MAJALENGKA-Penggunaan pupuk dan pestisida kimia  secara terus menerus mengakibatkan tanah (lahan tempat tumbuh tanaman) menjadi keras, meningkatkan serangan hama dan penyakit tanaman, meninggalkan  residu di semua bagian tanaman, merusak kesehatan produsen dan konsumen, menyebabkan pencemaran air, tanah dan udara, menimbulkan resistensi dan resurjensi hama, menimbulkan strain baru pathogen, menambah biaya produksi,  dan mengganggu keseimbangan ekosistem.  Hal ini diungkapkan Kasi Bangtek “Maulud Wahyudin” pada saat membimbing petani dalam melakukan perbanyakan APH padat Trichoderma sp. dan aplikasi pupuk bokashi di kelompok tani Bebera, Desa Kancana, Kecamatan Cikijing, Kabupaten Majalengka.

Ke dua aktivitas yang dilakukan pada hari Kamis (12 November 2020) ini merupakan lanjutan  Penerapan Pengendalian Hama Penyakit Terpadu setelah melewati 3 tahap sebelumnya.  Maulud menegaskan penggunaan bahan kimia  tetap tidak dapat menyelesaikan masalah, karena lebih banyak kelemahannya dari pada keuntungannya. 

Pihaknya menjelaskan  bahwa dalam melakukan pengendalian hama penyakit, sebenarnya lingkungan disekeliling kita sudah menyediakan cara pengendalian yang aman dan ramah melalui  keberadaan musuh alami. Akan tetapi dikarenakan ulah manusia yang tidak bersahabat, keberadaan musuh alami  sudah mulai berkurang bahkan   tidak  mampu lagi  melakukan pengendalian secara alami.

Beliau menyebutkan kondisi prihatin ini menuntut dilakukannya edukasi budidaya tanaman sehat dan penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) kepada petani.  Komponen PHT ada 8 yaitu; 1). Pengendalian kultur teknis, 2). pengendalian secara fisik dan mekanik, 3). pengendalian secara hayati, 4). pengendalian secara nabati, 5). pengendalian dengan tanaman (varietas) tahan, 6). pengendalian dengan pestisida, 7). pengendalian dengan jantan mandul dan 8). pengendalian dengan undang-undang (karantina).

Disisi lain dijelaskan bahwa keuntungan PHT antara lain: keseimbangan alam terjaga, biaya produksi rendah, hasil panen banyak dan aman dikonsumsi, keuntungan petani meningkat, kelestarian lahan meningkat dan berkelanjutan, kesehatan petani dan konsumen terjamin dan yang terpenting produk yang dihasilkan mampu berkompetisi di pasar bebas.

Atas dasar ini Balai Perlindungan Perkebunan (BPP), Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat membimbing petani  mengembangkan Agensia Pengendali Hayati (APH)  berbahan Jamur Trichoderma sp.  Bahan APH ini  sebenarnya tersedia dilingkungan petani dan dapat diperbanyak secara mandiri oleh petani agar berfungsi sebagai pestisida hayati.  

Ida Farida (fungsional POPT BPP) meyakinkan petani akan manfaat dan keuntungan penggunaan APH. Menurutnya  kelebihan pengendalian hayati; 1). Tidak berdampak negative terhadap lingkungan, 2). Mencegah terjadinya ledakan OPT sekunder, 3). Produk yang dihasilkan terbebas dari residu, 4). Mutu produk terjamin baik, 5). Mudah disiapkan dan diaplikasikan, 6). Aman bagi manusia, 7). Tidak perlu beli karena ada disekitar tanaman, 8). Mencegah ketergantungan  terhadap pestisida kimia, 9). Menurunkan biaya produksi, 10). Tahan lama di alam.

Pihaknya juga menegaskan, Agensia Pengendalia Hayati (APH) ini bersifat selektif hanya menyerang sasaran organisme pengganggu dan tidak akan menyerang organisme yang menguntungkan atau bermanfaat bagi tanaman. Namun demikian terdapat beberapa sisi negative dari pengendalian hayati ini yaitu; spesifik lokasi, kendala geografi dan suhu, tidak mampu mengatasi hama penyakit yang berada dalam jaringan tanaman, dapat terkontaminasi ke musuh alami, penyiapan dan produksi nya membutuhkan rangkaian panjang, masa simpan terbatas.

Sebelum melakukan praktek pengembangan APH, terlebih dahulu  para petani diwajibkan melakukan pengamatan serangan hama penyakit dan menganalisis hasil pengamatan serta membandingkan dengan hasil pengamatan sebelumnya untuk didiskusikan bersama pembina tentang gambaran umum keberadaan atau perkembangan hama penyakit di kebun masing-masing.  Teknik pengamatan telah diajarkan pada pertemuan sebelumnya sehingga petani telah mampu melakukan pengamatan sendiri.

Masih dalam rangkaian penerapan PHT, kondisi kebun juga harus mendapat perhatian serius dan pemeliharaan yang baik.  Selain melakukan pengamatan serangan hama penyakit, petani diwajibkan melakukan pemeliharaan kebun melalui pemangkasan ranting atau batang yang tidak berguna atau yang diprideksi akan mengganggu pertumbuhan tanaman dan produksi buah.

Pada pertemuan sebelumnya, Maulud Wahyudin telah mempraktekkan cara membuat pupuk bokashi dan teknik fermentasinya.  Dikatakan bahwa, pupuk bokashi merupakan pupuk yang dihasilkan dari fermentasi bahan-bahan organik dengan bantuan mikroorganisme activator untuk mempercepat proses fermentasi. 

Pertemuan ke 4 ini, sekilas dijelaskan manfaat pupuk bokashi, yaitu; memperbaiki sifat fisik, kimis dan biologi tanah, meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil, meningkatkan kandungan material organik tanah sehingga mengurangi kepadatan tanah dan dapat mempermudah masuknya air ke dalam tanah, dan juga mampu mengurangi kelengketan tanah.  Pupuk bolashi yang sudah dibuat petani pada tahap sebelumnya, kini sudah siap diaplikasikan pada tanaman, teknik aplikasi harus memperhatikan efisiensi dan efektivitas.

Sesaat setelah diskusi hasil pengamatan dan aplikasi pupuk bokashi, Ida Farida  membimbing petani membuat Agensia Pengendalia Hayati berbentuk padat, karena pertemuan sebelumnya sudah dilatih membuat APH berbentuk cair. Ida menjelaskan sehubungan keberadaan agens hayati di dalam suatu ekosistem sering kali kurang memadai, maka perlu dilakukan pengembangan agens pengendali hayati baik ditingkat petani maupun ditingkat laboratorium, sehingga keseimbangan dalam ekosistem dapat terjaga dan hasil produksi diharapkan dapat meningkat. 

“Kali ini akan mempraktekkan perbanyakan agens hayati padat dari Trichoderma sp., media yang digunakan cukup jagung giling, kata Ida”.  Cara kerjanya sangat sederhana, jagung giling dicuci sampai bersih sebanyak kira-kira 4 kali pencucian lalu dikering anginkan kemudian jagung dimasukkan ke dalam kantong plastik tahan panas dan dilipat seperti lontong.  Jagung yang sudah dibungkus dikukus dalam dandang selama kurang lebih 2 jam, lalu didinginkan.

Jagung yang sudah dingin segera  diinokulasikan isolate Trichoderma sp., pada tempat yang sudah disediakan yaitu dalam kotak inchase.  Hasil inokulasi didederkan dengan salah satu sudut plastik mengarah ke atas sehingga membentuk kerucut.  Lama inkubasi dalam plastik kurang lebih 7 hari, ditandai dengan warna jagung berubah jadi putih, kemudian menjadi hijau, sehingga siap digunakan.

Prinsip-prinsip kerja ini harus benar-benar dipahami petani karena mampu memberikan hasil yang baik.  Diharapkan petani secara mandiri akan berkesinambungan melakukan perbanyakan APH sendiri, karena dampak aplikasinya pada tanaman telah terbukti.  Beberapa petani yang sudah menerapkan mengaku,   produksi tanaman  meningkat yang diikuti dengan meningkatnya penghasilan dan kesejahteraan petani.  Dampak lain yang tak kalah pentingnya, populasi hama penyakit dan kerusakan tanaman secara ekonomi tidak merugikan artinya populasi hama penyakit berada dibawah ambang ekonomi, serta dampak pengurangan resiko pencemaran lingkungan. (Edward Raynando Taliwongso)


Dibaca : 44 kali