BANDUNG – Subsektor perkebunan terus mengalami kenaikan terutama dengan adanya ekspor komoditi kelapa sawit, sementara beberapa sektor domestik bruto lainnya mengalami penurunan di tengah pandemi ini. Saat ini generasi milenial sedang berada pada puncaknya, yaitu mereka yang lahir di tahun 80-90an, umumnya mereka berfikir cepat, terutama mereka sangat friendly dengan teknologi informasi. Melihat itu, RPN (Riset Perkebunan Nusantara) meluncurkan digital marketplace khusus komoditi produk dan jasa perkebunan. Hal ini disampaikan oleh Deputi Holding PTPN III, Muhammad Abdul Ghani, pada Webinar JAPRI Bun (Jawaban Problem dan Informasi Perkebunan) secara virtual melalui zoom meeting pada hari Selasa (09/02/21).

“RPN akan meluncurkan marketplace khusus komoditas perkebunan yaitu plantage.id. Dengan platform ini dimungkinkan untuk dapat menjangkau seluruh stakeholder di seluruh dunia, dimana pun customer berada. Marketplace yang dibangun ini dapat berkontribusi pada semua pemegang kepentingan”, ujar Muhammad.

Kemudian Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis, Musdalifah Machmud mengatakan di tahun 2021 ini yakin akan ada perubahan perekonomian global. Beberapa lembaga internasional seperti IMF, Bank Dunia memperkirakan ekonomi global akan tumbuh 4-5% tahun ini. Walaupun akibat pandemi, perekonomian Indonesia tahun 2020 mengalami kontraksi sebanyak 2%. Pandemi ini memiliki dampak multidimensional, terutama bagi negara yang pangannya bergantung pada impor.

Lebih lanjut Musdalifah mengatakan bahwa usia rata-rata petani di Indonesia saat ini adalah 45 tahun, rentang usia ini sangat rentan terancam oleh Covid-19. Selain itu, pandemi ini juga mengakibatkan petani sulit akses terhadap bahan baku pertanian seperti benih, pupuk, pestisida. Karena sebagian bahan pertanian seperti pupuk juga masih mengandalkan import. Dalam hal pemasaran juga petani mengalami masalah, karena selama pandemi terjadi pembatasan sosial yang mengakibatkan terbatasnya akses dari produsen ke konsumen.

Fenomenan lain yang muncul adalah konsumen lebih memilih berbelanja secara online. Hal ini didukung oleh pengguna aktif internet di Indonesia yang terus meningkat jumlahnya dan menunjukkan pangsa pasar yang besar bagi ecommerce. Transaksi ecommorce juga semakin meningkat sebanyak 1850 T dibandingkan tahun sebelumnya. Frekuensi transaksi bank juga mengalami peningkatan yang sangat cepat yaitu 67% dari tahun sebelumnya. Semakin meningkatnya transaksi online di tahun 2020, menunjukkan bagaimana pesatnya peningkatan penggunaan digital resources di Indonesia, sambung Musdalifah.

Selain itu, dukungan pemerintah terhadap kemajuan ecommerce di Indonesia juga ditunjukkan dengan Kominfo membangun palaparing untuk memperlebar jaringan internet di seluruh Indonesia. Saat ini pengguna internet di Indonesia didomonasi oleh penduduk di Jawa. Hal ini bisa menjadi salah satu channel yang harus dimanfaatkan secara merata bagi sektor pertanian khususnya perkebunan.

Dilihat dari sisi komposisi penduduk Indonesia yang akrab dengan internet. Pemerintah telah menciptakan digital ekonomi. Tantangan ekonomi digital bagi UMKM khususnya di bidang pertanian perkebunan adalah rendahnya literasi digital bagi para petani, oleh karena itu harus ada kolaborasi dari pemerintah. Selain itu, subsektor perkebunan juga mampu menyerap 11 juta petani. Nilai ekspor perkebunan tahun 2019 juga cukup signifikan, ungkap Musdalifah.

Lebih lanjut Musdalifah mengatakan bahwa strategi yang dapat dilakukan untuk merespon pesatnya arus teknologi informasi yaitu dengan menentukan produk-produk unggulan yang bernilai tinggi untuk dikembangkan lebih lanjut. Kemudian juga dengan melakukan expansi pasar. Disamping itu kita juga perlu untuk  meningkatkan daya saing komoditas perkebunan, mengikuti preferensi pasar secara cepat, serta membuat ekosistem digital dari hulu hingga ke hilir.

Menurut Musdalifah dengan melakukan digitalisasi pasar melalui platform ecommerce memungkinkan metode pembayaran secara cashless. Dalam hal  jumlah stock produk juga bisa dengan mudah dipantau, juga memungkinkan tracking langsung ke petani untuk efesiensi yang lebih tinggi.

“Untuk itu, platform Plantage.id ini diciptakan agar dapat memasarkan produk hasil riset ataupun produk akhir hasil perkebunan. Dengan tujuan agar dapat meningkatkan ekomoni nasional, petani, pekebun, dan masyarakat”, sambung Musdalifah.

Iman Yani Harahap selaku narasumber menjelaskan potret nyata sektor perkebunan ditengah kuatnya perkebunan di Indonesia saat ini. Perkebunan menjadi sektor dengan kontribusi yang besar  terhadap  PDB. Pekerja di sektor perkebunan rakyat cukup besar 8.5 juta di on farm. Total luas area perkebunan di Indonesia mencapai 23,5 juta hektar lebih luas dari Negara Singapore. Komoditi perkebunan paling besar saat ini adalah kelapa sawit. Tetapi budidayanya masih belum optimal, “produktivitas perkebunan kita sangat ditentukan oleh luas area perkebunan”, kata Iman.

Menurut Iman pertumbuhan luas areal hanya terjadi pada kelapa sawit dan kopi, sedangkan untuk komoditi teh mengalami penurunan, begitu pula dengan komoditi karet dan gula masih stagnan.  “Kalalu kita lihat tingkat produktivitasnya masih 50% kurang dari potensi, ini yang menjadi tantangan bagi kita. Kita juga terlambat melakukan peremajaan, praktik-praktik budidaya di on farm, off farm, handling, dan yang paling penting dalam akses teknologi”, ujar Iman. “RPN hadir dengan kekuatan SDM penelitinya dan 20 bidang kepakaran sudah siap mendelivery inovasi teknologi untuk peningkatan daya saing di Indonesia”, lanjut Iman.

Sebagai contoh Iman menjelaskan bahwa tingkat produktivitas dari hasil riset RPN sudah duakali lipat generasi sebelumnya, TBMnya lebih pendek, contohnya kelapa sawit baru bisa panen kalau sudah berumur 4 tahun, kalau sekarang cukup 2 tahun. “RPN Cukup kuat dalam penyediaan benih, 50% benih kelapa sawit yang ada saat ini adalah dari hasil benih pusat penelitian kelapa sawit”, tutur Iman.

Selain itu, Iman juga menuturkan sumbangsih yang pernah dilakukan RPN untuk perkebunan rakyat diantaranya melalui PROWITRA. Dalam program ini RPN melakukan pendampingan di Muara Bulian, Jambi dalam penggunaan bahan tanaman. Hasilnya lebih tinggi dari standar produktivitas yang ditargetkan. Selain itu, RPN melakukan pendampingan terhadap petani Kakao di Lampung timur.

Lebih lanjut Iman menjelaskan bahwa dengan mempertimbangkan luas wilayah Indonesia dan tenaga SDM yang terbatas untuk melakukan pendampingan dan penyuluhan. Kemudian RPN berpikir untuk mengintegrasikannya dengan teknologi informasi. Maka lahir plantage.id yang akan bisa diakses sampai ke pelosok negeri.

Latar belakang membangun Plantage.id adalah sadar bahwa begitu banyak teknologi di RPN masih sulit untuk diakses, sehingga hanya mengandalkan penyuluhan yang konvensional sebagai sarana difusi teknologinya. Kemudian sadar bahwa penggunaan internet begitu luas di masyarakat Indonesia, melihat data 64% sebagai penggunan aktif internet dan pertumbuhannya cepat, selalu naik hampir 10% per tahun. Hal Ini adalah sebuah potensi baik jika kita memanfaatkan jaringan internet untuk menyebarluaskan teknologi.

Kemudian Iman juga menjelaskan positioning Plantage.id dalam platform teknologi pertanian lainnya adalah sebagai pelengkap. “Keberadaannya lebih kepada melengkapi, selain karena penggunanya juga berbeda, barang dan jasa yang dijual juga berbeda, konten marketplace adalah bagaimana memperkuat transfer teknologi, membuka peluang bagi konsultasi terkait problem-problem praktis di lapangan”, tutur Iman.

Adapun strategi yang sudah dibangun RPN memiliki arah bagaimana memperkuat kesadaran bagi pengguna tentang perlunya teknologi yang unggul, cara cepat mendelivery teknologi bagi pengguna yaitu dengan mengembangkan marketplace yang efektif, penguatan sosial media branding, adanya media tanya jawab dan penguatan jaringan diseminasi.

Sebelum lahirnya Plantage.id, sudah ada juga platform yang bergerak di bidang teknologi pertanian lainnya, salahsatunya yaitu TaniHub. Hanya saja TaniHub ini berfokus pada produk horti, perikanan dan hasil ternak. TaniHub ini awalnya didirikan sebagai problem solving terhadap kurang aksesnya petani terhadap pasar. Mitra petani di Indonesia umumnya menanam tanpa tahu apa yang diinginkan pasar.

Kemudian TaniHub menyadari bahwa pertanian di Indonesia juga memiliki masalah terhadap akses pemodalan. Dengan itu, TaniHub mengembangkan bisnisnya dengan mendirikan TaniFund, tetapi TaniHub juga menyadari bahwa pihaknya masih start up yang kecil sehingga belum memiliki financial yang cukup untuk memberikan akses modal kepada mitra petani. Namun dengan TaniFund ini memungkinkan untuk masyarakat bisa ikut mendanai proyek yang akan dilakukan oleh mitra petani, dan uangnya nanti akan dikembalikan setelah panen. Selain itu, pihak TaniFund juga melakukan pendampingan dalam prosesnya, karena pihaknya akan bertanggungjawab terhadap hasilnya nanti pada lander (masyarakat yang ikut mendanai), hanya dengan 100 ribu sudah bisa involve dengan proyek yang dilakukan mitra petani. Dengan TaniFund ini kita bisa bertani tanpa harus memiliki lahan untuk bertani.

Tahun 2019, TaniHub sadar ternyata tantangan dalam bidang pertanian itu banyak, tidak banyak perusahaan yang mau focus terhadap agriculture chain. Kemudian TaniHub mulai mengembangkan bisnisnya ke arah supply yaitu dengan mendirikan TaniSupply. TaniHub juga sudah mendapatkan Information Security Sertified ISO 27001 dan Food Safety Sertified. Dan saat ini sedang proses untuk mendapatkan sertifikat halal.

Astri mengatakan bahwa dirinya tetap optimis dengan industri marketplace pangan di masa pandemi ini karena produk-produk pangan tidak akan pernah berhenti, sama halnya seperti industri telekomunikasi. Meskipun memang pandemi ini berdampak pada semua sektor. Selain itu, menurut Astri sebagai pelaku industri juga harus berinisiatif melakukan inovasi-inovasi sesuai tantangan yang ada.

Selama pandemi ini, TaniHub melakukan berbagai hal yang bisa mendorong bisnisnya agar terus berjalan secara proper, yaitu dengan mendonasikan 2% dari hasil kepada pihak yang terdampak oleh pandemi ini. Selain itu, pihaknya juga melakukan donasi untuk satwa yang terancam kelaparan akibat  pandemi, yaitu dengan menjual produk grade B untuk satwa. Kemudian menciptakan fitur contactless delivery, bagi customer yang tidak mau bertemu langsung dengan kurirnya. Pada akhir paparannya Asri mengatakan bahwa dengan pandemi ini mengpush kita untuk berfikir “more than ever”.

Dengan membuka pasar khusus komoditi perkebunan secara digital melalui e-commerce diharapkan subsektor perkebunan akan terus mengalami grafik kenaikan bagi PDB nasional di tengah pandemi ini. Karena semakin mudahnya akses terhadap produk-produk perkebunan yang unggul diharapkan akan meningkatkan geliat komoditas perkebunan di pangsa ekspor.***(HUMAS-DISBUN)


Dibaca : 141 kali