KOTA BANDUNG – Kepala Balai Perlindungan Perkebunan (Siti Purnama), mengatakan kehilangan produksi merupakan faktor penentu dalam pendugaan kerugian hasil akibat serangan berat yang ditimbulkan oleh hama/penakit tanaman. Hal ini diungkapkan beliau pada saat memberikan arahan dihadapan petugas pendamping pengamat OPT yang hadir secara fisik di Aula Balai Perlindungan Perkebunan, dalam rangka validasi data simakit (Sistem Informasi Hama Penyakit), Selasa (06/10/20).

Pihaknya menekankan data yang harus dihimpun pada saat melakukan pengamatan serangan hama/penyakit di lapangan antara lain luas areal serangan, populasi atau intensitas serangan, tindakan pengendalian yang dilaksanakan, efektivitas pengendalian dan data keberadaan musuh alami. Sedangkan untuk penghitungan pendugaan kerugian hasil, data produksi dan produktivitas wajib diketahui disamping harga produk pada saat penghitungan kerugian hasil.

Validasi data ini menjadi penting manakala validator bersama sama dengan petugas pendamping senada dalam melakukan pembuktian atau pembenaran keberadaan data yang dihimpun, jadi validasi data adalah suatu cara untuk mengetahui sejauh mana data yang kita miliki mencerminkan hasil data yang tepat dan akurat”, katanya.

Siti menginformasikan, ada 15 jenis tanaman yang wajib diamati berdasarkan kebijakan Direktorat Jenderal Perkebunan; karet, kelapa, kelapa sawit, kakao, kopi, teh, tembakau, kapas, tebu, kemiri sunan, jambu mete, cengkeh, nilam, lada dan pala. Di luar 15 tanaman ini tetap diamati sesuai dengan potensi masing-masing daerah. “Saat ini kita baru mengamati 10 jenis tanaman, karet, kelapa, kakao, kopi, teh, tembakau, tebu, cengkeh, lada dan pala, padahal tanaman nilam juga dibudidayakan di 4 kabupaten di Jawa Barat jadi kedepan harus diamati juga”, katanya. Untuk itu pihaknya berharap agar tahun depan tanaman nilam juga diamati mengingat atsiri yang dihasilkan nilam juga perlu mutu atau kualitas yang baik.

Pihaknya berpesan, kepada perwakilan Kabupaten Bandung, Sumedang, Garut, Subang, Pangandaran, Kuningan, Cianjur, dan Sukabumi yang hadir sebagai peserta validasi data simakit, agar menyampaikan data sesuai dengan aturan pengamatan yang telah dilakukan di lapangan. Beliau berharap hasil validasi kali ini mampu menggambarkan kondisi yang sebenarnya di lapangan, paling tidak mendekati yang sebenarnya agar dalam pengembailan kebijakan tidak salah sasaran.

Beliau mencontohkan kebijakan yang salah akibat data yang tidak benar, serangan berat penggerek buah kopi terjadi di Sumedang, namun karena kesalahan dalam validasi data atau tidak didukung dengan informasi yang lengkap maka hasil analisis memberikan informasi yang berbeda sehingga kebijakan untuk pengendalian hama/penyakit pun jatuh pada Kabupaten lain. “Ini tidak boleh terulang kembali, agar sasaran pengendalian tepat lokasi”, kata beliau. Ingat “Kehilangan produksi akibat serangan hama penyakit merupakan perkalian antara luas serangan berat dengan produktivitas dikali persentase kehilangan hasil. Sedangkan kerugian hasil merupakan perkalian antara kehilangan produksi dan harga rata-rata produk”, katanya mengakhiri arahannya.

Usai arahan, sejenak peserta validasi bersiap melakukan desk dengan petugas validator. Sepuluh meja telah ditata rapi dengan mengikuti protocol kesehatan untuk dipergunakan desk antara validator dengan petugas pendamping dari 8 kabupaten yang hadir. Acara validasi dipandu langsung oleh Kepala Seksi Pengembangan Teknologi PHT dengan 10 validator, masing-masing validator memvalidasi 1 komoditas dengan hama/penyakit tertentu sesuai yang telah diamati.

Setiap meja ditempati satu validator dengan komoditas tertentu, sehingga peserta validasi (petugas pendamping) dari kabupaten secara bergiliran menghadap validator sesuai urutan kabupaten masing-masing yang telah diatur panitia. Mengingat pengamatan data hama penyakit yang dihimpun dalam Simakit dilakukan oleh 14 kabupaten, maka agar tetap bisa menjalankan protokol kesehatan, penyelenggaraan validasi dilakukan dalam 2 hari kerja, hari pertama dihadiri 8 kabupaten sedangkan hari ke 2 dihadiri 6 kabupaten. Validasi berlangsung tertib dan serius, setiap validator memvalidasi 3 triwulan dengan 10 komoditas dan hama penyakit masing-masing.

Sebanyak 16 orang peserta hadir pada hari pertama, dan direncanakan pada hari kedua akan dihadiri kurang lebih 12 orang peserta. Secara acak dilakukan testimoni untuk mengetahui manfaat validasi bagi validator, bagi petugas pembina dan juga gambaran manfaat bagi masyarakat. Hari pertama ditutup secara resmi oleh Kasi Bangtek PHT (SITI PURNAMA).


Dibaca : 92 kali