tahun 2020 pembenihan telah dimulai sejak bulan Maret 2020 dan akan siap salur mulai bulan Oktober-Desember 2020. Benih (biji) berasal dari kebun sumber benih kopi yang telah ditetapkan sesuai dengan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 50/Permentan/KB.020/9/2015 tentang produksi, sertifikasi, peredaran dan pengawasan benih tanaman perkebunan.

Setiap lokasi pembenihan mendapatkan target alokasi pembenihan 100.000 s.d. 350.000 benih, secara keseluruhan berjumlah 5.000.000 benih. Namun ada pengurangan pembiayaan karena wabah Covid-19 targetnya berkurang menjadi 3.000.000 benih. Meskipun demikian kelompok tani penangkar benih sanggup melakukan swadaya sehingga outputnya bisa lebih dari 3.000.000 batang.

Sejak ada program khusus bantuan benih Tahun 2014-2018 telah diproduksi benih kopi sebanyak 12.000.000 batang untuk pengembangan kopi seluas 8.000 ha, semuanya telah terpetakan jelas by name by adress dengan memperhatikan kesesuaian lahan, sehingga dapat diprediksi tingkat produktivitasnya dari hasil bantuan benih tersebut, dan sebagian besar lebih menyentuh kelompok kelompok masyarakat berpenghasilan rendah di peloksok pedesaan. Yang tidak kalah pentingnya adalah pembinaan kepada kelompok tani penerima bantuan dalam pelaksanaan teknis budidaya tanaman yang baik untuk menjamin agar tanaman terpelihara dan menghasilkan produksi yang maksimal, cara panen dan pasca panen pengolahan hasil) yang baik, hal itu untuk menjamin agar penghasilan kelompok tani terus meningkat sehingga pertumbuhan ekonomi terus berkembang dan menyerap tenaga kerja dengan memperhatikan daya dukung lingkungan kebun yang terus terjaga kelestariannya.


Kelompok tani tertentu yang memenuhi kelayakan teknis tertentu juga difasilitasi dengan Unit Pengolah Hasil untuk meningkatkan nilai tambah produk kopi yang dihasilkan dari kebunnya, sehingga dapat terus tumbuh berkembangkan ke arah usaha yang lebih besar dalam wadah koperasi kelompok tani atau perusahaan seperti CV. Malabar dari Kelompok Tani Rahayu di Pangalengan Bandung Jawa Barat.


Peningkatan pendapatan dari produksi benih dengan rata-rata penghasilan dari penjualan benih ada yang mencapai omzet 29 M per tahun di Kelompok Tani Rahayu Pangalengan Kabupaten Bandung, peningkatan keterampilan di bidang pembenihan sebanyak 130 Kelompok Penangkar Benih dengan rata-rata anggota 25 orang (3.250 KK) termasuk peningkatan keterampilan teknis budidaya berbagai komoditas perkebunan, keterampilan panen yang saat ini 80% telah melakukan panen kopi masak merah dan selektif, dapat melakukan pengolahan minimal 60% sampai menjadi berasan kopi (green bean) bahkan 30% telah diolah menjadi roasted bean (sangria) dengan alat mesin yang modern, dan telah sanggup melakukan pemasaran sendiri sampai eksport seperti Mahkota Kopi Garut, Malabar Kopi Pangalengan Kabupaten Bandung, Gunung Tilu Kopi Pangalengan Bandung, Koperasi Kopi Java Preanger Sindangkerta Bandung Barat, Wanoja Kopi Ibun Bandung, Palasari Manglayang Kopi Bandung.  

Hasil evaluasi pembenihan telah memperlihatkan dampaknya pada tingkat kemajuan kelompok tani penerima bantuan benih sejak Tahun 2014-2020:
1. Seberapa besar prosentase pertumbuhan benih di masing-masing kelompok tani
2. Perkembangan jumlah dan kualitas produksi dan produktivitas tanaman.
3. Pendapatan petani/kelompok tani dari hasil produksi tanaman.
4. Pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja di seputar kelompok tani
dalam usaha kopi.

Dari indikator-indikator tersebut menunjukkan dari 12 Kab penerima bantuan baru 4 Kab (33%) yang terlihat berkembang baik:
1. KT Rahayu Malabar omsetnya lebih 29 M/tahun Kaya
2. KT Tani Java Preanger Halu sudah eksport Juara
3. Gabungan KT Mahkota sudah eksport Enak
4. KT Gunung Tilu eksport Untung

Di samping itu dampak di atas, pembenihan kopi dengan pola swakelola ini telah direplikasi secara nasional oleh Kementerian Pertanian melalui Satker Direktorat Jenderal Perkebunan pada Tahun 2017 dilaksanakan secara nasional di seluruh provinsi sesuai potensi komoditas masing-masing provinsi, seperti: Jawa Barat pada komoditi kopi, teh, dan kelapa; Jawa Timur komoditi tebu, kopi robusta; Nusa Tenggara Barat komoditi tembakau; Sumatera Utara komoditas kopi; Sumatera Selatan komoditas karet; Jambi komoditas kopi; dan provinsi lainnya sesuai andalan komoditas masing-masing. (Dudung A Suganda)


Dibaca : 40 kali