BANDUNG – Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat “Hendy Jatnika” menyatakan dua hal penting yang harus dipahami mengapa disarankan pengembangan pertanian organik; pertama kesehatan pangan merupakan sebagian dari ketahanan pangan, kedua pertanian organik dipandang memberikan harga yang layak untuk para pelakunya.  Selain dari pada itu  pada pertanian organik, ada suatu keharusan  memperhatikan ekosistem dan ekologi pertanian untuk jangka panjang, tutur Hendy saat membuka acara konsolidasi pembentukan eksportir produk organik perkebunan di Balai Perlindungan Perkebunan pada Senin (21 September 2020).

Pihaknya  mengharapkan adanya kelembagaan di hilir sebagai ujung tombak  implementasi pasar produk organik perkebunan di Jawa Barat. “Saya ingin di website disbun tercantum stok produk organik setiap minggu. Mudah-mudahan semua sendi-sendi kehidupan termasuk perkebunan di Jawa Barat dapat menggunakan dan memaksimalkan teknologi informasi 4.0”, khususnya saat pandemi ini kita harus pandai mencari celah-celah pasar dalam tema kesehatan.  Mudah-mudahan perkebunan Jawa Barat dapat unggul dari segi kebun dan produk perkebunannya, ujar beliau mengakhiri arahannya.

Sesaat setelah memberikan arahan, Hendy menyerahkan sertifikat organik kepada perwakilan  Kelompok Tani Girisenang berupa (SNI dan EU), Kelompok Tani Margamulya (SNI dan EU), Kelompok Tani KSM Specialty Preanger (SNI dan EU), Kelompok Tani Harapan Jaya (SNI dan EU) serta Kelompok Tani Sindangpanon berupa UTZ.

Konsolidasi yang mengambil tema “EKSPORTIR HANDAL TIDAK TERBATAS PADA PERUSAHAAN SAJA” itu, berlangsung selama 1 hari, dengan metode hybride “luring-daring”.  Materi narasumber Daroe Handojo – dari PT Jabbaru Indonesia dan M. Hariyadi Setiawan – dari EntreVA, Food and Agri Business Enabler mewarnai informasi menarik selama konsolidasi luring berlangsung, sedangkan informasi dalam jaringan diwarnai oleh Liza Wajong (Business Owner, Socio-Preneur, Café Owner/Coffee Business, 10+ years in Canada Retail and Wholesealee Business) dan Dindin Mediana (Partner Koperasi, Roemah Indonesia, Experience infinancial & nonfinancial service industries). 

Peserta  yang hadir saat luring kurang lebih 113 orang, terdiri dari  35 orang  kalangan pejabat, pelaku usaha organic, petugas pendamping dari Kab. Bandung, Bandung Barat, Subang, Garut dan Purwakarta, pejabat lingkup Dinas Perkebunan serta 78 orang dari berbagai kalangan hadir pada room meeting dalam jaringan. Dua materi menarik yang disampaikan Daroe dan Hary pada saat luring, mampu membangkitkan antusias peserta dengan sangat baik,  terpancar pada saat Daroe  menyoroti produk kopi organik dan  Hary membedah produk teh organik.     

Menurut Daroe Handojo   ada 3 permasalahan umum dalam melakukan ekspor produk organik, (1). merasa bahwa pasar bagi produk pertanian yang bersertifikat  sangat rumit, (2). kesempatan dan persyaratan yang berhubungan dengan program sertifikasi  tidak semuanya jelas, (3). tidak selalu mengetahui apakah berbagai persyaratan tersebut bersifat wajib (yang ditetapkan dalam peraturan resmi negara pengimpor) atau bersifat sukarela.  Pihaknya menjelaskan, produsen dan eksportir diwajibkan untuk mematuhi berbagai peraturan teknis (standar wajib) dari pemerintah guna menjamin kualitas produk, perlindungan lingkungan dan kesehatan konsumen.  Pelanggaran atas berbagai persyaratan tersebut dapat berdampak pada pengenaan karantina atau penolakan produk  oleh negara yang mengimpor, ujar Daroe. 

Beliau juga mengatakan bahwa kepedulian konsumen semakin tinggi atas kesehatan, termasuk pengetahuan terhadap negara asal dan kualitas produk yang dikonsumsi.  Oleh sebab itu berbagai peraturan dan informasi yang paling dibutuhkan  terfokus pada tingkatan mutu, ukuran, berat dan pelabelan paket terutama  negara asal, nama produk, variasi dan jumlah.  “Sertifikat hanyalah sebuah jaminan tertulis yang diberikan oleh sebuah badan sertifikasi independen yang menyatakan bahwa suatu proses produksi telah mematuhi beberapa standar tertentu”, katanya  seraya memberi penekanan akan  pentingnya  akses pasar.

Disisi lain M. Hariyadi Setiawan menyoroti  peminat kopi di Indonesia yang semakin meningkat setiap tahunnya. Konsumsi kopi Indonesia per tanggal 31 Juli 2020 menempati posisi kedua setelah Brazil, sedangkan untuk eksportir,  Indonesia menempati posisi ke-4.  Lain halnya dengan teh, lanjut Hari,  kinerja ekspor teh Indonesia mengalami fluktuasi setiap tahun. Pada tahun 2015 lalu kuantitas ekspor komoditas teh Indonesia mengalami penurunan dibanding  tahun 2014. Luas kebun teh di Indonesia mengalami penurunan setiap tahun,  diduga penyebabnya banyaknya kalangan milenial saat ini kurang meminati komoditas teh. Sehingga produk teh di Indonesia belum terlalu dikenal seperti kopi.  Pihaknya berpendapat, strategi untuk mempromosikan produk organik komoditas teh maupun kopi dapat menggunakan kata kunci isu yang menjadi perhatian kalangan milenial yaitu perubahan iklim dan perlindungan terhadap pekerja. Menurutnya isu ini diangkat karena dalam budidaya pertanian secara organik memperhatikan lingkungan, keselamatan dan kesejahteraan pekerja.  “Jadi jika isu-isu tersebut dimunculkan dalam promosi produk organik maka masyarakat yang memperhatikan terhadap isu tersebut akan tertarik untuk membeli produk organik” , katanya.

Liza Wajong dalam penjelasannya, menuturkan  sudah aktif membuka distribusi seluruh produk Indonesia dalam kurun waktu 3 tahun terakhir, termasuk kopi di Canada,  Archipelago merupakan salah satu platform yang dibangun beliau  di Amazon.  Pada saat daring, Liza mengundang kerjasama dengan UMKM Indonesia termasuk kopi dan teh. Pihaknya menjelaskan bahwa,  untuk penempatan produk kopi dan teh di Amazon, free akses biaya produksi.  “Kami akan melakukan business coaching, product building dll, agar produk yang disiapkan oleh UMKM bisa layak untuk masuk ke Amazon. Kami akan melakukan transparansi penentuan harga, ada detail kesepakatan lainnya. Jika mengikuti program ini dapat menjadi membership di Store dan Amazon” kata Liza dengan tegas. Beliau juga meyakinkan, banyak potensi kopi dan teh untuk masuk ke Amerika, kesempatannya juga banyak, “kami persisten untuk selalu berkoneksi dengan para UMKM kopi dan teh Indonesia”, katanya.

Sejalan dengan Liza, Dindin Mediana yang akrab dipanggil Dindin, membuka Roemah Indonesia. “Banyak sekali produk Indonesia yang potensial tapi banyak orang luar yang tidak tahu atau sulit mencari produknya. Uni Eropa merupakan salah satu mitra dagang terbesar yang memiliki sejarah panjang dalam perdagangan di Indonesia” kata Dindin. Indonesia merupakan peringkat ke-5 di ASEAN dalam hal mitra dagang di UE degan nilai 10,3% atau 17,1 M USD. Belanda merupakan salah satu negara UE yang  sangat strategis untuk membuka pasar untuk Indonesia. Oleh sebab itu pihak Dindin sudah melakukan   penjualan, pengiriman barang, dan akses dengan toko-toko di Belanda.  Dindin menjelaskan  Roemah Indonesia juga mempunyai ijin impor termasuk produk organik. Karena di luar negeri, importir tidak sembarangan mengimpor produk organik. “Kita menjadi distributor untuk bahan baku atau makanan Indonesia baik produk organik maupun non organik”, katanya.

Liza kembali menjelaskan untuk pengiriman dan warehousing pertama  akan menanggung semua pembiayaan. “Kita akan memberikan kesempatan pada UMKM kopi untuk mengirimkan kopinya ke Vancouver, roasting akan dibantu supaya harganya bisa masuk ke Amazon”.   Liza meyakinkan bahwa Konsumsi kopi di Canada lebih banyak, 5 – 6 kali sehari. Jadi tentu permintaan kopi sangat tinggi. Produk organik bisa dibilang sudah menjadi standar, semoga kita bisa membuka kerjasama, percakapan lebih lanjut, tuturnya.

Dindin juga saat mengakhiri percakapannya,  mengatakan kopi dan teh sudah sangat eksis di Eropa, problemnya adalah gimana caranya kita bisa mempresentasikan produk kita dan juga kita harus punya tempat. Tidak hanya saat pameran saja. Kadang pasar tertarik di pameran, tapi saat pameran selesai, banyak yang mencari produknya namun sulit ditemukan. Tentu kita harus punya tempat untuk bisa memberikan apa yang mereka cari. Produk organik sangat diminati oleh buyer di Eropa. Namun produk organik selain bagus juga harus bisa bercerita, ketersediaan, dan traceability, pungkas Dindin. (SITI PURNAMA).


Dibaca : 213 kali