BANDUNG – Kunjungan lapangan tim penilai Kompetisi Inovasi Jawa Barat (KIJB) ke Balai Perlindungan Perkebunan dan ke kelompok tani Giri Senang pada hari Senin (16/11/20) berjalan lancar karena mendapat dukungan penuh dari pihak-pihak terkait. Rombongan tim penilai yang dipimpin langsung oleh Kepala Bagian yang menangani KIJB di Biro Organisasi Setda Prov. Jabar “H. Ateng Kusnandar”  tersebut diterima secara resmi oleh Kepala Dinas Perkebunan Prov. Jabar “Ir. Hendy Jadnika, MM”

Kunjungan lapangan yang dilakukan oleh tim juri independen Kompetisi Inovasi Jawa Barat (KIJB) ini merupakan pembuktian implementasi dan dampak bagi penerima manfaat dengan tujuan untuk melengkapi penilaian atas inovasi Aksi Tali Intan (Aksi Petani Peduli Perlindungan Tanaman dan inovasi Lima Perak (Pengendalian Terpadu Hama Penggerek Buah Kopi) yang  berdasarkan surat Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat no. 067/4485/Org tanggal 13 Oktober 2020  ditetapkan masuk ke dalam TOP32 KIJB.

Ke 2 inovasi ini merupakan gagasan Balai Perlindungan Perkebunan untuk memotivasi petani meningkatkan produktivitas tanpa menggunakan bahan kimia.  Aksi Tali Intan mengedepankan teknik pengendalian hama penyakit pada semua tanaman perkebunan sedangkan Lima Perak menitik beratkan pada strategi pengendalian hama penggerek buah kopi (PBKo).  Sebelumnya ke 2 inovasi ini telah  melewati tahapan presentasi/wawancara  pada bulan Oktober lalu tepatnya hari Senin tanggal 26 Oktober 2020 di Ruang Malabar Gedung Sate, Jalan Diponegoro No. 22 Kota Bandung. 

Hari ini dua orang tim penilai yang kompeten dibidangnya “Suhendrik dan Ahmad Komarulzaman” di damping oleh  “H. Ateng Kusnandar”  beserta 2 orang staf  “Nandang dan Armi”  melakukan kunjungan lapangan ke Balai Perlindungan Perkebunan untuk diskusi/pendalaman terkait dampak dan implementasi inovasi (wawancara para penerima manfaat inovasi)  yang dilanjutkan dengan peninjauan lokasi Inovasi ke kebun kopi palasari milik kelompok tani Giri Senang.

Selain berdiskusi/wawancara dengan penerima manfaat, tim juri juga membuktikan bahan dan alat yang digunakan dalam implementasi  Aksi Tali Intan dan inovasi Lima perak.  Dodi sebagai penerima manfaat Aksi Tali intan menceritakan pengalamannya sebelum dan sesudah melaksanakan Aksi Tali Intan, baik dari aspek serangan hama penyakit, produktivitas, mutu produk sampai kepada penghasilan yang diperolehnya.  Hal senada juga dijelaskan oleh Ruswan sebagai penerima manfaat Lima Perak.  “Strategi yang dilaksanakan dalam menjalankan Lima Perak menjadi keunggulan yang efisien dan efektif di lapangan, sehingga kami sangat terbantu khususnya mengurangi biaya produksi”, ujar Ruswan kepada tim penilai.

Selain berdiskusi/wawancara dengan penerima manfaat, tim juri juga membuktikan bahan dan alat yang digunakan dalam implementasi  Aksi Tali Intan dan inovasi Lima perak.  Dodi sebagai penerima manfaat Aksi Tali intan menceritakan pengalamannya sebelum dan sesudah melaksanakan Aksi Tali Intan, baik dari aspek serangan hama penyakit, produktivitas, mutu produk sampai kepada penghasilan yang diperolehnya.  Hal senada juga dijelaskan oleh Ruswan sebagai penerima manfaat Lima Perak.  “Strategi yang dilaksanakan dalam menjalankan Lima Perak menjadi keunggulan yang efisien dan efektif di lapangan, sehingga kami sangat terbantu khususnya mengurangi biaya produksi”, ujar Ruswan kepada tim penilai.

Untuk melengkapi informasi dari ke dua penerima manfaat sekaligus  memperjelas perbedaan implementasi Aksi Tali Intan dan Lima Perak, inovator “Siti Purnama” memberikan informasi tambahan kepada tim penilai, baik dari sisi keunikan/keunggulan masing-masing inovasi maupun dari cara penerapannya di lapangan.  Berbagai alat peraga diperlihatkan kepada tim penilai untuk mempermudah memahami perbedaan ke dua inovasi dimaksud, mulai dari sarana pengendali berupa Agens Pengendali Hayati (APH), alat perangkap yang digunakan Lima Perak, hingga gejala serangan penggerek buah kopi (PBKo).  Sedangkan untuk Aksi Tali Intan diperlihatkan dengan contoh daun cengkeh yang terserang penyakit dan buah kakao yang terserang hama penggerek buah (PBK).

Usai diskusi dan wawancara di Balai Perlindungan, rombongan tim penilai dan pendamping bersama Kepala Biro Organisasi Setda Prov. Jabar, Kepala Dinas Perkebunan Prov. Jabar, Kepala Balai Perlindungan beserta 4 orang staf,  mengunjungi lokasi implementasi inovasi untuk melihat secara langsung pelaksanaan Aksi Tali Intan dan Lima Perak  serta memberikan beberapa pertanyaan untuk melengkapi data yang dibutuhkan.  Tim penilai meminta petani   mempraktekkan cara memungut bagian tanaman yang terserang hama penyakit, sebagai pembuktian inovasi Aksi Tali Intan.  Begitu pula untuk inovasi Lima Perak, tim penilai meminta petani   melakukan strategi pengendalian mekanik  dengan memetik buah  yang terserang hama penggerek buah kopi (PBKo), kebetulan pada salah satu tanaman ditemui  buah merah sisa panen yang terserang hama PBKo.

Tambahan data dan informasi hasil kunjungan lapangan ini akan menjadi bahan pertimbangan dalam penentuan TOP 10 Inovasi Pelayanan Publik Jawa Barat Tahun 2020. Semua tahapan rangkaian penilaian telah dilalui,  harapan semua pihak semoga ke dua inovasi (Aksi Tali Intan dan Lima Perak) masuk ke dalam TOP 10 Kompetisi Inovasi Jawa Barat (KIJB) tahun ini, (Siti Purnama).


Dibaca : 18 kali