Perkembangan Karat Daun Kopi

Karat daun kopi (coffee leaf rust) yang sering juga disebut penyakit daun kopi merupakan penyakit paling penting pada kopi arabika (Coffea arabica L.) yang disebabkan oleh jamur Hemileia vastatrix.   Perkembangan perkebunan kopi Indonesia di waktu yang silam sangat dipengaruhi oleh penyakit ini.  Pada tahun 1876 penyakit mulai dikenal di Jawa dan Sumatera. Pada tahun 1885 boleh dikatakan penyakit ini menghentikan perkembangan perkebunan kopi di Indonesia. Antara tahun 1896 dan 1900 produksi kopi Indonesia merosot menjadi 25% dari semula.  Hemileia menyerang hebat jenis kopi yang dibudidayakan pada waktu itu, yaitu kopi arabika, yang di luar negeri dikenal juga sebagai kopi Jawa.

Para penanam kopi di Indonesia tidak segera putus asa seperti para penanam di belahan dunia lainnya dan terus berusaha untuk mempertahankan perkebunan kopi di sini. Dengan binasanya kopi arabika, ditanamlah kopi Liberia (C. liberica Bull.) yang tampak lebih tahan terhadap penyakit karat daun. Tetapi harapan ini meleset karena ternyata bahwa makin lama jenis ini makin rentan terhadap penyakit karat. Seterusnya pada tahun 1900 diimpor satu jenis kopi dari Brussel, yang semula berasal dari Zaire (dulu Kongo Belgia). Karena pertumbuhannya yang kuat kopi ini disebut kopi robusta  (C. canephora Pierre). Meskipun jenis ini tidak kebal, namun memiliki ketahanan yang demikian tinggi sehingga hanya menderita penyakit yang berarti kalau terdapat faktor-faktor yang merugikan pertumbuhannya.  Namun sayangnya  kopi robusta mempunyai mutu hasil yang lebih rendah jika dibandingkan dengan kopi arabika, sehingga di pasaran dunia harganya lebih rendah.   Di Jawa Tengah banyak kebun kopi arabika diganti menjadi kebun kakao, yang merupakan kebun-kebun kakao pertama di Jawa. Jadi lahirnya perkebunan kakao di Jawa,  merupakan awal dari perkebunan kakao di Indonesia, juga merupakan akibat dari karat daun kopi.

Selain Indonesia, karat daun kopi juga menimbulkan kerugian besar di negara-negara penghasil kopi lain.  Sebelum diserang oleh Hemileia kopi merupakan komoditi ekspor yang penting bagi Filipina. Tetapi kebun-kebun itu banyak yang ditinggalkan dan diubah menjadi kebun kelapa. Di Uganda kerugian karena penyakit ini ditaksir sebesar 30%. Di Kaledonia Baru, dalam jangka waktu dua tahun saja, penyakit karat telah menghilangkan lebih kurang 50% dari produksi.  Dengan adanya Hemileia pusat budidaya kopi berpindah dari Timur ke Amerika Selatan dan Tengah, yang masih bebas dari Hemileia kira-kira 90 tahun lebih lama. Demikian pula karena belum terganggu oleh karat (pada waktu itu), Amerika Latin dengan leluasa menanam jenis arabika yang mempunyai mutu hasil yang tinggi dan mempunyai harga jual yang lebih mahal.

Sejak bulan Januari 1970 diketahui bahwa H. vastatrix  sudah terdapat di Brazilia. Pertama kali, karat daun kopi ditemukan di Negara Bagian Bahia, meskipun segera diketahui bahwa penyakit sudah meluas di Espirito Santo dan Minas Gerais. Pada tahun 1971, penyakit sudah terdapat di Sao Paulo dan Parana. Pada tahun 1975 karat daun sudah terdapat di Paraguay dan Argentina. Di Peru dan Bolivia penyakit terdapat pada tahun 1979. Pada tahun 1980 penyakit mencapai Honduras, tahun 1981 Guatemala, dan tahun 1982 mencapai Mexico Selatan. Pada tahun 1982, di antara negara pengekspor kopi Amerika Selatan, hanya Costa Rica dan Colombia yang masih bebas dari karat daun, yang pada waktu ini kedua negara itupun sudah terjangkit juga.

Dapat dikatakan bahwa karat daun kopi berasal dari Afrika Tengah dan Timur, di pusat asal spesies-pesies Coffea.  Ada satu laporan yang menyatakan terdapatnya penyakit ini di daerah Danau Victoria (Uganda) pada tahun 1861 (d’Olivera. 1971). Di daerah asalnya,  penyakit tersebut terdapat pada tanaman liar dan setengah liar tanpa menimbulkan kerugian yang berarti.  Penyakit mulai meluas secara epidemis setelah diusahakannya jenis-jenis kopi budidaya yang sangat rentan terhadapnуа.  Pada tahun 1907 penyakit pernah terbawa masuk ke Puerto Rico bersama-sama dengan bibit-bibit kopi dari Jawa. Tetapi, dengan eradikasi yang dilakukan dengan cepat dan cermat penyakit dapat dihilangkan sama sekali.

Dengan  dibudidayakannya kopi robusta yang mempunyai ketahanan tinggi, maka di Indonesia tidak banyak dilakukan penelitian terhadap Hemileia. Kopi arabika pada umumnya hanya dibudidayakan di tempat-tempat yang lebih tinggi dari 1000 m dari permukaan laut, antara lain di Aceh, Sumatera Utara, Dataran Tinggi Ijen (Jawa Timur), Bali, dan Toraja (Sulawesi Selatan).

Perhatian terhadap penyakit karat meningkat akhir-akhir ini,  Pemerintah Indonesia berusaha untuk meningkatkan produksi kopi arabika. Usaha ini antara lain dilakukan dengan rehabilitasi dan intensifikasi, termasuk pengendalian penyakit, khususnya karat daun. Selain itu juga diusahakan untuk menanam kopi arabika di kebun-kebun yang lebih rendah dari 1000 m, sampai ke batas 750 m.

Karat Daun Kopi Di Jawa Barat

Saat ini  Indonesia menempati urutan ke 4 ( empat) sebagai negara penghasil kopi terbesar di dunia  setelah Brasil, Vietnam dan Kolombia. Provinsi Jawa Barat menduduki urutan ke 9 (sembilan)  sebagai peghasil kopi terbesar di Indonesia setelah  Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Timur, Sumatera Utara, Aceh, Begkulu, Sulawesi Selatan dan  Nusa Tenggara Timur.

Luas tanaman kopi rakyat di Jawa Barat 45.183  ha,  terdiri dari 26.862 ha kopi arabika dan 18.321 ha kopi robusta  yang tersebar di 20 Kabupaten/Kota yaitu Bandung, Bandung Barat, Bogor, Ciamis, Cianjur, Sukabumi, Subang, Sumedang, Garut, Kuningan, Majalengka, Tasikmalaya,  Bekasi, Indramayu, Karawang, Kota Bandung,  Kota Banjar, Kota Tasikmalaya, Purwakarta dan Pangandaran.  Di daerah pengembangan kopi  tersebut, penyakit karat daun menjadi salah satu  faktor penting dalam penurunan kuantitas dan kualitas tanaman kopi  karena  bisa menghilangkan produksi sampai  70 %  jika serangannya berat di mana hampir seluruh daun tanaman kopi gugur akibat serangan  karat daun.

Gejala awal penyakit karat daun terlihat sebagai bercak berwarna kuning muda pada permukaan bawah daun yang berubah menjadi kuning tua. Bercak tersebut pada mulanya berbentuk bulatan kecil bergaris tengah + 0,5 cm. Selanjutnya bercak-bercak yang berdekatan akan menyatu, sehingga ukurannya menjadi besar dan bentuknya tidak teratur, diameternya dapat mencapai 5 cm. pada bercak ini terbentuk tepung yang asalnya berwarna kuning/jingga berubah menjadi putih karena adanya jamur hiper parasite pada uredospora. Penyakit ini dapat mengakibatkan daun yang terserang gugur sebelum waktunya (premature). Serangan yang berat dapat menyebabkan daun rontok, cabang/ranting mati dan akhirnya tanaman mati. 

Penularan Karat Daun Kopi

Uredospora merupakan alat penularan dan penyebaran penyakit karat daun. Uredospora mengadakan infeksi melalui stomata pada daun. Penularan penyakit melalui media air, angin, peralatan pertanian, serangga dan kontak yang lain.  Semula diduga bahwa anginlah yang terutama menyebarkan urediospora dari pohon ke pohon. Tetapi penelitian pada tahun 1950-an membuktikan bahwa air memegang peranan penting dalam penyebaran penyakit, sedang penyebaran oleh angin hanya sedikit terjadi.  Di dalam udara urediospora Hemileia akan segera mengendap, hingga tidak dapat tersebar jauh. Dalam keadaan biasa, spora ini melekat dengan kuat satu sama lain. Demikian pula spora melekat dengan kuat pada permukaan daun dan permukaan-permukaan lainnya meskipun licin, sedang daya lekat ini dapat hilang karena air.  Urediospora yang terlepas atau terbawa oleh lelehan air akan mengendap pada permukaan atas daun-daun. Jika satu tetes air jatuh pada permukaan atas daun ini, spora akan terbawa oleh percikan-percikan air sehingga dapat mencapai sisi bawah daun sebelah atasnya, di mana infeksi dapat terjadi. Untuk menyebarkan spora ini diperlukan hujan lebih kurang 7,5 mm.

Penelitian-penelitian selanjutnya membuktikan bahwa angin pun memegang peranan yang cukup besar dalam pemencaran spora. Beberapa peneliti  mengatakan bahwa ada hubungan antara banyaknya spora yang terlepas dengan kecepatan angin dan kelembaban udara.  Burung dan serangga mungkin dapat menyebarkan spora penyebab penyakit. Selain itu petani pemilik kebun kopi bisa secara tidak sengaja juga  menyebarkan spora di dalam kebun.  Sampai sekarang belum dikenal tumbuhan lain yang dapat menjadi tumbuhan inang H. vastatrix. Usaha untuk mencari tumbuhan inang lain kurang banyak dilakukan. Karena dirasa tidak akan dapat dipakai sebagai dasar untuk pengendalian. Hemileia membentuk spora pada daun kopi, sedang urediospora ini dapat menginfeksi kopi lagi tanpa meialui tumbuhan inang perantara.

Kondisi di Lapangan

Dari laporan Sistem Monitoring dan Pengamatan Hama Penyakit (simakit)  Balai Perlindungan Perkebunan,  serangan karat daun pada tanaman kopi rakyat di Jawa Barat pada triwulan pertama tahun 2020 menunjukkan serangan ringan seluas 946 ha dan serangan berat 166 ha. Sudah dilakukan pengendalian secara mekanis, sanitasi dan bahkan Kabupaten Bnadung Barat melakukan pengendalian dengan pestisida kimia. Tetapi, seiring berjalannya waktu ternyata serangan karat daun tetap meningkat pada triwulan ke dua dengan serangan ringan seluas 1.498 ha (meningkat  552 ha) dan serangan berat 170 ha (meningkat 4 ha). Kondisi ini menuntut kita dan para petani kopi untuk waspada terhadap ancaman serangan karat daun yang semakin meningkat di saat musim kemarau. Pada kondisi normal Serangan karat daun pada tanaman kopi akan menurun pada waktu musim kemarau dan meningkat pada waktu musim penghujan.  Potensi serangan berat terjadi pada ketinggian di bawah 1.000 m dpl, sedangkan di atas 1.000 m dpl tingkat serangan penyakit karat daun biasanya rendah.  

Kerentanan daun terhadap infeksi ditentukan oleh umur daun yang bersangkutan. Daun muda yang belum terbuka sangat tahan terhadap infeksi, daun yang lebih tua  lebih rentan, dan yang paling rentan pada waktu daun sudah terbuka penuh, biasanya pada buku kedua atau ketiga yang sudah memanjang penuh. Pohon atau cabang yang berbuah lebat lebih rentan dan tingkat penyakit yang paling berat terdapat pada bagian pohon yang terkena sinar matahari penuh. Tanaman yang kurang baik pertumbuhannya, antara lain yang pemupukannya kurang dan yang mendapat gangguan gulma, lebih rentan terhadap penyakit.

  1. vastatrix dapat menginfeksi semua spesies utama dari genus Coffea. C. arabica yang tetraploid adalah yang paling rentan; spesies diploid yang dibudidayakan seperti C. canephora (robusta), C. liberica, C. excelsa, dan C. congensis mempunyai ketahanan lapangan (field resistance) yang cukup. Mekanisme ketahanan tanaman kopi terhadap Hemileia mendapat perhatian akhir-akhir ini. Telah disebutkan sebelumya bahwa jamur karat hanya mengadakan infeksi melalui mulut kulit yang hanya terdapat pada sisi bawah daun. Namun dibuktikan oleh peneliti bahwa antara jenis yang tahan dan yang rentan tidak terdapat perbedaan dalam kerapatan mulut kulit pada daunnya. Diketahui bahwa di dalam daun terdapat zat-zat yang menghambat perkecambahan urediospora dan perkembangan selanjutnya.

Penanggulangan Karat Daun

Pada bercak Hemileia sering berkembang jamur berwarna putih. Ini adalah Verticillium hemileiae Baur. yang memarasit Hemileia.  Di Malaysia jamur Verticillium yang memarasit Hemileia ini dideterminasi sebagai Verticillium psalliotae Treschow.  V. psalliotae hanya memarasit urediospora dan tidak memarasit hifa atau pembuluh kecambah Hemileia.  Untuk mengantisipasi ancaman serangan karat daun kopi  yang sudah mulai berkembang  di Jawa Barat dan kejadian masa lalu tanaman  kopi  hancur akibat serangan karat daun, sebaiknya  dilakukan langkah-langkah penanggulangan yang tepat seperti: 

1. Pencegahan Karat Daun

  1. Tidak dianjurkan menanam kopi Arabika di bawah ketinggian 750 m dpl;
  2. Kultur teknis
  • Pengaturan naungan melalui pemangkasan dilaksanakan sesuai musim, pada musim kemarau tidak dilakukan pemangkasan, dan menjelang musim hujan dilakukan pemangkasan, secara tidak Iangsung pemangkasan akan mengurangi sumber inokulum penyebab penyakit.
  • Pemupukan berimbang yang sesuai dengan kebutuhan tanaman akan mengurangi intensitas serangan.
  • Penggunaan varietas resisten; Varietas yang dianjurkan untuk kopi Arabika adalah Lini S (S 795 dan 1934), USDA (230762 dan 230731), dan BP453A (CIFC 519-3).

2. Pengendalian untuk Tanaman Kopi yang sudah Terserang

  1. Menggunakan pestisida nabati ekstrak daun/biji mahoni  dosis 10 kg/ha
  2. Melakukan penyemprotan dengan menggunakan APH cair (metabolit sekunder) jenis     Trichoderma sp.   dengan dosis  1liter/100 liter air atau infus batang dengan  dosis   100 ml/batang. (minimal    3 kali ulangan)
  3. Pengendalian secara kimia dilakukan setelah serangan karat daun mencapai ambang toleransi 20% daun kopi terserang. Aplikasi dilakukan dengan penggunaan fungisida kontak dan atau sistemik. Pemakaian fungisida sistemik disarankan tidak lebih dari dua kali setahun. Sedangkan fungisida kontak digunakan dengan interval 2-3 minggu. Sampai sekarang fungisida kontak yang berbahan aktif tembaga masih cukup efektif, dan fungisida sistemik dengan bahan aktif Triademefon.

3. Karantina

Meskipun H. vastatrix sudah tersebar dimana-mana, baik di luar maupun di dalam negeri, namun karena adanya perbedaan-perbedaan dalam rasnya, maka sebaiknya diadakan pembatasan dalam pemasukan bahan tanaman kopi hidup dari daerah atau pun negara lain. (Maria Wulan Purwiji Putri)

 

PUSTAKA

Data Statistik Perkebunan ,Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat Tahun 2020 (dari Subbag Perencanaan).  

Direktorat Jenderal Perkebunan. 2019. Inilah 10 Provinsi Penghasil Kopi Terbesar 2018. https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/10/18/inilah-10-provinsi-penghasil-kopi-terbesar 2018

Direktorat Perlindungan Perkebunan. 2016. Sinta.ditjenbun.pertanian.go.id/karat-daun-kopi-hemileia-vastatrix-b-et-br.

Jufri, AF. 2017. Penyakit Karat Daun Kopi. https://sayurankita.com/2027/09/15/penyakit-karat-daun-pada-kopi/

Laporan Simakit Balai Perlindungan Perkebunan Triwulan I dan Triwulan II Tahun 2020

Sariagri.id. 2020. 5 Negara Penghasil Kopi Terbesar di Dunia, Indonesia Nomor Berapa? https://hortikultura.sariagri.id/56036/5-negara-penghasil-kopi-terbesar-di dunia-indonesia-nomor-berapa.

Semangun, H. 2000. Penyakit-Penyakit Tanaman Perkebunan di Indonesia. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

 


Dibaca : 99 kali