BANDUNG – Bisnis aren sangatlah menjanjikan. Yuli sebagai founder Gandrung Alam merupakan salah satu petani milenial binaan Dinas Perkebunan Jawa Barat mengatakan bahwa dirinya rela untuk resign dari pekerjaan tetapnya karena ada dorongan untuk mengembangkan potensi daerah yaitu dengan mengembangkan usaha di bidang pengolahan nira aren. Tenyata upayanya itu tidak mengkhianati hasil yang diraihnya. Hal ini disampaikan Yuli saat menjadi narasumber pada Webinar Agribisnis Gula Aren Versi Petani Milenial yang diselenggarakan oleh Bidang Sumberdaya Perkebunan Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat pada Senin (24/03/2021).

Yuli mengungkapkan  pohon aren banyak tersebar di Jawa Barat, melihat banyaknya potensi pohon aren dan keluhan petani di Bandung Barat terkait harga gula aren yang mereka terima itu sangat rendah. Per kilo hanya dihargai 10 ribu rupiah untuk gula aren oleh tengkulak. Hal inilah yang melatarbelakangi Yuli untuk mulai menggarap pengolahan nira aren menjadi gula semut.

“Berawal dari pelatihan wirausaha baru yang diselenggarakan oleh Disbun, pada saat itu berani membawa gula ini dengan packaging yang seadanya, ingin menunjukkan bahwa produk yang berpotensi di Jawa Barat ini tidak hanya kopi melainkan gula semut juga”, ujar Yuli. Sebelum mengikuti pelatihan wirausaha baru, Yuli mengaku bahwa packaging gula semutnya masih tidak menarik dan banyak mendapatkan komentar. “Dulu ada yang berkomentar bahwa packaging gula semutnya tidak eye catching”, ucap Yuli.

Menurut Yuli, Disbun telah mendatangkan narasumber yang hebat pada saat pelatihan wirausaha baru sehingga membuatnya mulai memberanikan diri untuk merepackaging kemasan gula aren semutnya.

Adapun perjalanan Gandrung Alam menurut Yuli mulai terbentuk sejak 11 November 2017, kemudian November 2018 mulai berbisnis gula aren dan berjualan dari stand ke stand, selanjutnya Desember 2018 mulai mendapatkan pre order dari distributor dengan produksi gula aren sebanyak 50 kg per minggu dan gula semut 1 kwintal per minggu. Kemudian jumlah pesanan gula aren semakin meningkat yaitu Januari 2019 mencapai 2 kwintal per minggu.

Kemudian di bulan Februari 2019 dirinya mulai memproduksi brown sugar dengan jumlah orderan 3.5 kwintal per minggunya. Bulan Maret hingga Juni 2019 permintaan brown sugar terus meningkat yaitu 5 kwintal per minggu, selain itu pihaknya juga sudah mendapatkan perijinan PIRT dan kunjungan dari ITB untuk pengembangan usaha. Selanjutnya pada bulan Agustus hingga Oktober pihaknya sudah berhasil mendapatkan sertifikasi halal hingga Januari 2020 mulailah rencana pengembangan usahanya mendirikan kedai kopi dengan nama Kopibeb.

Selain itu, Yuli menyebutkan bahwa visi  Gandrung Alam sendiri adalah untuk menjadi aggregator bisnis komoditas perkebunan dan pertanian yang bertumpu pada inovasi dan kolaborasi dalam pengembangan SDM serta penerapan praktek pertanian dan perkebunan yang berkelanjutan. Sedangkan untuk misinya adalah inovasi pemberdayaan ekonomi masyarakat pertanian, perkebunan dengan pendekatan bisnis dan kolaborasi dalam meningkatkan kualitas hidup petani dan keluarganya.

Yuli mengungkapkan bahwa bisnisnya ini bukan hanya untuk dirinya sendiri melainkan impactnya lebih kepada social interface dan kembali kepada petani. Keinginan terbesar Yuli adalah supaya para petani gula aren dapat terlepas dari jeratan para tengkulak.  Menurut Yuli sampai saat ini produknya telah berkembang menjadi beberapa varian yaitu gula semut, brown sugar, liquid aren sugar dan gula aren gandu. Yuli mengaku bahwa dirinya banyak mendapatkan pencerahan semenjak dibina oleh Disbun Jabar. Salah satu diantaranya adalah terkait perizinan usaha.  “Saya percaya ketika ini berjalan, tidak perlu kita menunggu bantuan tapi ketika ini berjalan maka pemerintah akan memberikan bantuan terhadap kegiatan yang kita jalankan”, ujar Yuli.

Kemudian Kepala bidang SDP, Agus Sutirman mengungkapkan untuk menjadi petani milenial itu tidak harus mulai dari bercocok tanam tetapi bisa dengan ikut andil dalam sistem managemennya seperti menjadi pemikir atau managernya yang mengkoordinir usaha seperti apa yang dirintis Yuli. Petani milenial ini bukan hanya dalam kapasitas kecil saja melainkan bisa bergerak menjadi inovator.

Yuli mengungkapkan cara pendekatan supaya petani tidak lari dan tetap setia menjual hasil panen pada pihaknya yaitu dengan mempersiapkan rumah produksi. Selain itu, pihaknya juga menyiapkan modal yang disimpan di ketua koptan. Hal ini dilakukan supaya petani tidak meminjam uang kepada tengkulak karena biasanya sebelum panennya dijual petani sudah mengambil terlebih dahulu uangnya pada tengkulak. Hal ini yang menyebabkan petani bergantung kepada tengkulak sehingga harga yang diterima petani saat panenpun cenderung lebih rendah.

Selanjutnya Yuli mengatakan bahwa goal besarnya adalah membangun koperasi supaya nantinya tidak bingung dengan masalah modal. Apalagi disaat pandemi seperti ini. Selain itu, menurut Yuli petani hanya konsen pada produksi saja sedangkan untuk masalah pemasaran difasilitasi oleh pihaknya.  Yuli menegaskan bahwa jangan sampai pihaknya itu berperan sebagai tengkulak. Oleh karena itu, pihaknya membuka keterbukaan harga bagi petani, berapa harga yang diterima oleh kami dari poktan.

Yuli juga menuturkan bahwa saat merintis usahanya ini pernah mengalami trouble dengan tengkulak. Adanya kekhawatiran tengkulak dengan pihaknya yang akan membeli gula dari petani dengan harga yang lebih tinggi daripada harga yang biasa diberikannya. Kemudian Yuli mencoba untuk berkomunikasi dengan para tengkulak dan berkolaborasi dengan pihaknya untuk membeli dengan harga yang sama seperti yang pihak Yuli lakukan. Yuli menegaskan pada tengkulak bahwa pihaknya tidak akan merebut pasar tengkulak melainkan pihaknya mencoba menciptakan segmentasi pasar baru. “Kita ciptakan poktan-poktan, jadi petani tidak perlu menjualnya kepada tengkulak lagi, tapi bisa dijual ke poktan kemudian dari poktan akan kami beli”, ujar Yuli.

Kemudian Agus menanggapi pernyataan Yuli bahwa dengan perannya yang demikian dengan kata lain perannya itu adalah sebagai offtaker gula aren, ujar pak Agus.

Kemudian Yuli menjelaskan terkait simulasi keuangan yang dibutuhkan dalam memulai bisnis pengolahan gula aren. Menurut Yuli dengan modal 25 juta akan bisa memulai bisnis pengolahan gula aren. Untuk langkah awal Yuli menyarankan agar membeli asset terlebih dahulu seperti continuous sealer, timbangan digital, timbangan besar, kuwali besar, spatula kayu, kompor dan tabung gas.

Kemudian Kepala Subbagian Perencanaan dan Pelaporan, Dadi Gun Gun Cahyadi mengungkapkan bahwa karakteristik aren itu baik untuk segi ekonomi, sosial dan lingkungan. Aren dari segi ekonomi bisa memberikan pendapatan harian. Tetapi komoditas aren ini masih banyak yang memandang underestimate dibandingkan komoditas perkebunan yang lain. Dadi juga mengaku salut dengan Yuli, yang bisa menjadi salah satu ikon bagi komoditas aren di Jawa Barat.

Dadi setuju dengan pendapat Yuli yang mengatakan bahwa aren  existingnya memang lebih banyak tersebar di Jawa Barat. Tetapi terus terang saat ini untuk nilai produktivitas aren di Jawa Barat masih relatif kecil berdasarkan laporan dari Kabupaten dan Kota. Kemudian Dadi mengajukan pertanyaan kepada Yuli terkait produktivitas nira yang bisa dihasilkan dari satu pohon aren serta persentase rendemen nira ketika diolah menjadi gula merah. Jika berdasarkan teori yang ada persentase rendemennya diantara range 15-25%.

Menurut Yuli sesuai keadaan di lapangan, 10 liter nira aren hanya bisa menghasilkan 5 kg gula aren karena ada penyusutan sehingga persentase rendemennya sekitar 50%.

Kemudian Agus pada akhir kegiatan mengungkapkan dengan potensi bisnis pengolahan aren yang menjanjikan, aren ini bisa menjadikan pengentasan kemiskinan di pedesaan.**(HUMAS-DISBUN)


Dibaca : 69 kali