BANDUNG – Dalam rangka mendukung pendirian Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Cikadu di Kabupaten Cianjur yang bertema Pertanian Terpadu dan Program Petani Milenial di Jawa Barat akan diadakan Diseminasi teknologi dan inovasi pedukung Program Petani Milenial dan KST Cikadu dari Balitro. Untuk itu BP2D Jabar menginisiasi diskusi terkait hal tersebut bersama  beberapa OPD Jabar yang terkait dengan program Petani Milenial yaitu Dinas Perkebunan, Dinas TPH, Balitro, BPPT, dan Agro Jabar selaku off taker. Kegiatan ini diselenggarakan secara virtual melalui zoom meeting pada Jumat (05/03/21).

Menurut Sujianto dari Balitro berdasarkan data BPS bahwa PDB pertanian pada kuartal IV tahun 2020 tumbuh sebesar 2,59 persen. Pada kuartal IV tahun 2019, industri kimia, farmasi, dan obat tradisional mampu tumbuh 18,57 persen atau melonjak drastis dibanding pertumbuhan kuartal III-2019 yang menyentuh angka 9,47 persen. Selain itu, BPOM rilis 6 tumbuhan obat herbal yang dapat mencegah Covid-19 yaitu sambiloto, meniran, jahe, temulawak, dan jambu biji, sehingga hal ini bisa membuka peluang usaha komoditas ini kedepannya. Beberapa dari komoditas tersebut memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

Selanjutnya Sujianto mengatakan terkait faktor-faktor yang dapat menentukan harga komoditas. Pertama, adanya perubahan harga input produksi seperti pupuk, benih, obat saprodi, dan tenaga kerja. Kedua, musim atau cuaca, saat musim panen serentak harga rendah dan saat musim budidaya harga naik kembali. Ketiga, adanya penggunaan teknologi tentunya diharapkan biaya produksi di tingkat petani akan menurun, sehingga keuntungan petani lebih tinggi. Keempat, kenaikan penurunan permintaan pembeli. Kelima, kondisi dan ekspektasi ramalan permintaan terhadap komoditas juga sangat berpengaruh.

Lebih lanjut Sujianto mengatakan “dari yang disampaikan BP2D pada kami, kami mencoba menentukan jenis usaha dan komoditas bidang agribisnis ditingkat petani berdasarkan jaminan kepastian pasar yang ada, biaya dan potensi pendapatan yang diterima, resiko yang timbul di tingkat petani, lahan yang tersedia, batasannya hanya 2000 meter, mau tidak mau harus ada komoditas dengan sistem kolektif, yaitu 5-10 petani milenial harus bersatu untuk membuat 1 sistem usaha bersama. Tentunya kita juga mempertimbangkan aspek agroklimatologi, kebetulan untuk agroklimatologi memang sebenarnya dari beberapa komoditas yang kita rekomendasikan perlu kita validasi lagi ke lapangan karna baru berdasarkan data existing yang ada, untuk memastikan bahwa cocok dengan komoditasnya. Tenaga kerja berasal dari petani milenial yang direkrut, untuk gabungan tenaga kerja adalah mereka yang mau menantang perubahan. Untuk modal jika ada dari pemda maka jika investasi diawal tinggi akan menjadi pertimbangan. Akan ada beberapa komoditas yang investasi diawalnya tinggi, hasil 5 tahun ke depannya akan tinggi juga.”

Menurut Sujianto dalam paparannya, ada 5 komoditas yang direkomendasikan oleh Balitro untuk program Petani Milenial ini yaitu jahe, kapulaga (bisa diintegrasikan dengan beberapa komoditas ubi, pisang, papaya), serai wangi, budidaya dan penyulingan nilam, dan panili. Sebetulnya ada 6 komoditas, tapi untuk 1 komoditas lainnya perlu dikaji ulang kembali.

Kemudian Sujianto mengungkapkan bahwa komoditas jahe direkomendasikan karena jahe memiliki banyak khasiat yaitu untuk memperlancar peredaran darah, pencernaan. Selain itu, kita juga produsen peringkat ke-6 di dunia, setelah India. Saat ini jahe juga sudah mulai diekspor. Dukungan teknologi yang bisa dikembangkan bahwa Balitro sudah melepas beberapa varietas unggul untuk jahe, yaitu jahe putih besar dan jahe putih kecil. Masyarakat umum menyebutnya jahe gajah dan jahe emprit. Selanjutnya ada varietas unggulan jahe merah besar. Beberapa daerah sudah mengembangkannya seperti di Kabupaten Cianjur. Tapi tentunya tidak semua petani sudah menggunakan varietas unggul tersebut.  

Kalau kita lihat perkembangan harga jahe nasional, saat ini harganya cukup fantastis selam 3 tahun terkahir ini. Dengan adanya covid-19 ini juga harganya naik signifikan, tapi sebenarnya sebelum covid juga harga jahe sudah naik karena minyak jahe dan beberapa jahe segar sudah ada yang diekspor. Jahe merah besar sudah mulai ekspor baik itu extrak ataupun olahannya. Jahe sangat diburu saat pandemic ini, selain untuk kesehatan juga untuk bahan baku pabrik olahan jahe, lanjut Sujianto.

Sujianto menambahkan bahwa ternyata jahe yang dijual di marketplace di Indonesia ini masih kecil. Tetapi akan terus berkembang, ke depan mungkin petani milenial akan memasarkannya lewat marketplacenya juga. Tetapi untuk produksinya perlu kita awasi juga, jangan sampai produksi tinggi dapat menurunkan harga pasaran.

Tentunya dengan mengindentifikasi faktor-faktor ini nantinya kita bisa menentukan akan didrive kemana. Jika sudah ada jaminan pasar maka akan menentukan kesuksesan program. Harapannya tidak hanya on farmnya saja tetapi off farmnya juga dan bisa memproduksi olahannya yang bisa bernilai tinggi. Bisa saja dikembangkan ke arah 1 village 1 product ditingkat lokal bahkan di tingkat nasional. Kalau bisa nanti petani milenial ini yang didorong untuk memasarkan ke kancah global, tambah Sujianto.

Kemudian Sujianto memaparkan terkait analisis kelayakan budidaya komoditas jahe. Kalau dilihat rasionya positif yaitu lebih dari 1. Keuntungan perbulannya diatas 3,2 juta. Jadi, dengan asumsi budidaya jahe selama 8 bulan, lahannya 2000 meter, kalau kita lihat patokannya UMK Bandung Barat, 3,2 juta. Sesuai pesan Gubernur untuk pendapatannya paling tidak UMR, jangan sampai pendapatannya di bawah UMR. Kalau seandainya saprodi seperti benih dan lain-lain ditanggung pemerintah, maka akan semakin besar pendapatan petani dari UMK Bandung Barat.

Sujianto melanjutkan dengan komoditas rekomendasi yang kedua yaitu komoditas kapulaga. Dari segi harga untuk komoditas kapulaga saat ini sangat menarik. Dalam 5 tahun terakhir double bahkan triple untuk kenaikan harganya. Melihat bahwa kapulaga itu ada varietas lokal merah dan putih. Namun saat ini sayangnya Balitro belum ada varietas unggulan kapulaga. Yang memiliki varietasnya itu Kabupaten Bogor. Sebetulnya kami ada beberapa pelepasan varietas kapulaga dengan PT Sidomuncul, jadi karna pemain terbesar kapulaga saat ini adalah Sidomuncul. Rencananya dalam 2 tahun ini kami akan melepas varietas unggul kapulaga.

Perkembangan harga kapulaga di lima tahun terakhir sangat tinggi. Hal ini disebabkan oleh permintaan yang tinggi baik itu untuk olahan dalam negeri ataupun untuk ekspor. Karena Sidomuncul tidak hanya mengolah di tolak angin, tetapi mereka pun mengekspornya ke luar negeri. Kalau kita lihat kandungannya 1,8 sineol, hanya di Indonesia tanaman yang menghasilkan sineol ini ada eucalyptus. Kayu putih juga sebenarnya menghasilkan sineol. Efek permintaan tinggi dari pasar domestik yang menyebabkan harganya tinggi, ungkap Sujianto.

Menurut Sujianto rantai pasok kapulaga sangat sederhana. Untuk umur tanamnya lebih lama dari jahe, perlu waktu selambat-lambatnya 15 bulan. “Jadi memang pembaginya jika kita bagi 15 bulan untuk petani milenial ini belum memenuhi persyaratan yaitu hanya 2,8 juta/ bulan. Tetapi ini tentunya jika monokultur, jadi kalau dengan sistem tumpangsari bisa lebih tinggi lagi pendapatannya. Misal dengan papaya, tapi untuk komoditas tumpangsarinya perlu divalidasi lagi disana apakah cocok atau tidak. Bisa meningkat rasio sekitar 1,5. Tentu saja kenaikan ini dibarengi dengan peningkatan biaya produksi.

Selanjutnya Sujianto memaparkan komoditas rekomendasi yang ketiga yaitu serai wangi. Komoditas serai wangi dari segi pasar memang mudah penjualannya. Pasarnya sudah berkembang luas, tetapi untuk serai wangi ini perlu diintegrasikan dengan penyulingannya. Balitro memiliki 1 teknologi integrasi yaitu integrasi serai wangi dengan sapi austin. Untuk varietas unggul yang dimiliki Bailtro saat ini sudah 80 % tersebar. Menurutnya hasil akan signifikan sekali jika tidak menggunakan varietas unggulan, bisa dipastikan kadar sinotrela yang dituntut ini tidak akan tercapai. Beberapa kasus di Jonggol, kadar sitronelanya hanya sekitar 10-11%, setelah dilihat mereka menggunakan varietas serai sabun, bukan varietas dari Balitro. Mungkin petani awam tidak bisa membedakan tapi hanya pemulia dan yang sudah berkecimpung lama dengan serai wangi ini yang bisa.

Dengan sistem integrasi, petani bisa mendapatkan hasil dari serai wangi dan sapi. Di samping bisa dintregasikan dengan sapi, bisa juga dikembangkan dengan kerbau. Di Bandung Barat kerbaunya hanya diikat saja dipinggir lahan serai wanginya dan hanya diberi makan hasil sisa penggilingan serainya saja. Ternyata kalau kerbau tidak memerlukan tambahan pakan yang lain. Harapannya Lembaga penelitian agar bisa melakukan penelitian lebih lanjut terkait pemanfaatan limbah penggilingan serai wangi ini untuk ruminensia yang lebih kecil, seperti kelinci, pungkas Sujianto.

Bisa juga dimonokulturkan untuk serai wangi ataupun ditanam di bawah tegakan. Untuk di bawah tegakan itu maksimum sekitar 70% intensitanya harus mendapatkan cahanya. Jadi hanya 30% yang terhalangi, karena intensitas cahaya ini berpengaruh sekali terhadap kualitas dan kuantitas minyak yang dihasilkan nantinya. Integrasi penyulingan dengan sapi bisa dicoba, tapi tentunya investasinya akan lebih besar. Bisa juga juga ditumpangsarikan dengan tanaman buah-buahan dan sayuran. Ternyata yang paling bagus adalah tumpangsari dengan brokoli, jadi karena harga brokoli juga bagus. Ini bisa untuk cash corp, diharapkan 4 bulan sudah dapat penghasilan, karena serai wangi butuh waktu 6 bulan untuk panen. Jadi harus ada yang bisa dihasilkan dari jangka pendeknya, ungkap Sujianto.

Kemudian Sujianto memaparkan komoditas rekomendasinya yang keempat yaitu komoditas nilam. Kalau dilihat asal muasalnya nilam yang bagus itu yang berasal dari daerah Sumatra. Namun pengembangannya sekarang bergeser dari Sumatra ke Sulawesi, tetapi di daerah Jawa Barat seperti di Kuningan juga sudah menjadi 1 sentra nilam. Saat ini harganya sedang bagus yaitu 600ribu/ kg, diproyeksikan pendapatan petani itu dalam 1 hektar bisa 60-90 juta, tapi kalau dikalkulasikan nilam itu harus diintegrasikan dengan penyulingannya. Artinya 10-20 orang petani milenial bersatu, kemudian ada 1 penyulingan yang disediakan di tempat itu. Beberapa teknologi juga sudah ada, SOP dan GAP komoditas nilam.

Rantai pasok nilam hampir sama dengan serai wangi. Harapannya petani penyuling, pedagang nasional ini satu linear. Jadi kita kerjakan petani dan penyulingnya kita kerjakan di satu lokasi. Si petani milenial ini menjadi pemilik penyulingannya juga. Sehingga bukan hanya mendapatkan keuntungan dari menjadi pembudidaya, namun juga mendapatkan selisih dari penyulingan nilam itu sendiri.

Produk turunan nilam masih sangat terbatas karena seperti yang kita tahu bahwa nilam itu digunakan sebagai viksator atau pengikat parfum dan kosmetik. Sementara untuk di dalam negeri pemanfaatannya masih sebatas untuk minyak saja. Oleh karena itu, perlu dipikirkan produk turunan lainnya dari nilam yang bisa memiliki nilai ekonomi yang tinggi, pungkas Sujianto.

Selanjutnya Sujianto memaparkan terkait rekomendasi komoditas yang terakhir yaitu panili. Panili memiliki harga yang tinggi. Sayangnya ada beberapa kelemahannya yaitu setiap bunga harus dikawinkan oleh si pembudidaya sendiri. Oleh sebab itu perlu dikaji ulang untuk kerumitannya ini, apakah cocok dengan petani milenial tau tidak. Selain itu harus ada transfer teknologi juga. Menurutnya prosesnya ini sebenarnya mudah, hanya mungkin memerlukan kecepatan saja karena bunga mekarnya itu perlu disilangkan dalam rentang jam 6-11 pagi saja. Untuk komoditas panili juga sudah ada varietas unggulannya.

Memang kita nomor 2 setelah Madagascar. Panili harganya masih tinggi di dunia. Merupakan komoditas yang paling tinggi di kelompok tanaman penyegar. Dalam rantai pasok panili, yang perlu didorong sebenarnya petani pengolahnya supaya panili ini dibuat semi ekstrak kemudian dijual di pasar domestik dan internasional. Tentunya pihaknya yakin jika petani milenial ini nantinya bisa diarahkan ke arah pasar online atau pasar expor, ungkap Sujianto.

Lebih lanjut Sujianto mengatakan bahwa panili ini rawan pencurian, namun jika untuk lahan petani milenial 2000 meter dan dikelola bersama-sama harapannya bisa lebih aman. Panili ini investasi diawal karena sampai tahun kedua baru bisa dibungakan. Jadi,  tahun pertama hanya investasi saja, tahun kedua baru bisa sebagian dibungakan. Tahun ketiga baru bisa ada hasil yang signifikan. Kalau dirasiokan kepada UMK Bandung Barat, mungkin per bulannya bisa di atas 1,5. Perhitungan ini berdasarkan  harga panili segar, jika yang dijual oleh petani milenial itu produk olahannya maka akan lebih mendapatkan nilai ekonomi yang tinggi.

Pada akhir paparannya Sujianto mengatakan bahwa petani kita perlu kita dorong bukan hanya di on farm tetapi juga di off farm. Termasuk bagaimana memasarkan komoditasnya secara digital. Perlu juga menentukan segmentasi pasar untuk tiap-tiap komoditas tersebut. Petani itu harus kolaborasi, supaya ada bargaining position petani yang bisa mendorong kesuksesan petani. Ada beberapa produk yang harus dikonsentrasikan ke permintaan pasar yang ada, produk tersebut harus memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Petani milenial juga perlu harus memiliki semangat dedikasi yang tinggi dalam agribisnis. Yang paling penting dalam model usaha ini adalah perlunya jaminan pasar. Khawatirnya nanti jika tidak ada jaminan pasar nanti petani akan riskan dengan kegagalan. Dukungan kelembagaan harus kita gagas bersama, dari BP2D, IPB University, Dinas terkait. Untuk pemasaran perlu ada focus sendiri, mitra mana yang nantinya akan masuk ke program petani milenial ini.

Kemudian Kadisbun Hendy Jatnita juga memberikan pandangannya terkait paparan yang disampaikan oleh Sujianto dari Balitro. “Untuk serai wangi ini sudah kami sampaikan kepada para petani, karena kami menyadari bahwa sebagaian besar serai wangi di Jawa Barat itu menggunakan varietas sereh sabun atau aster yang hasil rendemennya jelek. Hanya memang dalam kemampuan penganggaran dan ketersedian benih kita tidak banyak, paling berapa puluh hektar untuk Bandung Barat. Kemudian Subang kemarin ada bantuan benih dan sumbernya juga sama dari Balitro. Memang tentunya kolaborasi terutama dalam BIMTEK, kami setiap tahun juga melakukan BIMTEK dan narasumbernya juga dari Balitro dan Balitbangtan yang lainnya dari berbagai komoditas. Mudah-mudahan kolaborasinya juga terus berjalan untuk hasil serai wangi di Jabar”, ungkap Hendy.

Menurut Hendy serei wangi saat ini sedang booming.Kalau dulu hanya di Bandung Selatan kemudian Cianjur Selatan, kalau sekarang Serang Panjang juga sudah menjadi sentra. Kemudian kami ini berkeinginan mengembangkan serai wangi ini tidak individual, karena dengan skala yang sangat minim yaitu 0,02 hektar atau 2000 meter itu sulit untuk mencapai keuntungan yang besar. Jadi harus kolektif, harus dikombinasikan petani milenial dan korporasi pertanian. Kami sudah punya design rancangan bahwa pengembangan 20 hektar dengan unit pengolahan atau 10 hektar dengan 1 atau 2 unit pengolahan, ini yang kita gagas. Hanya memang tidak memnuhi kriteria yang disampaikan saat ini bahwa harus 0,2 per petaninya. Itu akan sulit mengatasinya menurut kami mudah-mudahan ini juga bisa diterima oleh tim, bahwa kami ingin petani milenialnya itu korporasi”, ungkap Hendy.

Kemudian Hendi mengungkapkan bahwa pihaknya ingin program Petani Milenial ini ada batasan waktunya sampai akhirnya bisa mencetak entrepreneur di bidang pertanian atau perkebunan. “Dalam prosesnya kami tidak semata-mata memperkerjakan milenial ini di petani, kami ingin juga milenial ini kami bimbing, kita latih, kita beri lahan usaha, nanti ada jangka waktu tertentu menjadi entrepreneurship. Jadi tumbuh kewirausahaan baru dari petani-petani, karena kalau tanpa batasan akan berapa tahun petani milenial ini menggarap lahan-lahan yang disediakan oleh pemprov misalnya. Harus ada batas tahunnya, nanti setelah lulus disana, tentunya dengan BIMTEK dan pendampingan ini dilepas menajdi wirausaha baru bidang pertanian atau bidang perkebunan”, lanjut Hendy.

Lebih lanjut Hendy mengungkapkan pandangannya terkait rekomendasi komoditas nilam yang disampaikan oleh Balitro. Bahwa untuk komoditas nilam sentranya mengalami pasang surut, dulu di Sumedang dan Kuningan. Karena nilam ini sangat rentan dengan hama penyakit sama seperti komoditas sayuran. Ini yang mengakibatkan petani banyak berhenti menanam nilam karena tidak kuat dengan hama penyakitnya. Apalagi jika nanti tumbuhnya berdampingan dengan kebun-kebun sayuran. Selain itu fluktuatif harga komoditas nilam juga menjadi kendala, kalau sedang bagus bisa sampai 800ribu/ kg, kalau harganya sudah di bawah 200ribu tidak akan mencapai DMP. Atau mungkin harus ada varietas-varietas yang dikembangkan oleh Balitro dan menjajikan bahan tanaman bagi para petani. Dan petani juga akan mudah mengakses varietas-varietas baru. Kalau sekarang ketersedian benih nilam dan sereh wangi agak susah kalau volumenya banyak, karena sumber benih yang ada di Lembang juga sedikit, ungkap Hendy.

Kemudian Hendy juga menambahkan bahwa untuk limbah daun sisa penyulingan sereh wangi juga selain bisa diintegrasikan dengan sapi, bisa juga menjadi pakan domba, seperti yang ada di Ujung Berung. Selain itu di daerah Lembang juga sudah ada, jadi sisa penyulingannya ini nanti diambil oleh peternak domba. Mungkin nanti juga dalam pengembangan petani milenial itu juga dapat nilai tambahnya dari ternak domba atau sapi.

Selanjutnya Hendy menanggapi terkait komoditas panili. Menurut Hendy, panili itu sekarang mendapat beberapa puluh hektar bantuan dari APBN untuk pengembangan lanjutan di beberapa kabupaten, terutama di Subang, Sumedang, dan Sukabumi. Tahun ini juga mendapatkan tambahan area untuk daerah Subang. Untuk Sumedang dan Sukabumi memang sudah menjadi sentra panili. Terakhir di bulan Januari ini harga di tingkat petani mencapai 3 juta/ kg. Kemudian petani panili di Sukabumi juga sudah bisa memasarkan lewat online ke Jerman dengan harga 5 juta/ kg. Heny mengatakan bahwa pihaknya juga ingin mengembangkan petani milenial itu dengan komoditas panili, karena harga komoditasnya cukup bagus sampai saat ini. Namun kendalanya komoditas panili ini tidak seperti sereh wangi yang tanam tahun ini, 6 bulan kemudian sudah bisa dipanen, dan setahun sudah bisa menghasilkan lagi.

Hendy berharap nantinya dalam BIMTEK tingkat lapangan, supaya program petani milenial ini bisa sukses dengan pendapatan yang layak dan rasional ini bisa berhasil.

Kemudian Sujianto menanggapi pernyataan dari Hendy bahwa untuk varietas unggul lokal panili yang dimiliki Disbun agar dapat segera dilepas. Untuk komoditas nilam agar bisa menjalin kerjasama dengan korporasi agar dapat mengamankan harga nantinya supaya tidak jatuh saat panen.

Selanjutnya Herdian dari Agro Jabar mengatakan bahwa pihaknya telah memiliki market driven apa saja yang bisa diserap dari program petani milenial. Terkait dengan tanaman obat-obatan pihaknya juga sudah siap untuk menyerap komoditas jahe emprit dan serai wangi. Jadi petani milenial dapat menjual hasil panennya itu khusus komoditas jahe emprit dan sereh wangi pada Agro Jabar.

Adang dari DTPH mengatakan bahwa untuk komoditas jahe dan kapulaga untuk program regular pun sudah ada bantuan dari APBN. Untuk kapulaga itu ada di Kabupaten Kuningan, Tasikmalaya, Ciamis, dan Pangandaran. Sedangkan untuk jahe ada di Kabupaten Sukabumi, Kuningan, dan Ciamis. Menurut Adang pihaknya juga memiliki kegiatan-kegiatan BIMTEK yang selalu melibatkan pihak Balitro. “Kami sudah 2 tahun dalam hal kerjsama dengan Balitro melaksanakan BIMTEK untuk komoditas obat. Semoga dengan adanya jaminan pasar sehingga petani milenial mengusahakan budidaya yang lebih berkualitas. Kami juga perlu dukungan dari BP2D, Balitro untuk meningkatkan produktivitasnya. Sampai saat ini belum ada varietas kapulaga yang terdaftar, sehingga kami memfasilitasi petani dari sisi produksi saja dan untuk benihnya swadaya. Jika sudah ada varietas kapulaga yang sudah terdaftar, kami mohon dihubungkan dengan penangkar”, ujar Adang.

Kemudian Maesaroh dari BPPT juga menyatakan siap untuk mendukung program milenial ini dari sisi teknologi pasca panennya. “Terkait sereh wangi dan minyak nilam, kami pun beberapa waktu lalu pernah melakukan penyulingan minyak asiri, tidak hanya pada nilam tetapi akar wangi, serai wangi, bahkan jahe, adas dan kayu putih. Jadi senang sekali kalau kami bisa bersama-sama bersinergi dengan Balitro. Selain itu kami juga melakukan pasca panen buah, salah satu teknologinya adalah perpanjangan masa kesegaran buah yaitu dengan teknologi cutin. Ada juga teknologi untuk meminimalkan hama pada buah, seperti lalat buah. Dan olahan-olahan dari mangga, ada prospek agrowisata nanti ada oleh-oleh yang bisa dibawa dari KST ini. Kami sangat terbuka sekali untuk beberapa teknologi pasca panen yang bisa kami kontribusikan bagi program petani milenial ini”, ungkap Maesaroh.

Dengan adanya kolaborasi dari bebagai pihak baik dari dinas terkait dan lembaga penelitian, diharapkan program Petani Milenial dan Kawasan Sains Terpadu ni dapat berjalan dengan sukses karena mendapatkan dukungan dari berbagai pihak. ***(HUMAS DISBUN)


Dibaca : 134 kali