BANDUNG – Respon publik terhadap program milenial ini tinggi dengan jumlah pendaftar 8.133. Dibutuhkan strategi komunikasi untuk mendukung berjalannya program Petani Milenial untuk menepis ancaman komunikasi yang timbul. Hal ini disampaikan oleh Tim Komunikasi Gubernur, Suhendrik pada saat FGD Kehumasan Perangkat Daerah Leading Sector Pertanian di Ruang Rapat Papandayan, Gedung Sate, Bandung pada Kamis (25/02/2021).

Suhendrik mengatakan yang perlu dipahami bahwa inisiatif Gubernur dalam program ini menjadi aset karena untuk pemulihan ekonomi daerah selama pandemi. Proyeksi penyerapan angkatan kerja yang bisa terserap oleh program Petani Milenial ini seberapa banyak bisa berkontribusi dalam mengurangi angka pengangguran di usia milenial, misalnya 1-2% itu tidak masalah. “Seperti kata Gubernur RK, daripada rebahan, lebih baik garap lahan”, kata Suhendrik.

Menurut data usia yang mendaftar program ini adalah rentang usia lulus SMA dan SMK, sehingga program ini bisa menghasilkan regenerasi petani, karena itu profesi pertanian semakin ditinggalkan pada usia milenial. Menurut Kementan, petani milenial berada pada rentang usia 19-39 tahun. Selain itu kekuatan dari program ini adalah dengan adanya sentuhan teknologi pada sektor pertanian sehingga dapat memberikan  wajah baru bagi pertanian di Jawa Barat. Publik perlu tahu lahan existing yang siap dikelola masyarakat, “pak Gub sering mengungkapkan petani milenial akan memanfaatkan lahan-lahan pemprov”. Penguatan off taker juga harus disampaikan seberapa banyak komoditas hasil panen yang bisa diserap oleh off taker. Topik pendampingan petani milenial juga harus terus dikuatkan, bahwa perlu diyakinkan kepada petani milenial you are not alone pada saat implementasi di lahan karena akan ada pendampingan nantinya, tambah Suhendrik.

Lebih lanjut Suhendrik mengatakan bahwa sasaran komunikasinya adalah para pendaftar secara profil dan spasial. Idealnya pendaftar yang tinggal di daerah yang tidak ada masalah dengan internet, seperti Bogor, Depok, dan Bekasi. Namun berdasarkan realitanya, nomer 1 pendaftar berasal dari Kota Bandung dan Kabupaten Garut. Realita teknologinya kurang connect maka perlu mengemas komunikasi yang tidak hanya berbasis teknologi saja namun kovensional.

Menurut Praktisi Komunikasi, Yugiman, setelah materi dan narasi siap, publikasi dan sosialisasi program bisa dilakukan secara bersamaan. Sosialisasi di media konvensional (cetak, online, elektronik) bisa dilakukan melalui Program JAPRI, konpers atau wawancara media dengan para pejabat perangkat daerah teknis rumpun pertanian. Kemudian sosialisasi di radio dalam bentuk talkshow, dan clip ad iklan. Jika memungkinkan bisa dengan membeli blocking time di Televisi khusus untuk menyiarkan program Petani Milenial.

Lebih lanjut Yugiman mengatakan bahwa dukungan influencer dan key opinion leader dalam Program Milenial ini juga dibutuhkan, seperti wawancara Petani Milenial yang sudah sukses, wawancara Rektor IPB, Dekan Faperta Unpad, Dekan Fakultas Perikanan dan Kelautan UNPAD, Dekan Fakultas Peternakan UNPAD. Kemudian bisa dengan menayangkan cuplikan video statement Gubernur tentang Petani Milenial, testimony pelaku usaha pertanian milenial yang  mendukung program Petani Milenial, dan wawancara kepala dinas terkait program Petani Milenial.

Yugiman juga mengatakan bahwa Petani milenial ini akan menjadi komplementer bagi petani existing yang sudah ada saat ini, bukan sebagai subsidiary. Akan menjadi sebuah sinergi dan kolaborasi, petani milenialnya maju, petani konvensionalnya akan terus exist.

Kemudian Lia dari Diskominfo menambahkan,  dalam melakukan pemetaan isu baik isu yang positif maupun negatif, kita perlu menyusun narasi tunggal, perlu melengkapi lagi FAQ yang sudah disusun sebelumnya. Perlu ditambahkan dengan dinas terkait. Masing-masing kebidangan perlu mendapatkan materinya, ketika berbicara target akan sama poin-poinnya dan mereduksi munculnya isu-isu baru. Mari sama-sama untuk membuat strateginya. Senada dengan Lia Sri Pujiyanti pun menuturkan hal yang sama bahwa perlu disepakati bersama apa- saja yang sebenarnya akan kita publikasikan ke publik.

Selanjutnya Tim Media Sosial Petani Melenial, Sandi Karisma atau Joung mengungkapkan bahwa berdasarkan data dari Hootsuite 2020, jumlah pemilik handphone lebih banyak dari jumlah populasi. Jadi, 1 orang mungkin bisa mempunyai lebih dari 1 HP. Sedangkan ada 175,4 juta pengguna internet dan 160 juta diantaranya adalah yang aktif di media sosial. Untuk platform media sosial yang paling banyak digunakan ada Youtube di peringkat pertama, kemudian disusul oleh Whatsapp, Facebook, Instagram, dan Twitter.  

Hari ini skill digital termasuk media sosial adalah sebuah keharusan bukan pilihan. Gubernur Ridwan Kamil menggunakan digital terbagi menjadi tiga yaitu; (1) to observe yang berarti untuk melihat situasi, seperti situasi sosial masyarakat, (2) to control yang berarti untuk birokrasi ke dalam, (3) to connect yang berarti untuk mengkoneksikan antara masyarakat dengan pemerintahnya. Tim medsos harus membangun persepsi baru tentang Petani. Dalam beberapa program dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat, akun media sosial justru menjadi corong utama sebagai sumber informasi terutama program yang berkaitan dengan perekrutan, termasuk di dalamnya program Petani Milenial ini, tambah Joung.

Lebih lanjut Joung menyampaikan bahwa tujuan aktivitas Petani Milenial ini adalah untuk membangun jejaring penyebaran informasi mengenai program Petani Milenial, mengajak generasi milenial Jawa Barat untuk berpartisipasi dalam program Petani Milenial, menyebarkan informasi mengenai lini masa dan kegiatan program Petani Milenial, dan membangun brand image baik program Petani Milenial di mata publik.

Menurut Joung berdasarkan analytic, persentase followers akun media sosial Petani Milenial yang rentang usianya 18-24 tahun ada sebanyak 40%, jadi pemilihan bahasa dan kata-kata yang digunakan lebih jenaka, optimis, santai/ kasual, cerdas dan dapat dipercaya. Karena kalau memakai bahasa yang formal tidak akan menarik.

Selain itu Joung juga menambahkan bahwa ada tiga hal yang harus diperbaiki dalam komunikasi yang saat ini sudah berjalan dalam program Petani Milenial ini; (1) Sinkronisasi yaitu aktif menanyakan, setelah mendapatkan data atau informasi agar disinkronisasi supaya tidak keliru. (2) Koordinasi, akan sulit karena banyak pihak yang terlibat, sehingga harus saling bertukar progress dan bersama-sama mencari solusi, tidak berjalan sendiri-sendiri. (3) Kolaborasi, dalam konteks komunikasi saat ini kita sangat dimudahkan untuk saling berkolaborasi yaitu dengan saling bantu follow, like, dan repost unggahan Petani Milenial.

Pada akhir paparannya Joung menyampaikan bahwa setiap perangkat daerah yang terkait disarankan untuk menahan dulu informasi-informasi yang simpang siur. Dalam hal ini humas seluruh perangkat daerah yang terkait harus satu kesatuan, agar setiap isu yang masuk bisa ditanggapi secara bersama. **(HUMAS-DISBUN)


Dibaca : 128 kali