BANDUNG – “Baik hama penggerek buah kopi (PBKo) maupun penyakit Karat Daun  menjadi tanggungjawab bersama dan harus kita tanggulangi secara bersama-sama. Ini bukan permasalahan segelintir orang saja, melainkan perlu melibatkan berbagai pihak  mulai dari petani, pemerintah, penyuluh dan  stakeholder lainnya”, kata Kepala Dinas Perkebunan (Hendy Jatnika) saat memberikan gambaran umum hama penyakit kopi pada  webinar yang diselenggarakan oleh Balai Perlindungan Perkebunan Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat, Selasa (01/12/2020).

Sebagai Kepala Dinas, Hendy Jatnika bertindak selaku keynote  speaker pada  webinar yang bertemakan : Antisipasi Pandemi PBKo dan Karat Daun Kopi itu.  Pihaknya mengatakan, di masa pandemi seperti sekarang ini sebaiknya kita melakukan berbagai implementasi pengendalian PBKo di beberapa fase pertumbuhan tanaman. Pada saat fase pembungaan lakukan teknik pengendalian secara hayati seperti penyemprotan menggunakan Beauveria bassiana, fase pembuahan lakukan teknik pengendalian secara fisik yaitu pemasangan perangkap atraktan, dan fase berbuah hingga akhir masa panen lakukan pengendalian secara mekanik (mengambil buah yang terserang di pohon atau buah terserang yang sudah jatuh ke tanah). Hal ini tentu akan mengurangi penyebaran hama dan penyakit pada tanaman kopi, ujar Hendy.

Webinar yang dihadiri 108 orang peserta tersebut, menampilkan Aris Budiman, S.P., M.Si. (Peneliti Proteksi Tanaman pada Puslitkoka Jember) sebagai narasumber tunggal yang dipandu/dimoderatori oleh Dr. Intan Taufik (Dosen SITH ITB) selama acara berlangsung.  Aris menjelaskan bahwa hama PBKo  betina menyerang buah kopi yang masih hijau, merah, dan yang sudah kering hitam.  Akibat gerekannya,  buah menjadi gugur, berlubang, sehingga menurunkan produksi dan mutu bahkan menyebabkan penurunan cita rasa dan aroma kopi.

Beliau  memberikan gambaran  populasi sebaran PBKo pada tanaman kopi,  menurutnya sebaran vertikal terbagi ke dalam 3 bagian ketinggian,   pada ketinggian 0,5 meter, serangan PBKo tergolong rendah; pada ketinggian 1 meter ditemui serangan PBKo sedang dan pada ketinggian 1,5 meter serangan PBKo tinggi, tentunya ini dipengaruhi oleh biologi dan ekologi tanaman.   Sedangkan sebaran horizontal terutama pada kopi robusra pada umumnya dijumpai populasi PBKo  secara mengelompok, ujar beliau.

Aris menjelaskan, teknik pengendalian PBKo yang dapat dilakukan bisa berupa Pengendalian secara Kultur Teknis, melalui petik bubuk dan lelesan karena usia imago lebih dari 100 hari (bisa 3 – 4 bulan), maka jika petik bubuk dan lelesan tidak dilakukan kebun tersebut bisa menjadi sumber daerah persebaran. Beliau menekankan yang paling baik dan harus  dilakukan, untuk menangani serangan PBKo adalah pengendalian secara terintegrasi.  “Setelah kita melakukan panen raya, petik bubuk, racutan, kemudian ada kegiatan lelesan. Lelesan bisa mengurangi populasi awal PBKo. 

Pihaknya menyarankan, untuk kebun yang belum dilakukan monitoring keberadaan PBKo, sebaiknya dipasang sebagai landasan Erly Warning System (EWS), namun jika sudah diidentifikasi terdapat hama PBKo, maka sebaiknya perhatian harus konsentrasi untuk pengendalian karena sifat Hama PBKo mengelompok, dari satu titik menyebar.   Secara teknis Aris menegaskan, faktor kelembaban sangat berpengaruh terhadap perkembangan hama PBKo, maka kita harus mengatur kelembaban atau naungan, disamping mengupayakan  proses panen secara serempak.  

Pengendalian secara kultur teknis dapat dilakukan dengan pengaturan naungan dan tajuk kopi agar tidak terlalu gelap, sehingga tidak disukai oleh PBKo dan penanaman klon yang masak secara serentak.  Teknologi lainnya adalah menggunakaan parasitoid Cephalonomia stephanoderis yang awalnya diintroduksi dari Afrika.  Cara lain yang dapat dilakukan sebagai pencegahan dan juga sebagai pengendalian adalah penggunaan agens hayati  Entomopatogen jamur Beauveria bassiana.   Namun demikian terdapat beberapa kendala penggunaan Beauveria bassiana,  antara lain kesulitan dalam penyiapan dan aplikasi, tidak tahan lama, cepat mati setelah aplikasi, butuh kelembaban tinggi, waktu berkecamba panjang.

Aris menuturkan ciri-ciri isolat B. bassiana yang baik : pertumbuhan harus cepat dan seragam, spora yang terbentuk pada permukaan koloni harus lebat, isolat mempunyai viabilitas (daya kecambah)  80 – 100%, dan dapat mematikan serangga sasaran hingga 80 – 100%.   Cara aplikasi di lapangan, dari sisi waktu dapat   dilakukan pagi atau sore hari, dengan dosis/Ha sebanyak 50-100 gram spora kering atau 2,5 Kg biakan padat. Pihaknya menyarankan agar melakukan evaluasi setiap 1 minggu sekali setelah aplikasi  B. bassiana, dengan cara menghitung jumlah buah/ranting, jumlah buah berlubang, dan jumlah PBKo terinfeksi.

Menurutnya pengendalian secara fisik juga cukup efektif dilakukan dengan cara, buah hasil sanitasi (petik bubuk, lelesan, racutan) diperlakukan dengan air panas selama 5 menit untuk membunuh serangga PBKo dalam buah. Selain itu disarankan penyimpanan biji kopi hendaknya dengan kadar air biji di bawah 12,5%.

Sesuai dengan tema, Aris juga memaparkan penyakit karat daun secara rinci.  Menurutnya penyakit karat daun dapat timbul akibat interaksi yang terjadi  antara patogen (Hemileia vastatrix) dengan tanaman kopi (pengaruh varietas, dll) dan juga interaksi dengan lingkungan (upaya dari kegiatan agronomis dan kesesuaian lahan yang digunakan).  Dari ketiga aspek tersebut juga dapat  gunakan untuk pengendalian jangka panjang, peramalan untuk menekan kejadian penyakit seminimal mungkin.

Pihaknya menuturkan gejala serangan penyakit karat daun, tampak  bercak kuning di bagian bawah daun. Warna kuning tersebut merupakan tubuh buah/spora yang faktor penyebarannya dapat dilakukan  melalui air dan angin.  Sedangkan faktor lain yang cukup berpengaruh terhadap penularan penyakit karat daun ini adalah   ketahanan tanaman, dan curah hujan.  Aris menjelaskan, sifat penyakit karat daun : banyak menyerang di dataran rendah di bawah 1.400 mdpl.  Hujan berkontribusi terhadap penyebaran uredospora, optimal menginfeksi pada suhu 21-28oC. insidensi tinggi terjadi pada daerah berpenaung lebat dan mudah disebarkan oleh tenaga kerja/manusia.

Webinar yang berlangsung selama 2 jam efektif tersebut, terkesan sangat menarik, terlihat dari kumunikasi 2 arah antara peserta dan narasumber/moderator dalam melempar pertanyaan/tanggapannya.  Banyaknya ragam pertanyaan yang diajukan pada narasumber, telah memperkaya pengetahuan semua peserta yang hadir, mulai dari cara mendeteksi dini keberadaan PBKo,  ketertarik PBKo dengan warna atau suara atau gelombang, bibit yang tahan PBKo, sampai kepada pembuatan  hypotan  sebagai perangkap  dan   pengaruh B.bassiana di dalam buah kopi terhadap kualitas kopi seperti cita rasa dan aroma. (SITI PURNAMA)


Dibaca : 132 kali