BANDUNG - Dalam upaya mewujudkan iklim persaingan usaha yang sehat dan pengawasan kemitraan di daerah, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Kanwil III melakukan kajian advokasi dengan Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat dengan tema diskusi ‘kajian Sektor Perkebunan Komoditas Teh dan Kopi di Jawa Barat’. Diskusi ini dibuka oleh Kepala Bidang Kajian dan Advokasi KPPU Kanwil III, Lina Rosmiati. Berperan sebagai narasumber dari pihak Dinas Perkebunan Jawa Barat adalah Kepala Bidang Pengolahan, Pemasaran dan Usaha Perkebunan Fajar Abdillah, Kepala Bidang Pengembangan dan Perlindungan Perkebunan Hermin Karlina, Kepala Balai Pengembangan dan Produksi Benih Perkebunan, Dudung Suganda. Dihadiri oleh tim humas Dinas Perkebunan Jawa Barat dan tim KPPU Kanwil III melalui zoom meeting, Selasa (09/02/2021).

Menjawab pertanyaan dari Kabag Kajian KPPU mengenai Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat Fajar menjelaskan bahwa " Disbun Jabar terdiri dari 4 Bidang dan 3 Balai, selain Bidang PPUP dan Banglin ada Bidang Produksi Perkebunan lalu Bidang Sumber Daya Perkebunan. Sedangkan untuk Balai terdiri dari Balai Perlindungan Perkebunan, Balai Pengembangan dan Produksi Benih Perkebunan serta Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Perkebunan"

Lina mengatakan, KPPU Kanwil III setiap tahun melakukan satu tema kajian lokal yang bersifat formal. Pihaknya  mengungkapkan "Kenapa kami memilih tema ini karena kami ingin melihat bagaimana skema bisnis perkebunan secara umum dan ingin tahu siapa pelaku usaha perkebunan yang ada di Jawa Barat. Kami juga ingin mengetahui apa kendalanya, apakah terdapat isu persaingan disana?”

 

“Kajian ini pure kajian akademis tidak dicari-cari suatu masalah, justru harus yang nyata sesuai fakta dan informasi yang ada. Tidak ada dugaan pelanggaran dan harus memetakan struktur pasar di industri ini”, sambungnya. 

Dalam kajian ini Lina menegaskan ingin mengetahui lebih mendalam tentang perkebunan teh di Jawa Barat serta masalah yang dihadapi oleh stakeholder di bidang perkebunan. Sebelumnya Fajar juga memberikan saran kepada pihak KPPU agar kedepannya dalam kegiatan kajian dan diskusi dengan tema persaingan usaha KPPU juga turut mengundang narasumber perwakilan dari asosiasi para pengusaha supaya apa yang disampaikan dalam diksusi ini bisa disimak langsung oleh para pengusaha yang bergerak dalam sektor perkebunan.

Fajar menjelaskan komoditas teh adalah komoditas unggulan di Dinas Perkebunan Jawa Barat. Ditanam di 5 wilayah yaitu Cianjur, Kabupaten Bandung, Sukabumi, Tasikmalaya dan Garut. Komoditas teh mendominasi seluruh nusantara hampir 70% berada di Jabar. Dengan luas 85.300 Ha perkebunan teh di Jabar menempati urutan ke 2. Produksi teh saat ini mencapai 97.915 Ton dengan produksi terbanyak di Kabupaten Bandung dan jumlah petani teh yang ada saat ini di Jawa Barat adalah sekitar 37.600. Dengan tingginya produksi komoditas teh hal tersebut tentunya memberikan konstribusi besar untuk Jawa Barat yang memiliki banyak penduduk.

“Permasalahan  komoditas teh dan kopi adalah lahan yang semakin hari semakin menurun karena adanya alih fungsi lahan seperti proyek kereta cepat Bandung-Jakarta, seluas 1.270 Ha lahan kebun teh di Kabupaten Bandung Barat kini beralih fungsi. Selain  itu ada pula godaan bagi para pekebun untuk beralih ke komoditas lain, konversi lahan 2% pertahun dan imbas dari tingginya biaya produksi petani lalu produksi yang tidak maksimal karena usia tanaman yang sudah tua sehingga target untuk mencapai panen 1 Ton per hektar tidak terpenuhi. Selain itu ada juga permasalahan yang terkait dengan teknologi budi daya perkebunan, modal usaha terbatas ” Ungkap Fajar.

Menanggapi pertanyaan Lina mengenai biaya produksi, Dudung mengatakan "Persaingan usaha tidak lepas dari semua input usaha. Relatif sama komponennya, baik itu sarana produksi untuk teh maupun kopi yaitu benih, pupuk, pestisida, upah kerja dan komponen lainnya yang sulit diukur. Dari komponen-komponen yang disebutkan, upah kerja adalah komponen yang paling besar. Selain itu komponen yang paling penting juga benih karena untuk pupuk dan pestisida itu ada alternatif lain".

Dudung kemudian menambahkan bahwa komoditas perkebunan terkait dengan membeli hasil produk. Yang bersaing adalah yang memiliki modal besar dan persaingan ada di hilir khususnya di kopi. Persaingan usaha tidak luput dari input pelaku usaha itu sendiri.

Banyaknya petani sebagai penjual dan para pembeli bisa menimbun hasilnya contoh seperti kopi. Banyak pihak luar yang datang langsung untuk membeli hasilnya pada petani dengan harga murah. “Kita ingin petani ikut berperan dalam usaha dan menentukan harga, tapi faktanya rata-rata petani hanya sebagai penjual. Sedangkan pembeli adalah pemodal terbesar. Pengusaha yang datang kepada petani membeli hasilnya untuk kemudian ditimbun untuk mereka sendiri. Disbun sebagai regulator masih kalah dengan pembeli” ucap Dudung.  Dudung pun sangat berharap bahwa dengan adanya kajian ini kedepannya KPPU bisa bekerjasama dengan Disbun Jabar membantu para pekebun agar mampu menikmati hasil kerja kerasnya secara langsung.

Menanggapi paparan tersebut Lina kemudian mengungkapkan bahwa bahasan diskusi saat ini sifatnya masih sangat general tetapi dari situ dirinya sudah memiliki beberapa catatan mengenai persaingan usaha dalam sektor perkebunan khususnya teh dan kopi. Lalu Lina juga ingin tahu lebih jauh mengenai jenis-jenis teh dan kopi yang merupakan komoditas perkebunan utama di Jawa Barat.

Dalam sesi ini Hermin menjelaskan jenis-jenis teh dan kopi yang ada di Indonesia khususnya di Jawa Barat. Jenis teh diantaranya adalah jenis assamica dan jenis sinensis. Perbedaannya dari morfologi. Teh assamica berdaun tinggi dan lebar umumnya mempunyai tinggi 15-20m sedangkan sinensis  sifatnya perdu tingginya hanya mencapai 5-10m. Assamica diolah sebagai teh hitam dan teh hijau. "Nama Assamica bukan karena rasanya yang asam tapi karena daerah asal teh tersebut dari Assamica. Sinensis sendiri berasal dari Cina. Baik Assamica maupun Sinensi memiliki keunggulannya masing-masing dan sudah dikembangkan dengan baik. Teknik pengolahannya pun sudah termasuk bagus. Kelemahannya terletak di pemasaran karena permintaan konsumen yang relatif beragam" jelasnya.

Hermin juga  memberikan penjelasan mengenai jenis-jenis kopi diantaranya yaitu kopi arabika, yang memiliki banyak varietas dengan berbagai kualitas yang ditanam di dataran tinggi sekitar 800m keatas. Sedangkan jenis robusta ditanam  di daerah dataran rendah 800m ke bawah. Untuk kopi liberika ciri tanamannya tinggi dan besar namun karena cita rasanya yang tidak terlalu istimewa maka jarang ditanam oleh para pekebun di Jawa Barat.

Permasalahan utama pada sektor perkebunan rakyat adalah di permodalan baik itu di tahap budidaya maupun pasca panen. Oleh karen itu sekali lagi pihak Disbun Jabar sangat berharap kajian ini memberikan jalan keluar bagi para pekebun pemodal kecil, tutur Hermin.

Pada sesi berikutnya Lina ingin mengetahui tentang tren jumlah petani di sektor perkebunan khususnya untuk komoditas teh dan kopi saat ini. Fajar menjelaskan bahwa jumlah petani sangat fkuktuarif dari tahun ke tahun. Di tahun 2020 cenderung mengalami penurunan, berbeda dengan 2018 yang mengalami kenaikan.

Kemudian Hermin menambahkan "Selain karena ekonomi alasan pekebun berhenti berkebun adalah karena arealnya terkena proyek kegiatan pemerintah. Seperti di Majalengka, petani kopi harus meninggalkan usahanya karena lahannya dijadikan kawasan bandara. Lalu harga pucuk teh yang relatif rendah membuat banyak petani beralih ke komoditi lain seperti durian dan sayuran. Karena yang namanya petani harus menghasilkan secara bisnis jadi kami pun tidak bisa apa-apa. Produksi yang banyak dengan tidak adanya pasar juga merupakan faktor lain".

"Pasar itu harus dicari, apalagi di era pandemi seperti sekarang ini. Jadi kita harus pintar mencari peluang lain seperti contoh membuat warung/cafe atau berjualan online di e-commerce. Intinya harus berinovasi, kreatif dan menguasai teknologi informasi" sambungnya.

Menjawab pertanyaan dari Lina mengenai regulasi apa saja yang sudah dibuat atau dijadikan pedoman Disbun Jabar dalam mengelola sektor perkebunan Dudung menjelaskan regulasi banyak mengacu ke kementrian pertanian. Setiap komoditas memiliki permentannya begitu pula untuk teh dan kopi. Jika terkait dengan saran operasional banyak yang terkait dengan benih. “Ada izin edar benih, jadi benih tidak sembarangan disebar. Akan menjadi peluang bagi kami dan menjadi tahu bagaimana teknik budidaya dan produksi benih. Regulasi banyak karena saling mendukung”, pungkas Dudung.

Pertanyaan selanjutanya dari Lina adalah apa upaya yang dilakukan Disbun jabar untuk memajukan komoditas teh dan kopi di Jawa Barat. Dengan lugas Dudung menjawab, "Upaya yang sudah dilakukan Disbun untuk memajukan komoditas teh dan kopi adalah melakukan pembinaan para petani dan pelaku usaha, pembinaan kompetensi, memberikan sarana produksi perkebunan dan memberikan fasilitasi promosi, kegiatan yang didanai APBN dan APBD, pemberian benih kopi" jelas Dudung.

"Dalam bidang pengembangan dan perlindungan perkebunan, upaya yang dilakukan lebih ke hulu. Karena komoditas ini sangat erat kaitannya dengan lingkungan dan konservasinya luar biasa. Penyediaan sumber air atau embung yaitu kolam penampungan air yang bisa digunakana saat musim kemarau. Dalam lahan miring contohnya membuat terasering lahan agar tidak mengakibatkan banjir" sambung Hermin.

Dudung menambahkan ada upaya yang dilakukan Disbun yaitu pertama pembinaan aspek permodalan. Aspek permodalan ini dilakukan oleh pihak petani dan perbankan. Tetapi kendalanya adalah sulit terjadi jalinan kredit dan simpan pinjam pihak petani karena bank luar biasa sulit dalam persyaratannya serta sulitnya para petani ketika akan membayar cicilan ke bank. Kedua aspek teknis budidaya dengan mempertahankan aspek kelestarian lingkungan. Ketiga pembinaan di hilir bagaimana memasarkan produknya agar bisa dikenal banyak orang. Keempat aspek penjualan dan saat ini belum termonitoring dengan baik apakah hasil produksi terjual atau tidak dan menjadi aspek persaingan juga. "Jawa Barat arealnya tidak terlalu luas jadi lebih ke memingkatkan kualitas produk. Kopi produksi Jawa Barat lebih mahal karena memang cita rasanya lebih unggul dari kopi lain" begitu pungkasnya.

“Dari keseluruhan pertanyaan dan jawaban yang telah diberikan, kami akan mengambil tema kopi dengan aspek daya tawar di hilir. Beberapa informasi yang disampaikan tadi sudah menyiratkan permasalahan tersebut dan nantinya bisa di handle oleh KPP” Kata Lina.

"Semoga memberikan solusi terhadap hambatan yang masuk kepada Dinas Perkebunan Jawa Barat  atau regulasi yang tidak berpihak akan kami berikan saran terhadap stakeholder terkait. Kami akan mempelajari kajian yang nanti diberikan karena persaingan disini sudah terlihat. Dan akan mendiskusikan dengan atasan" tambah Lina dalam akhir diskusi.

“Dengan adanya diskusi perdana kita kali ini mudah-mudahan memberikan banyak manfaat baik untuk pihak KPPU dan juga pihak Dinas Perkebunan Jawa Barat. Kami berharap komunikasi terus berjalan dengan baik dan lancar sehingga informasi nantinya bisa tersampaikan dengan baik. Semoga kedepannya kajian ini akan mendapatkan hasil baik seperti yang diharapkan.” Tutup Fajar. ***(HUMAS-DISBUN)


Dibaca : 129 kali