CIAMIS – Petani kelapa di Dusun Pasirgintung Kabupaten Ciamis dibuat resah dengan serangan hama kumbang Oryctes sp. Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat  mendapat laporan via telp yang ditindak lanjuti dengan surat resmi dari Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cimis,  menginformasikan bahwa ratusan pohon kelapa Di Kecamatan Cimaragas positif terserang hama tersebut.

Brigade Proteksi Tanaman, Balai Perlindungan Perkebunan (BPP) Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat, melakukan verifikasi lapangan pada Kamis (5/11/20), dinyatakan serangan eksplosif kumbang tanduk tersebut terjadi akibat  tumpukan sampah yang tidak terurus.  Usut punya usut ternyata kumbang tanduk bersarang ditumpukan limbah kayu yang ada di lokasi pabrik pengolahan kayu milik salah satu perusahaan swasta.

Hal ini diperkuat  petugas Kabupaten yang ada di UPT Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Cimaragas, yang ditemui Brigade Proteksi Tanaman sesaat sebelum meninjau lokasi target.  Pengakuan  Koordinator BPP “Ir, Edi Kusnadi”  dan Kepala Desa Cimaragas “Lili Somantri”, mengamini informasi yang sedang melanda wilayahnya tersebut. Kumbang ini telah  menyerang  ratusan pohon kelapa milik petani di tiga desa, seperti Desa Cimaragas, Desa Jayaraksa dan Desa Beber.  Pihaknya memerintahkan stafnya untuk mendampingi petugas Balai Perlindungan Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat ke lokasi pabrik untuk melihat dan membuktikan keluhan para petani kelapa di lingkungan Kecamatan Cimaragas. 

Gejala serangan yang terlihat pada tanaman kelapa disekitar pabrik kayu secara umum betul gejala serangan  Oryctes sp, warga setempat menyebutnya  “bangbung”. Kerusakan akibat serangan relative berat, terindikasi dari adanya pohon kelapa yang mati dan tidak berproduksi lagi karena pucuk (humut) pohon kelapa sudah mati.  Lili mengatakan; serangan ini sudah mulai terlihat sejak akhir tahun 2019 dan masih terus berlangsung, dengan wilayah serangan semakin  meluas  ke desa tetangga yang berbatasan dengan Desa Cimaragas.

Sumber hama kumbang tanduk  diindikasikan berasal dari tumpukan ‘sampah veenir’ yang akan dijadikan bahan baku briket kayu di salah satu Pabrik Pengolahan Kayu yang terbengkalai yang terletak di Desa Cimaragas.  Petugas Brigade Proteksi Tanaman Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat berupaya menemui pihak pengelola pabrik, namun setelah menunggu kurang lebih satu jam  hasilnya nihil, pengelola tak kunjung datang sehingga petugas BPP hanya bisa mengabadikan tumpukan bekas lapukan kayu dan sampah yang tidak terurus serta gejala serangan pada tanaman kelapa disekitar pabrik.

“Tumpukan sampah yang tidak diurus dan mangkrak, menjadi sarang kumbang tanduk ujar salah seorang warga yang berdomisili di sebelah pabrik kayu.   Bukan hanya menyerang tanaman kelapa, kumbang juga menyerang halaman rumah warga.  Kalau malam hari kumbang tanduk “berkeliaran” di halaman dan teras rumah-rumah warga, sehingga pagi-pagi pemilik rumah terpaksa kerja keras mengumpulkan dan membakar  ratusan kumbang tanduk tersebut, lanjutnya sambil memperlihatkan kumbang tanduk yang berhasil dikumpulkannya satu jam yang lalu.

Kepala Desa dan warga setempat yang sengaja datang menghampiri petugas Brigade berharap segera ada solusi karena masyarakat telah dirugikan baik materil maupun moril.  Ratusan pohon kelapa telah ditebang karena sudah tidak berproduksi dan puluhan rumah menjadi sasaran  pelarian hama tanduk ini sehingga menimbulkan kerugian bagi warga sekitar, ujar Lili.

Gejala serangan kumbang tanduk, diperlihatkan dengan menyerupai guntingan-guntingan/potongan-potongan pada daun yang baru terbuka seperti huruf “V”, gejala ini disebabkan kumbang menyerang pucuk dan pangkal daun muda yang belum membuka yang merusak jaringan aktif untuk pertumbuhan. Serangan ini dilakukan oleh serangga jantan maupun betina.  Apabila titik tumbuh yang terserang maka pohon kelapa akan mati karena titik tumbuh tidak dapat menghasilkan daun. Kumbang tanduk ini bisa menimbulkan masalah di areal replanting maupun di areal tanaman tua. Tanaman kelapa mati atau lapuk serta sampah dan kotoran ternak merupakan tempat yang disukai oleh kumbang ini untuk berkembang biak.

Langkah pengendalian yang tepat dapat dilakukan dengan cara; 1)  mengidentifikasi tempat berkembang biak kumbang di setiap lokasi/desa, 2). Memusnahkan tempat berkembang biak, seperti batang kelapa atau kayu yang sudah lapuk, 3).  Penanaman tanaman penutup tanah, 4).  Pengendalian dengan menggunakan agens hayati:

  1. Baculovirus oryctes: lebih diutamakan untuk mengendalikan kumbang walaupun dapat menginfeksi larva, pelepasan kumbang terinfeksi 10 ekor per ha.
  2. Metarhizium anisopliae: lebih diutamakan untuk mengendalikan larva walaupun dapat menginfeksi kumbang, aplikasikan 50 gr per tempat berkembang biak (1x1x0.5m).
  3. Sanitasi: pembakaran tempat berkembang biak seperti serbuk gergaji, batang kelapa atau kayu lapuk dll.
  4. Pembuatan perangkap dari serbuk gergaji, perangkap dengan menggunakan antraktan
  5. Untuk mencegah terjadinya ledakan populasi kumbang tanduk pada lokasi peremajaan sebaiknya pada lahan tersebut ditanami tanaman penutup tanah, sehingga tanaman ini dapat menutupi tumpukan pohon kelapa yang bisa menjadi tempat perkembangbiakan kumbang tanduk.

Khusus kasus serangan kumbang tanduk di Kecamatan Cimaragas,  rekomendasi yang paling tepat sebagai upaya mengurangi perkembangbiakan Oryctes sp. adalah dengan memusnahkan tumpukan ‘sampah veenir’, memusnahkan kumbang tanduk secara kerja keras dan kompak sesama warga serta memadukan beberapa cara pengendalian atau Pengendalian Hama Terpadu (PHT). (SITI PURNAMA)


Dibaca : 58 kali