PANGANDARAN – Tiga aspek penting dari petani menjadi kunci utama  keberhasilan pengendalian hama penyakit yaitu; 1). Kemauan, 2). Kerja keras, dan 3). Kekompakan.  Tanpa salah satu dari ke 3 aspek tersebut akan sulit untuk dapat berhasil dalam pengendalian hama penyakit terutama di daerah endemis, kata Kepala Balai Perlindungan Perkebunan (Siti Purnama) saat memberikan sambutan arahan pengendalian OPT di kelompok tani Mitra Jaya, Desa Cibanten Kecamatan Cijulang Kabupaten Pangandaran pada Jumat (06/11/20).

Siti mengatakan, kegiatan ini merupakan respons dari pemerintah terhadap keresahan petani tentang terjadinya serangan hama penyakit di sentra sentra produksi kelapa termasuk di Desa Cibanten.  Menurutnya informasi keberadaan serangan hama tersebut diketahui dari laporan langsung yang disampaikan petani kepada Balai Perlindungan Perkebunan dan juga laporan secara resmi dari petugas Dinas Pertanian Kabupaten Pangandaran.

Pihaknya menegaskan, tingkat kerusakan yang diakibatkan hama penyakit sangat fatal, bisa menyebabkan gagal panen 50-80% apabila tidak dikendalikan dengan baik, oleh karena itu Siti berharap kegiatan pengendalian OPT yang diawali hari ini,  mampu menggugah motivasi petani untuk melakukan 3 aspek kunci keberhasilan pengendalian dengan tertib dan bersama-sama dengan anggota kelompoknya sehingga   para petani dapat memetik hasil panen kelapanya.

Menurut Siti, selama ini petani kurang tepat dalam melakukan pengendalian hama penyakit karena lebih mengutamakan penggunaan  pestisida berbahan kimia yang kurang ramah lingkungan serta tidak ekonomis, bahkan dapat mengganggu kesehatan petani dan merusak kelestarian lingkungan dibanding pestisida nabati atau hayati.  Melalui kegiatan pengendalian OPT ini, beliau meminta komitmen petani,  agar hama penyakit yang menyerang tanaman kelapanya dikendalikan dengan menggunakan APH sehingga   kegagalan produksi/kegagalan panen mampu dihindarkan.  Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat melalui Balai Perlindungan Perkebunan akan membina dan mengarahkan  penanganan hama penyakit yang tepat serta ramah lingkungan dan lebih ekonomis untuk petani, ujar Siti.

“Pengendalian hama penyakit tidak hanya dilakukan pada tanaman dewasa, akan tetapi sudah dimulai sejak dari seleksi benih, pengolahan lahan, dan persemaian,  jadi bukan hanya pada tanaman yang sudah tumbuh besar atau tanaman yang sudah diserang hama penyakit saja”, kata Siti.  Lebih lanjut beliau menegaskan,  pengendalian hama penyakit tidak selalu harus menggunakan pestisida kimia, tetapi dapat menggunakan pestisida nabati, pestisida hayati melalui agens pengendali hayati (APH) yang terbuat dari bahan bahan yang ramah lingkungan.  “APH merupakan teknik yang sangat tepat dan cocok untuk pengendalian hama penyakit kelapa karena ramah lingkungan, ekonomis, dan lebih efesien. Kelebihan APH antara lain; murah, mudah, ramah lingkungan dan tidak membunuh musuh alami, namun ada sedikit kendala penggunaannya, petani sering malas membuatnya, merasa lebih praktis membeli bahan kimia di kios-kios”, ujar Siti  mengakhiri  sambutan arahannya.

Rangkaian acara pembukaan diakhiri dengan penyerahan seperangkat sarana pengendali OPT berupa alat penyemprot hama penyakit, pacul, APH cair dan juga alat-alat laboratorium sederhana untuk pembuatan APH pada minggu berikutnya.  Sebagai tanda memotivasi kekompakan petani, diserahkan pakaian lapangan berupa kaos untuk setiap anggota kelompok tani Mitra Jaya yang diserahkan langsung oleh Kepala BPP kepada ketua kelompok  didampingi Kepala Desa.

Pada saat yang bersamaan  Maria Wulan sebagai narasumber mengatakan pengendalian hama penyakit kali ini akan dilakukan dengan menggunakan infus akar karena relative lebih mudah dibanding infus batang.  Kalau infus batang harus dengan teknik pemboran sedangkan infus akar cukup  dilakukan  dengan menggunakan  cangkul, akar dipotong pakai cutter sehingga lebih mudah, ujarnya.

Menurut Maria, petani harus memiliki  5 K yaitu gaduh kadaek, gaduh kahayang biar terlihat perubahan tanaman, gaduh kanyaah ke tanaman, gaduh kadeudeuh karena produksi banyak dan bagus sehingga akan menerima uang lebih banyak. Pihaknya menekankan agar petani mampu mengenali tanamannya sehingga jika ada keluhan tanaman maka paham cara pengendaliannya, “Kalau gak kenal maka gak tau cara mengendalikannya”, kata Maria.  Bekas penggargajian kayu bisa menjadi sarang bangbung atau kumbang,  bekas gergaji juga bisa dibuat jadi pupuk organik asalkan dicampur dengan hijauan dan kotoran kambing atau sapi, lanjutnya.

Kumbang “bangbung” menyerang daun kelapa, gejala serangannya daun akan terlihat berbentuk V dan lama kelamaan rusak, sementara kalua tidak ada daun maka tanaman akan mati karena tidak ada yang memproduksi makanan. Oleh sebab itu Maria mengajak petani agar minimal dua hari sekali melakukan dialog dengan tanaman kelapanya dan jika menemukan 1 kumbang maka langsung saja dimusnahkan, tidak perlu menunggu uluran tangan petugas, ujarnya.

Maria menjelaskan, dalam memelihara tanaman terdapat payung hukum berupa UU No. 22 tahun 2019 tentang sistem budidaya pertanian berkelanjutan yang mengamanatkan bahwa pengendalian tanaman itu dilaksanakan dengan cara PHT (Pengendalian Hama Terpadu) yaitu memadukan berbagai cara pengendalian yang cocok atau sesuai agar tanaman tetap sehat/tetap berproduksi.  Sebagaimana dipahami bahwa prinsif PHT ada 4 yaitu : 1). melakukan budidaya tanaman sehat, 2). Melakukan konservasi musuh alami, 3). Menggunakan cara pengendalian yang aman, 4). Petani menjadi manajer di kebunnya. Untuk itulah Maria berpesan “Kalau ke kebun lakukan pengamatan setiap hari, atau dua hari sekali, perhatikan apa yang terjadi atau apa yang berbeda pada tanaman tersebut”.  Tanaman harus diajak ngobrol seperti anak sendiri untuk mengetahui keluhannya, dengan cara  sering mengontrol atau melihat tanaman sehingga tau tanaman tersebut kekurangan apa?  

Sebagai pelengkap teknik pengamatan, Maria menjelaskan   cara menghitung serangan baik serangan berat, serangan sedang maupun serangan ringan. Teknik penentuan intensitas serangan dimulai dari melakukan pengamatan secara rutin terhadap pohon kelapa yang sama, oleh sebab itu pohon harus diberi tanda.  Maria mencontohkan untuk satu kebun, tanaman yang  diamati  cukup 10 pohon, dipilih secara acak.  Metoda pengamatan yang dilakukan bisa dipilih salah satu antara metoda diagonal, siksak atau bintang.  Lebih lanjut ditegaskan, cara mengambil sample harus terwakili, oleh sebab itu harus acak.  Penentuan intensitas serangan dilakukan dengan cara menghitung semua pelepah kelapa berapa jumlahnya dan yang terserang hama penyakit berapa, hal ini dapat dilihat dari gejala yang ada di pohon baik yang terserang ulat maupun terserang kumbang. Lalu membandingkan antara jumlah pelepah yang terserang dengan total jumlah pelepas dalam 1 pohon kelapa dikalikan 100%.  Jika hasilnya kurang dari 20% berarti intensitas serangan tergolong ringan, sebaliknya jika hasil perhitungan serangan lebih dari 20% artinya intersitas serangan  termasuk serangan berat, tutup Maria mengakhiri penjelasannya.

Disisi lain, Diah mencoba menjelaskan  teknik pembuatan Agens Pengendali Hayati (APH) sebagai persiapan dalam pengemdalian hama penyakit yang akan dilakukan pada pertemuan selanjutnya.  Menurut Diah alasan disebut agens hayati  karena berasal dari makhluk hidup.  Beliau menjelaskan jenis APH: ada predator yaitu serangga memakan hama misal ular makan tikus, ada juga parasitoit yaitu membunuh dengan cara menginfekti serangga hama, kemudian ada pathogen dengan cara menyebabkan penyakit pada hama yang  diserang.  Alasan menggunakan APH karena relative aman bagi manusia dan lingkungan, mudah diperbanyak dan relative murah. Sehingga biaya produksi lebih murah khsusnya untuk biaya pengendalian.

Sesaat sebelum menggiring petani untuk malakukan praktek pengamatan, Maulud memberi penjelasan bahwa pengamatan itu biasanya identik dengan silaturahmi dengan tanaman  artinya petani harus mampu  ngobrol dengan tanaman melalui dikontrol dalam waktu waktu tertentu sehingga  ketahuan kekurangan apa/ misalnya daun berwarna kuning jadi tanaman kekurangan pupuk, atau kena hama penyakit dengan demikian dapat diketahui   apa yang harus diberikan atau dilakukan.  Tindakan tersebutlah yang dinamakan  pengamatan, ujar Maulud sambil mengajak petani melakukan praktek pengamatan dikebun ketua kelompok tani. (SITI PURNAMA).


Dibaca : 40 kali