BANDUNG – Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) kembali melanjutkan studi lapangan kinerja organisasi yang merupakan salah satu rangkaian kegiatan Pelatihan Kepemimpinan Administrator di Lingkungan BPKP Tahun 2021. Seperti yang telah diketahui sebelumnya bahwa BPKP mengadakan kegiatan ini karena Pemprov Jabar patut mendapatkan perhatian dari Pemda lain termasuk BPKP sebagai target bechmarking berkat prestasi dan penghargaan yang diperoleh melalui berbagai inovasi khususnya di bidang IT. Kegiatan ini dilakukan melalui zoom meeting pada Kamis (25/02/21).

Acara ini dipandu oleh host dari BPKP, Yulian dengan peserta perwakilan BPKP  seluruh Indonesia, bersiap mendengarkan program Sistem Informasi Peta Peruntukan Lahan Perkebunan (Si Perut Laper) yang disampaikan oleh narasumber dari Dinas Perkebunan  Provinsi Jawa Barat.  

Siti Purnama sebagai innovator Si Perut Laper mengungkapkan mengenai awal munculnya ide penciptaan inovasi SI PERUT LAPER. ”Sebetulnya SI PERUT LAPER merupakan  suatu inovasi yang awalnya iseng, tidak serius namun Alhamdulillah dari keisengan tersebut membawa suatu manfaat dan dampak yang besar. Kenapa dikatakan seperti itu, karena ini bukan proyek perubahan saya tapi hanya karena saya prihatin melihat para petani, setiap berkunjung melakukan pembinaan, petani selalu mengeluhkan produksinya rendah, hama penyakit tinggi, sehingga saya terpanggil” ungkapnya.

Bermula dari keprihatinan tersebut akhirnya Siti Purnama melakukan sebuah kajian yang dilakukan secara spontan. Dari kajian tersebut ternyata diketahui bahwa ada banyak lahan perkebunan di Jawa Barat yang sudah tidak sesuai peruntukannnya dalam hal ini yaitu tanaman perkebunan. Selain itu banyak pula lahan yang terlantar, lahan kritis dan penyerapan pupuk yang tidak maksimal oleh tanaman. Tiga dari banyak faktor tersebut menyebabkan tanaman merana dalam arti tumbuh tidak maksimal sehingga hasil produksinya rendah. Pengaplikasian pupuk dan pestisida kimia yang tidak tepat membuat lahan yang awalnya sesuai menjadi sakit.

“Dengan adanya permasalahan tersebut saya mencoba berdiskusi dengan petani yang ada di lapangan dan ternyata mereka hanya memiliki dua masalah utama yaitu; 1. Para petani memiliki lahan tetapi mereka tidak tahu apakah lahan mereka cocok untuk suatu jenis komoditas atau tidak. 2. Apakah tanaman yang ingin mereka tanam cocok dengan lahan yang mereka miliki’’ ungkap Siti.

Secara rinci kemudian Siti Purnama menjelaskan “Untuk proses bisnis menghasilkan SI PERUT LAPER tentunya harus ada lahan kemudian memiliki komoditas yang akan ditanam lalu harus pula mengetahui syarat tumbuh dari tanaman tersebut karena setiap tanaman berbeda syarat tumbuhnya seperti antara teh, kopi, karet dan semuanya memiliki syarat tumbuh yang berbeda. Kemudian juga harus ada agroekosistem atau lingkungan dari tanaman  tersebut. Semua data yang ada di overlaykan sehingga menjadi suatu output lahirnya kesesuaian lahan. Dengan lahirnya kesesuaian lahan maka kita akan tahu lahan kita cocok untuk tanaman apa. Namun tidak hanya sampai disitu, karena tidak semua lahan langsung sesuai. Perlu kita kaji apa faktor pembatasnya. Tahun 2014 dilakukan kajian   kesesuaian lahan dan faktor pembatas, dilanjut dengan  rekomendasi factor pembatas  untuk pengelolaan lahan, sehingga dengan penerapan SI PERUT LAPER diharapkan kelestarian lingkungan lebih terjada dan produktifitas bisa meningkat, uangkap Siti.”

Aplikasi SI PERUT LAPER memiliki 5 keunikan diantaranya yaitu: 1. Mudah diakses secara online; 2. Berdasarkan lokasi dan komoditas; 3. Menampilkan kesesuaian lahan tanaman, dimana kode S1 = digunakan untuk lahan yang sesuai, S2 = cukup sesuai, S3 = kurang sesuai dan N = tidak sesuai; 4. Menampilkan faktor pembatas contohnya kemiringan lereng, kekurangan hara, tekstur lahan yang perlu diperbaiki atau mungkin dari sisi drainase yang kurang baik; 5. Rekomendasi pengelolaan.

Siti Purnama lalu mengungkapkan setelah implementasi beberapa tahun tim Disbun Jabar melakukan evaluasi dampaknya di tingkat petani. “Kami ambil contoh petani kopi, setelah kami analisa, awalnya pada tahun 2016 – 2019 budidaya di lahan sesuai dan cukup sesuai sangat dominan namun setelah kehadiran SI PERUT LAPER pada tahun 2019 di tahun 2020 budidaya di lahan sangat sesuai dan sesuai menjadi lebih dominan. Untuk penanaman di lahan yang kurang sesuai tanamanpun tidak langsung dicabut, namun diberikan rekomendasi bagaimana supaya lahan tersebut menjadi lebih produktif. Setelah evaluasi dilakukan diperoleh juga hasil bahwa produktivitas petani naik sampai 60%, dengan meningkatknya produksi dan mutu, serapan pasar lebih tinggi sebanyak 59%. Ini berdampak pada pendapatan petani, meningkat 86%”.

”Kami mendapat dukungan dari dinas dari sisi anggaran, walaupun cukup sederhana. Inovasi ini dari aspek sosial membuka lapangan pekerjaan. Dari aspek lingkungan sudah pasti berdampak pada kelestarian lingkungan, mengurangi erosi dan menimimalisir longsor”, ucap Siti.

Kemudian selanjutnya beliau menjelaskan SI PERUT LAPER bisa direplikasi, dengan catatan harus ada sumber daya manusia yang paham syarat tumbuh tanaman dan rekomendasi, lalu mengetahui kondisi agroekosistem dan yang penting harus ada petaninya. Kemudian ada SDM yang ahli termasuk di bidang IT.

Untuk awalnya aplikasi ini dibuat tanpa menggunakan dana khusus, adapun itu pihak ke 3 yang dilibatkan tapi merupakan bentuk kolaborasi kami dengan tim pengkaji yang berbaik hati membantu kami. Setelah aplikasi ini berjalan dan melihat keberhasilannya kami mendapat dukungan dari APBD. Replikasi horizontal sudah dilakukan oleh Jawa Timur, Kepulauan Riau dan beberapa daerah di Yogyakarta. “Pada saat pameran di Kalimantan Selatan aplikasi kami juga diminati oleh Kementrian Perekonomian dan itu merupakan suatu hal yang sangat membanggakan”, ungkap Siti Purnama.

“Sebetulnya dari awal sudah diinisiasi untuk dibuat menjadi aplikasi meskipun awalnya hanya berbentuk website. Di 2021 Si Perut Laper sudah mulai bias diakses  di playstore. Sedangkan rencana untuk 2022 – 2023 masih tetap pemantapan di konten dan fitur, mulai berproses dari sekarang, rencananya nanti untuk rekomendasi akan dibuat dalam bentuk video bukan dalam berbentuk teks lagi. Agar petani lebih tertarik untuk menyerap informasi.“ imbuhnya.

Sebagai informasi Siti Purnama juga mengungkapkan bahwa pada tahun 2019 inovasi SI PERUT LAPER telah membawa harum nama Jawa Barat di tingkat Nasional dengan mencatat prestasi dalam Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik yang diselenggarakan oleh Kemenpan RB melalui SINOVIK dan meraih penghargaan Top 45 yang diserahkan secara langsung oleh wakil presiden Yusuf Kalla di Istana Wakil Presiden Jakarta.

Pada sesi tanya jawab salah satu peserta, Chalil Purba bertanya mengenai cara penggunaan aplikasinya apakah petani hanya tinggal klik lalu mendapatkan rekomendasi atau tetap harus ada tim yang turun. Siti Purnama kemudian menjawab untuk menggunakan aplikasi ini petani hanya tinggal mencocokan lalu kemudian klik dan nanti akan langsung ada rekomendasi dan tidak perlu ada petugas yang turun.

Siti menambahkan untuk percepatan penyebaran informasi, setiap melakukan pembinaan ke lapangan, walapun tidak ada kaitannya dengan urusan lahan, petugas dari Disbun Jabar selalu mensosialisasikan bahwa telah hadir SI PERUT LAPER  yang bisa membantu petani dan para pelaku usaha pertanian dalam memberi rekomendasi bagaimana cara melakukan penanaman yang baik.

“Mulanya harapan kami pada tahun 2020 kemarin ada suatu gerakan sosialisasi besar-besaran mengenai penggunaan aplikasi SI PERUT LAPER namun karena pandemi datang akhirnya saya coba siapapun yang saya temui baik petani, petugas lapangan dan pelaku usaha perkebunan lainnya, saya berikan edukasi dan sosialisasi terkait SI PERUT LAPER” tambah Siti.

Peserta Pelatihan Kepemimpinan Octavia mengajukan pertanyaan mengenai adakah MoU antara Disbun Jabar dengan PTPN VIII yang menyelenggarakan perkebunan plasma yang melibatkan masyarakat dalam program-program PTPN. Siti  menjelaskan bahwa PTPN VIII adalah mitra Disbun Jabar dan PTPN VIII memang menyelenggarakan perkebunan plasma. Program SI PERUT LAPER ini bebas untuk siapa saja dan sempat ada koordinasi dengan pihak PTPN via telepon, namun untuk MOU secara tertulis sampai saat ini belum ada karena memang SI PERUT LAPER merupakan aplikasi bebas bayar tidak perlu ada MOU dan semua kalangan masyarakat bisa menggunakannya.

“Kami senang dan bangga bila banyak yang menggunakannya. PR kami setelah 10 tahun kami harus melakukan analisa lahan, mungkin di 2023. Karena belum tentu data yang termuat di aplikasi hasil kajian beberapa tahun lalu masih sama dengan kondisi riil di lapangan  beberapa tahun kemudian” tambahnya.

Pujito, salah satu peserta kemudian mengajukan pertanyaan mengenai perolehan data layer lahan, menurutnya lahan itu sangat luas sehingga perlu tenaga yang sangat besar untuk melakukannya. Menanggapi hal  tersebut kemudian Siti Purnama menegaskan bahwa pada saat bertugas di bidang pengembangan dan perlindungan perkebunan  dirinya bersama dengan petugas lain melakukan kajian lahan mulai dari kesesuaian lahan, lanjut ke faktor pembatas dan lainnya di 21 Kabupaten di Jawa Barat karena 21 Kabupaten tersebut memiliki komoditas perkebunan yang potensial. Dan untuk melakukan penelitian mengenai kandungan hara, tim pengkaji cukup mengambil dari beberapa sampel yang sturkturnya mungkin tidak sama persis tapi bisa kita identikkan kemudian diuji di laboratorium.  Semua data hasil kajian diupload dalam aplikasi sebagai data base, setelah itu barulah  lahir aplikasi SI PERUT LAPER.

Melalui pelatihan kepemimpinan ini BPKP berharap inovasi-inovasi unggulan yang diciptakan oleh Perangkat Daerah di Jawa Barat bisa menjadi motivasi dan inspirasi bagi perangkat daerah lain di Indonesia. (**HUMAS-DISBUN)


Dibaca : 210 kali