BANDUNG – "Sebagai Gubernur yang mencintai kopi saya membuka langsung pasar ke Australia”, kata Gubernur Jawa Barat ‘Ridwan Kamil’ pada saat memberikan sambutan sebelum melakukan pelepasan ekspor Kopi Java Preanger Jabarano ke Australia secara resmi di Gedung Negara Pakuan, Kota Bandung, pada Jumat (9/10/20). 

Ekspor kali ini merupakan tindak lanjut kunjungan kerjanya pada bulan Februari lalu ke Australia. “Problem kita ada di branding dan marketing, oleh karena itu selain membuka pasar kopi Jawa Barat, saya juga melahirkan café Jabarano, di Melbourne Australia, kalau tidak ada covid saya sudah buka lagi 3 café Jabrano di Pert, Sydney dan lain-lain, Jabarano itu brand kopi Jawa Barat, serumpun dengan Amerikano”, katanya.

Emil mengatakan, hanya empat ekonomi yang survive selama covid yaitu 1). Industri pangan termasuk di dalamnya pertanian dan perkebunan, 2). Industri logistik, 3). Industri kesehatan dan 4). Industri telekomunikasi.  Untuk itu pihaknya berharap pada anak-anak muda milenila agar tetap tinggal di Desa dengan rejeki kota dan bisnisnya  mendunia dengan cara menguasai teknologi 4.0 yaitu memperbaiki  teknologi dan punya skil digital.

Hari ini ekspor 16 ton ke Australia dari total sekitar 160 ton dari satu perusahaan dan ada ratusan ton lainnya dari perusahaan lain bekerja sama dengan koperasi petani kopi,” ucap Emil. “Mudah-mudahah kebutuhan kopi dunia ini makin tercitrakan datang dari Jawa Barat dan kalau Australia bisa membeli kopi kita (Jabar), artinya negara-negara lain juga bisa melakukan hal yang sama,” tambahnya.

Ekspor sebagai salah satu pintu pemulihan dan kebangkitan ekonomi sudah terbuka lagi. Adapun 16 ton kopi senilai Rp1,3 miliar  yang diekspor hari ini merupakan kopi terbaik dari  kelompok kelompok tani binaan CV. Frinsa Agrolestary di Kabupaten Bandung.

Emil berujar, tidak hanya soal kualitas biji kopi, pihaknya pun berkomitmen untuk terus memperkuat kualitas pemasaran produk kopi asal Jabar ke mancanegara bekerja sama dengan Kementerian Perdagangan (Kemendag) Republik Indonesia (RI). “Saya ingin berkolaborasi membuat video-video dalam berbagai bahasa, nanti diputar di negara-negara tujuan promosi ekspor seperti Australia, tapi juga kualitasnya harus diperbaiki jangan melakukan pemanenan dengan merawu harus dipilih pilih,” ujar Emil.

“Karena proses kopi ini mulai dari bibit, menanam, merawat, mengambil (memanen), kemudian prosesnya (untuk menjadi) green bean (biji kopi), roasting, sampai akhirnya disajikan itu prosesnya panjang,” katanya. Specialty Coffee asal Provinsi Jawa Barat (Jabar), kopi arabika Java Preanger, mampu mengantarkan Indonesia sebagai salah satu pemasok biji kopi terbaik yang diminati di Asia, Eropa, hingga Amerika.

Hal senada diucapkan Kepala Dinas Perkebunan, Hendy Jatnika saat menyampaikan laporannya dihadapan Gubernur.  Pihaknya menuturkan, ekspor kopi ke Australia ini merupakan tindak lanjut  kunjungan Pemerintah Daerah Provinsi  Jawa Barat yang secara langsung delegasinya dipimpin okeh Gubernur Jawa Barat  untuk beberapa misi.  Menurut Hendy salah satu misinya adalah mempromosikan kopi Jabar  dan meresmikan café Jabarano.  Direktur CV. Frinsa ‘Wildan Mustofa’ merupakan salah satu anggota delegasi ke Australia saat itu dan sekarang Wilda menindak lanjuti hasil kunjungan tersebut.   

“Ini menjadi pemicu dan pemacu kopi Jabar masih bisa mendunia, disaat saat sulit seperti sekarang ternyata masih ada celah celah yang bisa diisi dengan ekspor dan ini sangat menggembirakan karena perekonomian berbasis pertanian di Jawa Barat masih bergerak terus.  Selain ekspor kopi hari ini, rencananya masih ada 11 container dengan jumlah 110 ton yang akan dikirim ke luar negeri hingga Oktober 2020”, kata Hendy.

Hendy juga melaporkan, bantuan Pemprov Jabar terhadap petani sudah sangat banyak, salah satunya benih kopi. Pihaknya berharap agar Gubernur bisa mencanangkan “Gerakan Tanam Kopi” karena benih  sudah disiapkan sebanyak 3 juta pohon fasilitas APBD dan 1 juta pohon  fasilitas APBN sehingga total 4 juta benih. Harapan lain  ada penyerahan benih kopi secara simbolis kepada petani  karena 1 container biji kopi dihasilkan oleh puluhan petani atau kelompok tani,  bukan oleh satu orang petani saja, ucap Hendy.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag RI Kasan mengapresiasi langkah Pemda Provinsi Jabar yang telah berhasil mengekspor produk kopi dengan indikasi geografis Java Preanger.

Kemendag RI pun akan mendukung sepenuhnya upaya pengembangan ekspor kopi khususnya dari Jabar melalui fasilitasi perwakilan perdagangan Kemendag yang ada di luar negeri.  “Kami di Kementerian Perdagangan juga mencermati beberapa potensi ke depan untuk potensi ekspor kopi, terutama specialty coffee menunjukkan adanya kenaikan permintaan khususnya dari Eropa dan Amerika," kata Kasan.

Selain itu, pada 7 Oktober lalu, Kemendag telah menggelar acara coffee testy untuk kopi Java Preanger dari Jabar sebagai bagian dari upaya Kemendag untuk mengekspor kopi dengan indikasi geografis selain kopi Gayo Arabika ke pasar Eropa.  “Kami juga terus mendorong dan memfasilitasi untuk peningkatan ekspor dan memberikan informasi seperti pembeli dan karakteristik dari produk kopi yang dibutuhkan, serta memberikan pelatihan dalam hal sertifikasi bekerja sama dengan berbagai kementerian terkait,” ucap Kasan. 

Sementara itu, Direktur CV Frinsa Agrolestari Wildan Mustofa mengatakan, mayoritas kopi yang dikirim oleh pihaknya ditanam di lahan-lahan milik Perhutani sebagai bagian dari konservasi alam. Ada dua produk kopi yang diekspor CV Frinsa Agrolestari, yaitu kopi jenis specialty coffee yang dihasikan para petani milenial dan kopi puntang dengan high commercial dari para petani senior.  Berikutnya, Wildan berujar bahwa pihaknya akan mengekspor 11 container, yakni lima kontainer ke Amerika Serikat, dua kontainer ke Belgia, satu kontainer ke Australia, satu kontainer ke Rusia, dan dua kontainer ke China.

Kopi Java Preanger sendiri merupakan gabungan dari berbagai jenis biji kopi yang ditanam di atas ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl) di Jabar, antara lain Kabupaten Bandung, Bandung Barat, Sumedang, dan Garut. Jenis kopi ini kemudian dipasarkan dengan nama kopi arabika Java Preanger sesuai dengan indikasi geografis yang diperoleh pada 2013.  Jenis kopi ini sangat disukai khususnya oleh pasar Eropa dan Amerika Serikat karena memiliki aroma khas dan cita rasa yang unik dan mampu memanjakan penikmat kopi dengan kesan mild-nya. (SITI PURNAMA)

 


Dibaca : 112 kali