MAJALENGKA – Penggunaan pestisida dalam pengendalian hama penyakit  hanya sekitar 20% yang tepat sasaran, sisanya jatuh mencemari tanah dan lingkungan, bahkan membahayakan manusia.  Sisi negatif lainnya, pestisida juga dapat menyebabkan resistensi hama, oleh sebab itu Balai Perlindungan Perkebunan - Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat, menerapkan Pengendalian Hama  Terpadu (PHT) di Kelompok Tani Bebera, Desa Kancana, Kecamatan Cikijing, Kabupaten Majalengka, dengan maksud  mengurangai dampak resistensi hama dan pencemaran lingkungan.

Penerapan PHT yang  akan dilakukan dalam beberapa tahapan tersebut diawali dengan sosialisasi  dan pengamatan awal kondisi serangan hama penyakit di kebun kopi anggota kelompok tani Bebera  pada 2 minggu lalu.  Kini memasuki aktivitas tahap ke 3 yaitu, pembuatan Agens Pengendali Hayati (APH) dan pupuk bokashi dibawah bimbingan Kasi Bangtek (Maulud Wahyudin) dan Fungsional POTP (Diah Ayu Sitoresmi).  Aktivitas yang dihadiri kurang lebih 25 orang anggota kelompok tani tersebut berlangsung dengan tertib sesuai agenda yang telah disepakati bersama  di dekat lokasi kebun kopi salah satu anggota kelompok pada Selasa (20/10/20). 

Sebagaimana  prinsip dasar PHT yaitu, a) Budidaya Tanaman Sehat, b) Pemanfaatan Musuh Alami, c) Pengamatan Rutin, d) Petani Ahli PHT.  Maulud memulai dengan  bimbingan pengamatan hama penyakit, untuk mengetahui perkembangan serangan hama penyakit yang terjadi dikebun petani, setelah dilakukan pengamatan awal 2 minggu ke belakang, kemudian dilanjutkan dengan pembuatan pupuk bokashi, dan pembuatan Agen Pengendali Hayati (APH) cair berbahan Trichoderma sp.

Dalam rangka memotivasi dan meningkatkan kepedulian petani akan bahaya serangan hama penyakit, maka secara bergantian petani diminta melaporkan hasil pengamatannya untuk selanjutnya dibimbing dalam penentuan dominansi serangan.  Dari hasil laporan beberapa petani, secara umum disimpulkan intensitas serangan tertinggi dijumpai pada  penyakit karat daun.  Menurut Diah   “Gejala serangan karat daun  terlihat berwarna oranye pada daun seperti warna karat pada besi dan biasanya gejala lanjutan dapat mengakibatkan daun kering dan rontok “.

Agenda lain yang merupakan rangkaian penerapan PHT adalah pembuatan Pupuk  Bokashi, mayoritas petani  masih asing dengan pupuk bokashi. Maulud Wahyudin menjelaskan bahwa pupuk bokashi ini merupakan pupuk yang dihasilkan dari fermentasi bahan – bahan organik yang dilakukan secara anaerob maupun aerob. Bahan – bahan yang digunakan dalam pembuatan Bokashi ini adalah Hijauan, Pupuk Kandang, Sekam, Dedak, dan EM 4 sebagai dekomposer atau bisa diganti menggunakan MOL (Mikro Organime Lokal). Tak berselang lama, petani digiring untuk mempraktekkan pembuatan pupuk bokashi, antusiasme  dan semangat gotong royong diperlihatkan untuk mewujudkan keberhasilan  pembuatan pupuk bokashi ini.

Usai pembuatan pupuk bokashi, petani dituntun praktek pembuatan APH cair berbahan jamur Trichoderma sp. Penggunaan APH cair ini merupakan upaya pengendalian hama penyakit dengan memanfaatkan musuh alami sebagai prinsip dalam konsep PHT. Bahan yang diperlukan dalam pembatan APH cair ini sangat sederhana dan mudah di dapat, cukup memanfaatkan bahan yang ada dilingkungan sekitar, seperti air cucian beras, air kelapa tua, gula, dan stater jamur Trichoderma sp. Dalam pembuatannya pun relatif mudah hanya merebus, mendinginkan bahan dan terakhir mengocok atau bisa  disebut dengan proses 3 D (Direbus, Dinginkan, dan Dikocok.

Baik pupuk bokashi maupun agens pengendali hayati nantinya akan dimanfaatkan petani sebagai pupuk dikebunnya dan bahan pengendali hayati terhadap serangan hama penyakit yang muncul.  Ke depan  diharapkan petani  dapat menerapkan pengendalian serangan hama penyakit di kebunnya dengan menerapkan konsep PHT beserta prinsip – prinsipnya sehingga pertanian berkelanjutan dapat terwujud. (Edward Raynando Taliwongso)


Dibaca : 138 kali