BANDUNG - Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil (RK) meluncurkan program Petani Milenial yang akan launching tanggal 14 Februari 2021 di Desa Cikadu, Cianjur Selatan. Program ini sebagai bentuk upaya pemulihan ekonomi akibat pandemic covid-19  di Jawa Barat. Selain itu, program ini berkolaborasi dengan beberapa OPD di Jawa Barat, kalangan akademisi (IPB) dan BUMD (Agro Jabar). Harapannya dengan adanya program ini Jawa Barat berswasemda pangan dengan mengedepankan teknologi 4.0. Hal ini ditegaskan Ridwan Kawil saat  rapat terkait program petani milenial melalui zoom meeting  pada hari Selasa (02/02/21).

“Program petani milenial sebagai pemulihan ekonomi yang paling inovatif, paling massif. Ini adalah lompatan karena petani jabar harus menguasai teknologi 4.0,” tegas Ridwan Kamil. 

Selanjutnya, RK menegaskan bahwa intinya bulan ini harus sudah dimulai sebuah proses seleksi. “Bulan Februari adalah proses seleksi administrasi, sambil disiapkan tahap 1 yang paling siap yang penting terjadi sebuah upaya-upaya. Kemudian proses pendaftaran itu bayangan saya gak usah bikin website lagi, cukup daftar di Pikobar saja. Jadi, Pikobar tolong dibikinkan fitur pendaftaran petani milenial”, kata RK.

Konsep dasar petani milenial yang digagas Gubernur adalah berdasarkan potensi petani saat ini. Karakteristik petani Jawa Barat hari ini kurang lebih 75 persen berusia 40 ke atas. Dengan konsep ini kita mulai modernisasi petani milenial dengan konsep 4.0, sehingga diharapkan Jabar bisa menjadi lumbung pangan nasional, pungkas Kepala Biro Perekonomian, Benny Achmad Bachtiar.

Mengutip ungkapan yang dikatakan Gubernur Jabar saat acara Java West Summit Investment, “Jabar jangan sampai terjadi krisis suplai pangan, jadi tidak ada lagi lahan yang menganggur terutama asset pemprov, kekurangan petani milenial, dan tidak ada lagi petani yang belum sejahtera karena jualannya masih konvensional”, ungkap Benny.

Ada empat harapan dari program petani milenial sesuai jargon Gubernur Jabar, ”hidup di desa, rejeki kota, bisnis mendunia”, yaitu; (1) menumbuhkembangkan kewirausahaan muda petani di Jabar (2) mengubah wajah pertanian menjadi segar, agar generasi milenial tertarik menjadi petani dengan pemanfaatan teknologi digital (3) menciptakan pertanian maju, mandiri, dan modern, (2) mengurangi problem ketersediaan tenaga kerja petani di Jabar, sambung Benny.

Semangatnya di awal bagaimana menangkal urbanisasi, anak-anak milenial kita untuk mencari mata pencaharian di perkotaan, dan kita juga mencoba untuk memberikan kesempatan kepada mereka yang bekerja diperkotaan yang sekarang kembali ke desa perlu kita dorong untuk beraktivitas di sektor pertanian, pungkas Beny.

Dalam program ini, Biro Perekonomian ditunjuk sebagai leading sektornya. Kemudian berkolaborasi dengan delapan OPD yang terdiri dari Dinas Perkebunan, Dinas Kehutanan, Dinas Ketahanan Pangan dan Perternakan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Koperasi dan UMKM, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa.

Menurut Beny, adapun kegiatan yang sudah dilakukan dalam program petani milenial yaitu diantaranya (1) menginventarisir potensi lahan, hasil penataan asset lahan yang dapat dimanfaatkan untuk pelaksanaan program. Namun belum semua bisa diinventarisir tetapi bersama BPKAD masih berusaha mengetahui potensi lahan non produktif dimaana saja yang ada, (2) menginventarisir peluang pasar yang ada, mengenai pendataan pasar komoditas pertanian, baik pasar export maupun subtitusi import terus dilakukan bersama OPD, (3) penentuan komoditas pertanian, (4) pendataan petani milenial, melakukan pendataan petani muda rentang usia 19-39 tahun, yang berminat dan memenuhi syarat-syarat program, (5) pengembangan kapasitas petani milenial, dimana dinas-dinas terkait memberikan bimbingan teknis tehadap petani milenial, (6) bantuan bibit atau benih, pupuk, dan pestisida, dan untuk pelaksanaan budidaya. (7) fasilitas pembiayaan, untuk bantuan permedolan akan diberikan oleh BJB.

Menurut Benny, mengenai  lahan, ada tiga konsep yang perlu diinventarisir yaitu, lahan pemprov, lahan milik pribadi yang notabene mereka memiliki kesulitan permodalan, lahan pihak ketiga yang dimiiki oleh pemerintah, dalam hal ini perhutani dan lahan PTPN. Selain itu, dukungan dari pusat juga mengalir deras. Kemensos yang memiliki lahan kurang lebih 200 ha di kab. Subang, dan Kemenhan siap meminjamkan lahannya untuk program petani milenial ini.

Selain itu, Benny juga mengatakan bahwa nantinya petani milenial ini memerlukan adanya pelatihan ekspor, mulai dari business meeting, food matching, platform pemasaran, ekspor online, pameran produk-produk, dan kerjasama dagang. 

Namun, menurut Benny jika merujuk pada jargon Gubernur Jabar, “rejeki kota” mengisyaratkan pendapatan minimal petani milenial ini setidaknya harus 4 juta rupiah per bulan. Sedangkan jika meneliti hasil kelayakan usaha tanaman pangan, dalam hal ini jangung belum memenuhi standar. Yang menjadi permasalahan ternyata beda komoditas perlu lahan yang cukup untuk menghasilkan pendapatan dengan standar UMR kota Bandung yaitu 4 juta rupiah. “Sebagai contoh untuk jagung setelah dihitung kalau kita mau penghasilannya 4 juta maka harus memiliki kurang lebih lahan seluas 2 hektar, sebagai contoh cabe besar potensi produksi per kilonya itu 9rb/ kg, lama panen kurang lebih 5 bulan, produksi kurang lebih 48 jt/ha, profit bersih per bulan kurang lebih 7.3 juta, jadi pendapatan bersihnya sekitar 2 juta/ bulan.

Tri menambahkan bahwa keuntungan untuk jagung dengan 7.8 juta/ha/ musim, setara per hektar 1,9 juta. Kalo diberikan lahan 2.000 meter, tergantung pada  kecocokan lahan, pemilihan komoditas, komoditas horti lebih tinggi  dari pada pangan, pangan memiliki margin yang sedikit. Setiap komoditas akan menghasilkan pendapatan yang berbeda.Untuk itu menurut Tri, dalam program ini akan dipilih komoditas yang cocok dan menghasilkan profit yang tinggi. Jika kita ingin dengan luas lahan yang sedikit, produksi tinggi, maka teknologi yang digunakan untuk meningkatkan produktivitas harus dipertimbangkan. Bisa jadi biaya per ha naik tetapi pendapatan per petani menurun, kita tidak menekankan pada cost tapi produktivitas, kita akan mendekatkan produksi yang dicapai dengan ekspektasi dari benih yang dikeluarkan oleh balai/ pemulia benih.

Umumnya petani-petani yang ada menanam sesuai kondisi setempat. Peran dari pemprov bisa dengan membantu pengairan yang tidak termasuk pada biaya petani secara langsung. Selain pengairan, jalan juga harus dibangun, serta  kelembagaan  petani penting dibentuk, sehingga petani tidak mengelola sendiri-sendiri, tetapi ada kelembagaan petani yang membentuk satu korporasi petani, pungkas Tri. 

Menurut Benny, persyaratan petani milenial terdiri dari;  (1) usia antara 19-39 tahun (2) memiliki daya inovatif adaptif terhadap teknologi, (3) pengalaman bertani, (4)  tidak sedang terikat kontrak kerja dengan instansi baik swasta ataupun negeri (5) mengisi biodata diri secara online di website atau Pikobar. Dalam pengembangan kapasitas petani milenial nantinya diperlukan pembekalan melaui Bimtek, bantuan saprodi, pengawalan dan pendampingan.

Benny menambahkan dalam hal pengawalan dan pendampingan dibutuhkan peran penyuluh. Idealnya penyuluh di setiap desa itu ada 2 orang, sedangkan jika melihat ketersediaan penyuluh pertanian di Jawa Barat saat ini ada sebanyak 3.332 dan jumlah desa di Jawa Barat ada 5.312, sehingga masih kekurangan penyuluh.

Dalam program ini, ada dua skema pembiayaan yaitu skema langsung pembiayaan pada PT Agro Jabar dengan sistem corporate dan skema pembiayaan pada petani langsung. Sedangkan untuk rencana pemasarannya akan dibantu oleh Agro Jabar. Agro jabar sebagai offtaker sudah bekerjasama dengan daerah jabar maupun luar jabar, komoditas yang sudah siap: kentang, jahe  merah, jagung pakan, sereh wangi, gabah, sorgum, singkong.

Dedi (perwakilan BJB) menambahkan bahwa pembiayaan langsung ke petani untuk keperluan saprodi, pupuk ataupun kebutuhan hidup selama masa menunggu panen. Pada saat panen nanti dibeli oleh offtaker dan uangnya nanti langsung masuk ke petani, pinjaman bisa terkontrol maupun penggunaannya. Tujuannya langsung ke petani adalah meringankan offtaker karena bisa langsung tersebar ke petani. Dengan suku bunga dari KUR hanya 3%, sisanya disubsidi oleh pemerintah.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Dadan Hidayat menuturkan bahwa program petani milenial ini bisa implementatif dan kebetulan untuk komoditas yang dipilih memang memiliki peluang pasar yang cukup besar. Jabar membutuhkan 7 ton jagung pipilan kering, tetapi baru mencukupi 1,7 ton. Harapannya ini bisa menjadi potensi. Selain itu, di Cikadu juga ada komoditas sereh wangi yang akan diolah menjadi sereh wangi. Untuk pengairan akan bekerjasama dengan PSDA, sehingga akan dibangun embung disana. 

Lebih lanjut Dadan menuturkan “Kami sangat berharap launching akan disana, karena kami bisa menjamin kalau view-nya itu bagus, kemudian ada potensi wisata disana yaitu wisata curug dan ada potensi gula aren, selain sereh wangi.” 

Kemudian Kadis Ketahanan Pangan dan Peternakan, Jafar Ismail menuturkan bahwa pihaknya sudah menguhubungi pihak-pihak yang sekiranya membutuhkan jagung dari hasil pertanian, ternyata ada beberapa peternak yang sudah bisa berkolaborasi, nanti kalau ada panen jagung ada yang langsung bisa memanfaatkan.

Selanjutnya, Kadis Perkebunan, Hendy Jatnika memberikan pandangannya bahwa pada prinsipnya Disbun sangat mendukung terbentuknya petani milenial, di Disbun sendiri sebetulnya untuk pembetukan petani milenial ini sudah berjalan sejak tahun lalu, hanya kami arahnya tidak di hulu atau budidaya, kami lebih mendorong petani milenial ini di sektor hilir, yaitu sektor industri pengolahan dan pemasaran. Hal ini disampaikan Hendy, karena karakteristik komoditasnya agak berbeda, kalau di  perkebunan kebanyakan tanamannya tahunan. “Kami juga sudah melaksanakan pelatihan petani milenial, karena berdasarkan karakteristik komoditasnya kami lebih banyak bergerak di hilir di pengolahan hasil dan pemasaran”, tutur Hendy.

Kemudian Ridwan Kamil memberikan sambutan yang positif terhadap tanggapan Kadisbun, Hendy. “Penting dari pak Hendy, jangan semua berbisnis di Hulu, tapi juga petani milenial yang sifatnya pengolahan mungkin nanti di launching kedua. Dihitung dulu planset. Isu export jangan terlalu dibesarkan tetapi ini tujuannya untuk swasembada, kalau ada lebihnya baru nanti kita narasikan sebagai export”, tutur RK.

Menurut Kurva dari Agro Jabar, pihaknya sudah siap dengan komoditi jahe dan sereh wangi untuk dimasukan ke dalam offtaker petani milenial. Dan gaung dalam program ini sebenarnya tinggi sekali bahkan tidak hanya di Jabar dan diluar jabar tetapi sampai ke level nasional. Hal ini karena ada beberapa pihak dari pusat seperti Kemensos, Kementan yang menghubungi Agro Jabar yang mengungkapkan keinginannya untuk ikutserta dalam program ini. Termasuk beberapa integrator seperti Java Foundation, Kementrian Ekonomi, Kementrian Koperasi dan UKM ingin ikut serta dalam program ini. 

Kemudian Rektor IPB, Arif Satria juga memberikan dukungannya terhadap program petani milenial ini. “Pada prinsipnya IPB sangat mendukung program pak Gubernur, program ini yang ditunggu-tunggu oleh banyak orang. Untuk hal yang bisa dikontribusikan adalah inovasi-inovasi perlu secepatnya dihilirisasi, supaya migrasi ke 4.0 bisa cepat”, tutur Arif.

Menurut Arif, ada teknologi inovasi dari IPB yang bisa dimanfaatkan oleh Gubernur agar bisa memantau konversi lahan pertanian di Jabar secara real time, dengan teknologi ini Gubernur bisa mendeteksi secara real time berapa Ha lahan pangan yang dikonversi menjadi perumahan.

Lebih lanjut Arif mengatakan untuk percepatan 4.0 Jabar, sangat penting direkomendasikan pemupukan secara precision, irigasi, curah hujan, pemetaan komoditas. Basisnya menggunakan web dan smart GPS sekaligus dapat memberikan rekomendasi berbasis lokasi.

Menurut Arif, IPB  juga sudah meluncurkan program The CEO  bekerjasama dengan sektor swasta seperti ASTRA. CEO ini mengelola BUMDES yang ada di 53 desa di Jabar, kemudian kita akses pasar sehingga 53 desa di Jabar ini saat ini sudah bisa menyuplai kebutuhan bahan makanan untuk Sabuhachi, Yoshinoya, Siloam, D’cost, Angkasapura, dan sebagainya. Pendapatannya tentu bisa luar biasa. The CEO ini adalah para freshgraduate dari IPB. Ada juga CEO school. “Kami siap melalukan pelatihan pada petani milenial sebelum mereka terjun ke lapangan, mereka juga bisa hadir diperguruan tinggi selama beberapa hari untuk belajar bagaimana berproduksi dengan teknologi-teknologi terbaru 4.0 sekaligus dari aspek bisnisnya”, tutur Arif.

Selain itu, menurut Arif petani-petani milenial bisa mengakses Digitani, yaitu aplikasi konsultasi gratis para petani di Indonesia kepada IPB. Untuk itu yang bisa disumbangkan untuk program petani milenial ini adalah SDM dan inovasi. Ini adalah kesempatan agar Jabar menjadi leading percepatan 4.0 di Indonesia.

Ridwan Kamil di akhir acara, berpesan persiapan program petani milenial ini harus dibentuk struktur organisasi yang jelas dan membentuk divisi-divisi yaitu divisi lahan, divisi pemodalan, divisi offtaker, divisi teknologi dan inovasi, divisi hasil produk, dan divisi kominfo. Selain itu, kedepannya supaya sambil dipikirkan hijrah ke 4.0, yang konvensional dengan irigasi 30%, sisanya harus berbasis teknologi. Ridwan Kamil yakin bisnis ketahanan pangan adalah bisnis paling tangguh dan  pemulihan ekonomi di Jabar bisa dengan cara yang inovatif dan cerdas.***(HUMAS-DISBUN)


Dibaca : 2263 kali