BANDUNG – Kepala Balai Perlindungan Perkebunan, Siti Purnama menjadi salah satu narasumber pada pelatihan kepemimpinan bagi auditor yang diselenggarakan oleh BPKP Jabar. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari yaitu pada 24-26 Februari 2021. Kegiatan pada hari Jumat ini lebih kepada sesi Tanya jawab antara peserta dan narasumber. Siti mengatakan bahwa Dinas Perkebunan sudah memiliki banyak inovasi pelayanan baik dalam bentuk digital maupun non-digital. SIPERUTLAPER merupakan salah satu inovasi unggulan Disbun karena sudah mendapat ranking nasional (26/02/21).

“Sebetulnya di Disbun itu banyak inovasi pelayanan khususnya bagi petani bisa berbentuk digital maupun tidak. Si PERUT LAPER ini hanya salah satunya saja dan kebetulan  merupakan inovasi unggulan Jabar. Inovasi ini diciptakan waktu dulu di bidang Pengembangan dan Perlindungan. Saat memimpin Balai Perlindungan Perkebunan (BPP) baru lahir 3 inovasi lainnya”, katanya.

Lebih lanjut Siti mengatakan bahwa Di BPP dapat dikatakan fungsionalnya seperti dokter tanaman. Kemudian mencoba membuat inovasi SIRUTE AMAN (Sistem Informasi Ruang Layanan Dokter Tanaman) khusus aspek perlindungan tanaman. Rekomendasi pengendalian dan informasi siklus hidup hama penyakit  ditampilkan dalam  bentuk video. Contoh petani tidak tau penyebab daun kopinya hitam-hitam. Cukup membuka aplikasi, pilih tanaman kopi, pilih foto, kemudian muncul penjelasannya lewat video.Konsep pelayanan ini sengaja diciptakan agar petani tidak perlu datang ke BPP, mengingat sedang pandemic, namun  pelayanan tetap bisa berjalan.

Untuk lingkup pelayanan, baik inovasi SI PERUT LAPER maupun inovasi SI RUTE AMAN ini tidak terbatas, bisa investor, pelaku usaha, petani, tenaga teknis, dan siapa saja yang ingin belajar. Namun fokus sasarannya tetap petani. Khusus untuk SI PERUT LAPER, ingin memberitahu kepada petani binaan kondisi lahannya. Tidak menutup kemungkinan bagi khalayak lain, tambah Siti.

Kemudian salah satu peserta pelatihan Rudy Siswanto mengajukan pertanyaan terkait faktor-faktor sukses yang bisa mengantarkan Siti sampai bisa melahirkan inovasi SI PERUT LAPER dan siapa saja kelompok pendukung dibalik kesuksesan Siti.

Siti menjawab bahwa niat awal hanya karena kasihan melihat nasib petani yang  selalu merasa resah dan gelisah terus mengeluh tentang produksi yang rendah, sayang sekali dana APBD dan APBN terus mengucur tetapi petani belum sejahtera. Seringkali penyebab  produksi yang rendah ini  menyalahkan petani, tingkat pengetahuan petani rendah, serangan hama penyakit tinggi, kurang pupuk dan iklim yang tidak menentu. Sedangkan hubungan tanah dengan tanamannya tidak pernah  digali, padahal tanah sebagai tempat tumbuh tanaman sangat besar peranannya dalam menentukan tinggi randahnya produksi karena lahan yang sangat sesuai itu (S1) merupakan lahan yang cukup sempurna tanpa factor pembatas. 

Selanjutnya Rudy melemparkan pertanyaan lagi terkait MOU dengan pihak ketiga pada proses pembuatan inovasi SI PERUT LAPER dan bagaimana cara Siti dalam menggerakan staffnya karena tidak semua staffnya berlatar belakang seperti yang Siti inginkan.

Siti menjawab bahwa MOU khusus inovasi ini tidak ada. Semua staff juga berasal dari bidang keilmuan sejenis karena ditempatkan sesuai pendidikan, sehingga  berbanding lurus dengan jurusan yang diambilnya. Ada yang berasal dari Ilmu Tanah, Agroteknologi, dan kebetulah pimpinannya pun sangat mendukung.

Kemudian pertanyaan lain muncul dari salah satu peserta pelatihan lainnya, “di aplikasi SI PERUT LAPER apakah ada fitur monitoring agar bisa kita pantau keberhasilannya? Serta apakah ada evaluasi terhadap aplikasi yang sudah ada ini?”, Tanya Chalil.

Siti menjawab bahwa untuk monitoring pihaknya baru memunculkan fiturnya pada tahun 2020, pada tahun sebelumnya masih menumpang di comment center Gubernur. Sudah dilakukan tiga kali penyempurnaan pada aplikasinya. Pada awalnya masih berupa aplikasi sederhana karena dibuat tanpa adanya kucuran anggaran. Kemudian Siti melaporkan aplikasinya ini pada tim TAP Gubernur, sampai mereka merespon baik dan memberikan input pada inovasi tersebut. Logo aplikasinya pun juga diganti dengan yang lebih eye catching. Jadi untuk monitoringnya juga diserahkan kepada Gubernur, namun secara internal juga melakukan monev langsung melalui aplikasi. Evaluasinya dilakukan ketika turun ke lapangan atau via WAG, karena setiap komoditas binaan sudah memiliki WAG masing-masing.

Selanjutnya pertanyaan disampaikan oleh peserta lainnya, Krisno terkait kendala anggaran pada saat melakukan kajian karena wilayah Jabar itu luas, bagaimana cara mengatasi kendala tersebut.Kemudian juga ditanyakan kaitannya dengan data, apakah ada koneksi atau jaringan dalam memperoleh data yang dibutuhkan saat pembutan aplikasinya atau murni semua data tersebut merupakan data yang ada di Disbun.

Menurut Siti tahun 2014 itu hanya diberi anggaran untuk kajian lahan. Pimpinan sangat percaya apa yang dikerjakan olehnya. Kemudian tahun 2015dilakukan kajian factor pembatas, tahun 2016 kajian rekomendasi yang merupakan kombinasi kesesuaian lahan dengan factor pembatas, dan tahun 2017 sudah hampir sempurnanamun masih disajikan dalam bentuk dokumen buku dan peta.  Kemudain Siti berpikir alangkah baiknya kalau hasil kajian ini tidak hanya dibukukan, tetapi dibuat dalam bentuk   aplikasiagar lebih luas jangkauannya. Sedangkan kaitannya dengan database, pihaknya tidak berkolaborasi dengan dinas manapun, karena datayang dibutuhkan adalah data primer, jadi hanya kolaborasi dengan tim pengkaji dan perguruan tinggi saja.

Selanjutnya Krisno bertanya, “bagaimana perkembangan dari sisi anggarannya sekarang? Bagaimana menjalin kerjasama dengan pihak swasta dan laboratorium? Bagaimana mendapatkan data dari laboratorium, apakah memakai anggaran?”, Tanya Krisno.

Menurut Siti saat ini anggaran untuk pengembangan inovasinya ada peningkatan. Namun karena adanya pandemi covid-19 ini menyebabkan anggrannya dipangkas. Dengan anggaran yang minimpihaknyamemanfaatkan seoptimal mungkin untuk bisa menyempurnakan aplikasi ini. Tim pengkaji  mendukungsepenuhnya, mengingat tim ini  berasal dari perguruan tinggi, hubungan  relasi sangat baik, dan mereka tidak terlalu materialisme, karena tim kajian ini juga ikut membangun Jabar. Disamping itu dalam setiap kajian inovasi, selalu melibatkan mereka. Mereka merupakan tim tenaga ahli gabungan dari perguruan tinggi. Untuk analisis tanah yang dilakukan di laboratorium, pihaknyamenyatakan masih dikenai tarif bayaran, namun disini labnya juga milik pemerintah sehingga hubungannya lebih persuasif.

Lebih lanjut Krisno bertanya kaitan dengan hal yang paling berperan atas keberhasilan SIPERUT LAPER. Menurut Siti yang membesarkan itu pimpinan, dalam hal ini Kadisbun Jabar dan Gubernur Jabar, juga tim TAP yang ikut mensosialisasikan tentang aplikasi ini dengan waktu yang tidak terbatas.

Kemudian Ratna salah satu peserta pelatihan juga bertanya kaitan dengan faktor yang paling berpengaruh dalam pengembangan aplikasi SI PERUT LAPER. Menurut Siti kerja keras dan niat adalah kunci utamanya, kalau flashback aplikasi dibuat ini hanya iseng tetapi niatnya harus bisa merubah pola pikir petani dan rekan sejawatnya bahwa faktor ketidakberhasilan meningkatkan produksi tanaman itu bukan hanya soal pupukdan iklim saja.

Pertanyaan selanjutnya dilemparkan peserta pelatihan lainnya, Pujito bertanya “apakah pembuatan aplikasi ini awalnya berangkat untuk indikator keberhasilan Dinas Perkebunan atau hanya berawal dari keresahan Siti saja?”, tanya Pujito. Kemudian Siti menjawab bahwa tentu saja dirinya menginginkan untuk meningkatkan produksi yang dikaitkan dengan indikator keberhasilan. Namun untuk peningkatan produksi tidak terpikir tentang itu awalnya tetapi ternyata manfaatnya banyak yang bisa dikaitkan dengan indikator keberhasilan Disbun.

Selanjutnya Adi sebagai peserta pelatihan juga bertanya kaitannya dengan managemen resiko. “Ada disinggung terkait resiko, apakah managemen risiko sudah diterapkan di dalam implementasi aplikais ini?”, tanya Adi. Namun menurut Siti untuk implementasi managemen resiko ini masih sulit, resikonya bagi petani-petani yang tidak memiliki smartphone, bagaimana informasinya bisa sampai. Sehingga masih berkolaborasi dengan program Gubernur, Gerakan Membangun Desa (Gerbang Desa).

Kemudian Krisno  kembali lagi memberikan pertanyaan terkait pembagian peran dalam pengembangan aplikasi SI PERUT LAPER. “Sekarang timnya sudah membesar, ketika pihak yang terlibat semakin banyak, apakah ada pembagian peran dan apakah ada targetnya? Dan bagaimana untuk resiko bahwa data yang di aplikasi ini ketika sudah tidak relevan dengan keadaan saat ini?”, tanya Krisno.

Siti menjawab bahwa saat ini pihaknya sudah memiliki kelembagaan inti, yang lain terlibat untuk mendukung sosialisasi saja. Tim ini merupakan pemegang tupoksi, sedangkan Siti saat ini sebagai inovator saja. Terkait data, data ini diambil secara primer, untuk lahan itu dalam kurun waktu 10 tahun masih tidak akan berubah secara kandungan unsur hara,  didalamnya. Memang untuk faktor pembatas harus diupdate, tetapi karena data ini sudah masuk ke sistem tidak mungkin setiap tahunnya diupdate, contoh untuk kelerangan, jadi diambil secara global saja. Untuk pembagian peran ini, sempat mendapatkan teguran dari tim TAP karena Siti dan timnya sempat tidak aktif karena minimnya anggaran di bidang, tidak ada alokasi anggaran sehingga tidak ada penyempurnan. Untuk targetnya tetap menjadi icon Jabar.

Pada akhir kegiatan Siti menyampaikan bahwa intinya sebagai abdi masyarakat jangan selalu terpikirkan untuk harus selalu didanai, kalau diberikan tugas oleh pimpinan di luar tupoksi jangan pernah menolak. Walaupun kita belum tahu, yang terpenting siap dulu untuk mengerjakannya. Contohnya saja Provinsi Jabar harus melakukan reformasi birokrasi, Disbun sama sekali tidak terlirik namun di tahun 2020 ini Disbun diundang dalam kegiatan pendampingannya dan bisa setara dengan OPD lain yang sudah sampai ke taraf nasional. Pesan Siti supaya jangan mudah menyerah, ambil saja minimal ilmu bagi diri sendiri.**(HUMAS-DISBUN)


Dibaca : 139 kali