BANDUNG – Sekretaris Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat, Rika Jatnika mewakili Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat, Hendy Jatnika memberikan sambutan selamat datang pada acara Rapat Koordinasi Teknis Pengolahan dan Pemasaran Hasl Perkebunan yang bertempat di Hotel Grand Tjokro Premiere Bandung Selasa (9/2/21).  Acara yang berlangsung selama 3 hari tersebut (9-11 Feb/21) bertujuan   untuk menyamakan persepsi antara pusat dan daerah dalam merumuskan strategi- strategi akselerasi kegiatan pengolahan dan pemasaran hasil perkebunan tahun 2021 di daerah, khususnya dalam mendukung hilirisasi perkebunan berbasis korporasi petani untuk peningkatan ekspor yang lebih cepat sesuai dengan arahan Menteri Pertanian. Untuk kesekian kalinya Jawa Barat menjadi tuan rumah Rapat Koordinasi Teknis PPHP yang diselenggarakan oleh Kementrian Pertanian. Adapun tema yang diusung dalam Rakor kali ini adalah ‘’Peningkatan Hilirisasi Perkebunan Berbasis Korporasi Petani Mendorong Gerakan Tiga Kali Ekspor (Gratieks) Perkebunan’’

Kegiatan ini diikutisecara langsung dan virtual oleh 84 peserta yang terdiri dari kepala bidang atau seksi yang membidangi pengolahan dan pemasaran hasil perkebunan di 33 provinsi dan perangkat Dinas kabupaten serta narasumber dari Badan Karantina Pertanian, Bank Mandiri, pelaku usaha yang diwakili oleh Dirut PT Java Preanger Lestari Mandiri. Dalam kegiatan ini turut hadir Kepala Bidang Pengolahan, Pemasaran dan Usaha Perkebunan, Fajar Abdillah yang juga menjadi moderator dalam sesi diskusi.

Dalam sambutannya Rika mengungkapkan ‘’Pada hakekatnya sektor perkebunan tidak bisa dipisahkan dari sejarah panjang pertumbuhan Provinsi Jawa Barat sejak masa kolonial hingga saat ini karena sektor ini memiliki arti sangat penting dan menentukan dalam  berbagai realitas ekonomi dan sosial masyarakat di Jawa Barat. Bahkan dalam konteks masa lalu sejarah kolonial dan imperialisme di Indonesia dan di Jawa Barat pada khususnya. Jawa Barat yg dikaruniai kesuburan lahan serta limpahan sumber daya alam lainnya, menjadi faktor pendukung tumbuhnya berbagai macam komoditas perkebunan yg bernilai ekonomis yg tinggi serta telah memberikan kontribusi yang besar bagi devisa negara. Dari 30 komoditas perkebunan di Jawa Barat, beberapa komoditas strategis yang menjadi prioritas dan  terus didorong pengembangannya antara lain adalah komoditas teh, kopi, kakao, karet, cengkeh, tebu dan tembakau yang akan berperan besar dalam mendukung perindustrisn di masa mendatang’’.

Rika juga menyampaikan bahwa kontribusi komoditas perkebunan merupakan penyumbang devisa negara dari sektor non migas  yang  sangat besar. Terlebih untuk saat ini sektor perkebunan turut berkontribusi positif dalam pembentukan neraca perdagangan komoditas pertanian. Data Badan Pusat Statistik  tahun 2018 menunjukkan bahwa sektor perkebunan berkontribusi terhadap PDB nasional sebesar 489.25 T. Kebijakan strategis Menteri Pertanian lima tahun mendatang antara lain: akselerasi peningkatan ekspor produk perkebunan dan turunannya dengan Gerakan Tiga Kali Ekspor atau yang dikenal dengan Gratieks. Kebijakan ini ditetapkan dalam rangka memperebutkan dan memenangkan pasar ekspor dunia baik  kaitannya dengan daya saing maupun akses pasar. Selain itu mengejar kuantitas 3x lipat juga didorong peningktan mutu produk, konsistensi dan kontinuitas produk perkebunan.

‘’Tahun 2020 Jabar telah melaksanakan  ekspor kopi sebanyak 16 ton ke Australia dan berbagai negara Eropa serta olahan kelapa parut kering sebanyak 26 ton ke Arab Saudi yang dilepas secara resmi oleh Bapak Gubernur Provinsi Jawa Barat pada bulan Oktober dan Desember lalu.  Kemudian melalui program Komando Strategi Pembangunan Pertanian dan Wastra Tani yang dicanangkan oleh Kementrian Pertanian akan bisa meningkatkan badan penyuluhan pertanian untuk mendukung berbagai program pertanian.’’ sambungnya.

Pada akhir  sambutannya Rika  berharap korporasi dapat membenahi manajemen pertanian, kemudian menciptakan efisiensi dengan mekanisme benih yang unggul dan pupuk, pestisida kembali ke organik. Kemudian nilai tambahnya diperoleh dari hilirisasi, sedangkan proses budidaya dan industri agar menggunakan mekanisme dan perangkat telekomunikasi. Dengan adanya rapat koordinasi ini Rika berharap semua yang hadir dapat berkolaborasi mengkonsolidasi program hilirisasi produk perkebunan berbasis korporasi petani untuk mendukung program Gratieks. ***(HUMAS-DISBUN)


Dibaca : 125 kali