SUMEDANG – “Pertanian organik menjadi salah satu jaminan kesehatan bagi produsen dan konsumen.  Sebagai contoh kebun kopi tanpa penggunaan bahan kimia (pestisida dan pupuk), tentu jauh lebih baik ketimbang kebun kopi dengan penggunaan pestisida dan bahan kimia lainnya.  Lingkungan yang alami bebas bahan kimia akan lebih menyehatkan baik bagi tumbuhan, hewan dan manusia di sekitarnya.  Begitu pula dengan kesehatan konsumen  akan lebih terjamin, jadi sehat kopinya, sehat produsen dan konsumennya”, kata Kepala Balai Perlindungan Perkebunan saat mengunjungi kebun kopi organik kelompok tani Bubuay di Kecamatan Sukasari, Kabupaten Sumedang pada Selasa (24/11/2020).

Kunjungan yang didampingi Kasi Sartek, A. Uron tersebut bertujuan untuk monitoring pelaksanaan sanitasi kebun, pengamatan serangan hama penyakit, pembuatan agens pengendali hayati (APH) dan praktek penyemprotan APH pada kebun kopi organik milik salah satu anggota kelompok tani Bubuay.  Uron menjelaskan bahwa salah satu penerapan prinsip PHT adalah budidaya tanama sehat.  Budidaya tanaman yang sehat dan kuat menjadi bagian penting dalam program pengendalian hama penyakit, ujar Uron.

Beliau menjelaskan, tanaman yang sehat akan mampu bertahan terhadap serangan hama penyakit dan lebih cepat mengatasi kerusakan akibat serangan hama penyakit tersebut, oleh karena itu setiap usaha dalam budidaya tanaman kopi  seperti pemilihan varietas, penyemaian, pemeliharaan tanaman sampai penanganan hasil panen perlu diperhatikan agar diperoleh pertanaman yang sehat, kuat dan produktif, serta hasil panen yang tinggi, kata Uron sambil mengajak anggota kelompok mempraktekkan sanitasi kebun.

Pada kesempatan yang sama, Edward sebagai koordinator Satuan Pelayanan (Satpel) Balai Perlindungan Perkebunan untuk Kabupaten Sumedang, menjelaskan teknik  pengamatan dan monitoring keberadaan hama penyakit tanaman kopi kepada salah satu anggota kelompok tani Bubuay.  Pihaknya secara detil mencontohkan teknik pengamatan, teknik pengambilan sample tanaman yang akan diamati, cara pengisian tabel dan juga memperlihatkan cara hama PBKo menggerek buah kopi.

Sementara melakukan pengamatan, anggota kelompok lainnya belajar  melakukan aplikasi pestisida hayati yang telah dibuat kelompok tani sebulan yang lalu.  Dosis ditentukan sesuai penggunaan target sasaran, berhubung pestisida yang digunakan terbuat dari bahan hayati (mikroorganisme) maka diharapkan mampu mengenai hama penyakit yang menjadi target dan dipastikan tidak akan membunuh musuh alami yang terdapat pada kebun kopi.  Agens pengendali hayati yang digunakan merupakan APH padat, yang terlebih dahulu harus dibuat menjadi larutan agar bisa disemprotkan.

Pengendalian hama penyakit secara hayati merupakan salah satu komponen dalam pengendalian hama terpadu (PHT), dimana dengan cara hayati diharapkan terjadi keseimbangan dalam ekosistem, sehingga keberadaan hama penyakit tidak menimbulkan kerugian secara ekonomis. Begitu pula dengan pengelolaan ekosistem yang baik, peran musuh alami dapat dimaksimalkan untuk mencegah timbulnya eksplosi hama penyakit, papar Kepala Balai Perlindungan sesaat sebelum melakukan aplikasi APH.

Pihaknya menjelaskan, Agens Pengendali Hayati (APH) adalah setiap organisme yang dalam semua tahap perkembangannya dapat dipergunakan untuk keperluan pengendalian hama penyakit  dalam proses produksi, pengolahan hasil dan juga berbagai keperluannya.  “Sebenarnya keberadaan APH ini telah tersedia di suatu ekosistem, tetapi seringkali keberadaannya pada tingkat yang tidak memadai, hal ini menyebabkan populasi hama penyakit cenderung semakin meningkat”, kata Ka Balai.

Lebih lanjut diuraikannya bahwa ketersediaan agens pengendali hayati yang memadai pada suatu ekosistem, sangat menentukan keberhasilan usaha pengendalian hama penyakit.  Sehubungan dengan hal tersebut, maka perlu dilakukan pengembangan agens pengendali hayati baik ditingkat petani maupun ditingkat laboratorium, sehingga keseimbangan dalam ekosistem dapat terjaga dan hasil produksi diharapkan dapat meningkat, ucapnya.

Beliau mengamini, konsep dasar PHT adalah menggunakan pengetahuan tentang biologi, perilaku, dan ekologi hama untuk menerapkan serangkaian strategi sepanjang tahun secara terpadu yang menekan dan mengurangi populasi hama. Pendekatan ini mempertimbangkan strategi untuk menekan atau menghindari hama di seluruh lahan pertanian dan sekitarnya, dan strategi  untuk mengelola hama dan populasi serangga yang menguntungkan dalam tanaman. 

Menurutnya ada empat unsur PHT yang harus dipahami setiap orang dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus melakukan tindakan efektif dan efisien pengelolaan hama penyakit, yaitu: 

  1. Pengendalian alamiah, artinya memahami faktor-faktor yang mempengaruhi populasi hama.
  2. Ambang Ekonomi (AE) dan Tigkat Kerusakan Ekonomi (TKE), berguna untuk mengetahui kapan pengendalian dilakukan.
  3. Monitoring (Teknik Sampling), bertujuan mengamati secara berkala polupasi hama dan musuh alaminya;
  4. Biologi dan Ekologi tanaman, musuh alami, dan hama.

Berdasarkan konsep, unsur dan prinsip-prinsip PHT yang telah dikemukakan, maka untuk penerapan PHT diperlukan komponen teknologi, sistem pemantauan yang tepat, dan petugas atau petani yang terampil dalam penerapan komponen teknologi PHT. (Ir. Siti Purnama, MP).


Dibaca : 176 kali