Salah satu komoditas strategis yang menjadi unggulan Jawa Barat adalah kopi. Saat ini Jawa Barat unggul dari segi kualitas dan cita rasa produk, baik di pasar lokal maupun pasar global.  Disisi lain terutama dalam penerapan Good Agricultural Practices (GAP), masih terdapat beberapa masalah.   Permasalahan utama yang selalu meresahkan petani adalah tingginya serangan hama penggerek buah kopi / PBKo (Hypothenemus hampei). Hama ini  merupakan salah satu penyebab utama penurunan produksi dan mutu kopi Jawa Barat dan Indonesia, bahkan di seluruh negara penghasil kopi.

Hama ini berkembang  dengan metamorfosa sempurna  mulai dari tahapan telur, larva, pupa dan imago atau serangga dewasa.  Kumbang betina yang akan bertelur membuat lubang gerekan dengan diameter lebih kurang 1 mm pada buah kopi dan biasanya pada bagian ujung. Kemudian kumbang tersebut bertelur pada lubang yang dibuatnya. Kerusakan yang timbul akibat serangan PBKo berupa buah menjadi tidak berkembang, berubah warna menjadi kuning kemerahan, dan akhirnya gugur mengakibatkan penurunan jumlah dan mutu hasil.  Serangan pada buah yang bijinya telah mengeras akan berakibat penurunan mutu kopi karena biji berlubang. Biji kopi yang cacat sangat berpengaruh negatif terhadap susunan senyawa kimianya, terutama pada kafein dan gula pereduksi. Biji berlubang merupakan salah satu penyebab utama kerusakan mutu kimia, sedangkan citarasa kopi dipengaruhi oleh kombinasi komponen-komponen senyawa kimia yang terkandung dalam biji

Besarnya pengaruh  serangan PBKo terhadap mutu dan citarasa kopi menuntut adanya penanganan serius terhadap hama ini. Namun demikian pada kenyataannya, pengendalian hama PBKo cukup sulit dilakukan karena kumbang terdapat dan berkembang biak di dalam buah kopi, sehingga seringkali pengendalian yang dilakukan tidak mengenai sasaran dan kurang berhasil akibatnya intensitas serangan berat.  Pada intensitas serangan berat dapat menurunkan produksi antara 20 – 70 %. 

Pada tahun 2017 seluas 1.981,98 Ha (6,13%) tanaman kopi rakyat di 10 kabupaten (Sukabumi, Cianjur, Bandung, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Majalengka, Sumedang, Purwakarta, dan Bandung Barat) terserang PBKo.  Intensitas serangan cukup berat dan luas, sementara petani belum memahami strategi pengendalian hama secara terpadu. Atas dasar inilah muncul ide membuat strategi Pengendalian Terpadu Hama  Penggerek Buah Kopi atau yang dikenal dengan istilah Lima Perak dengan maksud merubah pola pikir petani beralih dari tuntutan kecanggihan teknologi kepada strategi pengendalian terpadu.

Keunikan/kebaruan Lima Perak terletak pada Strategi ketepatan pengaturan waktu, target sasaran dan teknik pengendalian yang terencana pada sebelum, saat dan setelah pembuahan. Letak keunikan lainnya pada saat pembungaan petani diajarkan melakukan teknik pengendalian hayati, pada saat pembuahan melakukan pengendalian secara fisik  dan pada saat masa berbuah hingga akhir masa panen melakukan pengendalian mekanik   Ketepatan strategi Lima Perak  dalam pengaturan teknik pengendalian dan masa perkembangan tanaman menjadi sangat penting sebagai perwujudan  pertanian berkelanjutan dan kelestarian lingkungan tanpa aplikasi bahan kimia.

Implementasi pada serangan berat sebelum petani memahami strategi Lima Perak, hanya mengandalkan pengendalian berbahan kimia.  Sebaliknya setelah petani memahami strategi Lima Perak maka teknik pengendalian yang dilakukan lebih efektif dan efisien, pada saat pembungaan dilakukan teknik pengendalian hayati  dengan menggunakan jamur Beauveria bassiana, pada saat pembuahan dilakukan pengendalian secara fisik melalui pemasangan perangkap atraktan dan pada saat masa berbuah hingga akhir masa panen dilakukan pengendalian mekanik  dengan cara memetik seluruh sisa buah panen yang tertinggal pada cabang terutama buah-buah yang terserang PBKo dan membersihkan buah yang jatuh ke tanah.  Ketepatan strategi Lima Perak  telah merubah intensitas serangan PBKo di kebun kopi petani, yang semula intensitas berat/tinggi, sekarang  menjadi intensitas ringan/rendah.  Kondisi serangan ringan ini  tentu akan mampu mewujudkan tujuan strategi Lima Perak dengan  konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT) pada umumnya yaitu; 1). memaksimalkan produktivitas atau meminimalkan kehilangan hasil, 2). memperhatikan kelestarian lingkungan, 3). melindungi kesehatan konsumen dan produsen, 4). meningkatkan efisiensi faktor produksi, dan 5). meningkatkan kesejahteraan petani.

Dampak strategi Lima Perak telah dirasakan oleh petani kopi, semula serangan PBKo mencapai 6,13%  (tahun 2017) namun setelah menerapkan strategi Lima Perak, pada tahun 2018 tercatat serangan PBKo telah turun menjadi 4,62% dan pada tahun 2019 serangan PBKo mengalami penurunan kembali menjadi 2,27%.  Dampak positif lainnya dirasakan petani pada peningkatan produktivitas sebesar 25%, peningkatan serapan pasar terhadap produk sebesar 56% dikarenakan mutu produk yang dihasilkan menjadi lebih bagus, dan peningkatan pendapatan petani sebesar 63%, sudah barang tentu akan   mendorong terwujudnya peningkatan kesejahteraan.  Dampak tidak langsung juga terjadi pada sumber daya lahan dan lingkungan, nihilnya penggunaan bahan kimia, telah mendorong perlindungan dan pelestarian lingkungan hidup dalam mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan.

Strategi Lima Perak tidak hanya mampu menurunkan serangan hama PBKo, akan tetapi petani juga mendapatkan ilmu untuk memprediksi serangan yang mungkin terjadi serta merencanakan strategi pengendalian yang tepat, menurunkan biaya pengendalian, meningkatkan produksi buah kopi, meningkatkan kualitas dan harga jual sehingga meningkatkan perekonomian petani.  Inovasi Lima Perak  merupakan strategi  berkelanjutan yang dapat dilihat dari berbagai aspek seperti sosial, ekonomi, dan lingkungan. Aspek sosial dilihat dari semakin bertambahnya jumlah petani yang terlibat menggunakan konsep strategi Lima Perak, semula hanya 3.600 orang meningkat menjadi 8,800 orang. Pertambahan jumlah petani ini menandakan bahwa petani mampu mengedukasikan ilmu yang didapat kepada anggota/kelompok tani lainnya, sehingga terjalin hubungan sosial yang baik dalam penyerapan tenaga kerja. Dari segi ekonomi, melalui perencanaan strategi pengendalian Hama PBKo yang efektif dan efisien mampu menurunkan biaya produksi, meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil produksi, sehingga meningkatkan pendapatan bagi petani. Sedangkan dari sisi aspek lingkungan, penerapan inovasi Lima Perak mendukung kelestarian lingkungan karena selama proses pengendalian tidak menggunakan bahan-bahan berbahaya yang dapat menimbulkan pencemaran/kerusakan lingkungan. Lima Perak turut menjaga keberlangsungan agroekosistem seperti menjaga kualitas tanah, air, udara, mikroorganisme tanah, serta kesehatan petani atau masyarakat di sekitarnya.

Dalam rangka menjaga keberlanjutan Strategi Lima Perak, pemerintah telah menerbitkan UU 39/2014 tentang Perkebunan yang mengatur seluk beluk perkebunan termasuk perkebunan kopi, UU 22/2019 tentang Sistem Budidaya Pertanian Berkelanjutan, yang mengatur teknik budidaya ramah lingkungan.  Selain itu terdapat Peraturan Daerah Jawa Barat  No.4/2018 tentang Pedoman Perlindungan dan Pemberdayaan Petani, sebagai  kekuatan dalam melindungi kesehatan petani dari pencemaran bahan-bahan berbahaya sekaligus memberdayakan petani melalui strategi-strategi yang mampu meningkatkan produktivitas dan mutu hasil. Amanat Peraturan Pemerintah No. 6/1995 tentang perlindungan tanaman menjadi langkah strategis dan berfungsi sebagai jaminan ketersediaan sumber daya manusia dan keuangan, untuk keberlanjutan pembinaan dan penyebarluasan strategi Lima Perak.

Inovasi Lima Perak yang menganut konsep mengedepankan strategi dari pada teknologi merupakan ide/gagasan asli Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat. Ide dan inisiatif  Strategi Lima Perak berpotensi direplikasi secara horizontal dan vertikal dengan syarat pada daerah atau perangkat daerah yang akan mereplikasi terdapat  data serangan Hama PBKo, data Agroekosistem dan data Petani.  Sebagai penentu keberhasilan strategi diperlukan ketersediaan sumber daya manusia yang memahami atau ahli hama, ahli komoditas dan ahli pengendalian hama terpadu serta yang terpenting juga mendapat support atau fasilitas anggaran baik dari APBD, APBN, CSR maupun swadaya petani.

Saat ini strategi Lima Perak baru direplikasi secara vertikal oleh kabupaten/kota di Jawa Barat, untuk replikasi horizontal diperlukan koordinasi atau kunjungan kerja dengan provinsi lain di luar Jawa Barat. Transfer Lima Perak menjadi salah satu strategi dan inovasi pelayanan publik Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat yang berkaitan dengan pemanfaatan sumber daya alam dalam rangka menjaga kelestarian lingkungan untuk mewujudkan perkebunan berkelanjutan. (SITI PURNAMA)


Dibaca : 106 kali