BANDUNG – Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil kembali melepas ekspor komoditas perkebunan di Jawa Barat. Ekspor kali ini adalah komoditas teh sebanyak 20 ton yang bernilai 614 juta dengan tujuan ke negara Uni Emirat Arab. Teh yang diekspor ini merupakan produksi petani binaan PT Kabepe Chakra. Emil menyebut bangga dengan pencapaian PT Kabepe Chakra yang berhasil melakukan ekspor dengan jumlah yang besar dan mengaku sektor pertanian  menjadi sektor yang paling tangguh selama pandemi Covid-19. Hal ini disampaikan Emil pada  acara pelepasan ekspor teh ke Uni Emirat Arab  di halaman Gedung Pakuan pada Jumat (26/03/2021).

Kegiatan spektakuler ini dihadiri oleh Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan, Direktorat Jendral Perkebunan, Dedi Junaedi, Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat, Hendy Jatnika, Kepala Bappeda Jawa Barat, Ferry Sofwan Arif, perwakilan Bank BNI dan Direktur PT Kabepe Chakra, serta perwakilan OPD mitra Disbun Jabar. 

“Saya juga sangat bangga hari ini kepada PT Kabepe Chakra yang diwakili bu Ita Badrudin, selaku pendiri dari KBB Chakra yang berhasil melakukan ekspor, dengan jumlah yang lebih besar lagi hari ini 20 ton”, tutur Emil.

Emil juga menyampaikan bahwa ekonomi Jawa Barat selama pandemi ini berdasarkan indeks recovery telah mengalami peningkatan setiap minggunya. “Alhamdulilah ekonomi Jawa Barat hasil laporan minggu ini ada namanya Indeks Recovery. Indeks Recovery itu kalau yang nol, berarti semuanya relatif tidak minus, kalau yang recoverynya 100 itu artinya sudah normal. Hari ini alhamdulilah saya laporkan Indeks Recovery kita di Indeks 58, dua minggu lalu di 48. Mudah-mudahan dengan terus bergeraknya ekonomi dalam waktu dekat sudah mendekati 100 berarti sudah kembali seperti sebelum Covid-19. Upaya-upaya terus kita lakukan karena ekonomi ini terbagi dua yaitu yang menengah ke bawah ini daya belinya turun makanya harus dikasih bansos, yang menengah atas menahan diri, biasanya ngopi dan ngeteh 3 kali sehari. Jam operasional restoran dibatasi.  Pelan-pelan restriksi ini akan kita longgarkan”, ujar Emil.

Kemudian Kadisbun Jabar, Hendy Jatnika dalam laporannya menyampaikan bahwa budaya minum teh sudah akrab dikenal oleh orang Sunda dengan istilah “nyanet”. Budaya tersebut merupakan cerminan dari harmonisasi kehidupan orang Sunda sehari-hari. Istilah “nyanet” yang telah turun temurun yang telah menjadikan kehidupan para wargi sunda dalam bersilaturahmi melalui suguhan yang hangat. Tradisi ini tidak bisa dilupakan dari komoditas teh di Jawa Barat.

“Perlu disampaikan bahwa pelepasan ekspor teh sebanyak 20 ton dengan nilai tidak kurang dari 614 juta bertujuan ke negara Uni Emirat Arab ini, diproduksi oleh Kabepe Chakra. Selama tahun 2021 Kabepe Chakra merencanakan ekspor teh sebanyak 10.400 ton dengan nilai  sekitar 280 miliar lebih dengan tujuan berbagai negara yaitu benua Amerika, Afrika, Asia dan Eropa serta negara-negara lainnya”, tambah Hendy.

Selanjutnya Hendy menyampaikan bahwa pada kesempatan ini juga mungkin dapat menjadi suatu pencanangan dari gerakan kita untuk menetapkan teh kembali menjadi komoditas unggulan Jawa Barat. Jawa Barat sampai saat ini merupakan produsen teh terbesar nasional kurang lebih 70% berasal dari Jawa Barat. Kemudian di Jawa Barat dominasi teh rakyat ini cukup besar, jadi total teh rakyat 36.800 hektar, ini adalah 70% dari areal teh di Jawa Barat, selebihnya diusahakan oleh PTPN VIII dan perkebunan swasta.

Hendy juga menyatakan bahwa untuk komoditas teh sendiri di Jawa Barat ini mengalami beberapa kemunduran dan mudah-mudahan pada kesempatan ini kita dapat tingkatkan kolaborasi dan inovasi. Karena pada masa pandemi ini ternyata teh Jawa Barat masih juga mampu menerobos pasar-pasar dunia termasuk contohnya yang akan dilepas hari ini. Kemudian juga informasi yang berkembang sekarang mulai kolaborasi kita banyak bertautan salah satunya dengan yang dari Gambung, mohon barangkali pihak tersebut mengembangkan varietas unggul baru untuk teh genesis yang ternyata punya pasar ekspor sendiri. Mudah-mudahan dengan ekspor yang dicanangkan pak Gubernur hari ini adalah titik balik kita Jawa Barat untuk mempertahankan industri yang sangat historis di Jawa Barat. Alangkah tidak indahnya lagi kalau kawasan puncak, Ciater, Ciwidey dan Pangalengan yang menjadi destinasi wisata ini tehnya habis. Tentu harus kita pertahankan segala upaya melalui kolaborasi dan berbagai inovasi.

Selain kegiatan pelepasan ekspor teh juga dilaksanakan simbolis penyerahan KUR dari BNI Wilayah IV Jawa Barat kepada perwakilan petani teh binaaan Kabepe Chakra. Emil menuturkan terimakasihnya kepada pihak BNI atas penyaluran KUR kepada petani teh binaan Kabepe Chakra. “Pak Wirawan dari BNI hatur nuhun sudah menyalurkan KUR kepada sektor yang ternyata paling tangguh selama Covid-19 yaitu sektor pangan yang sifatnya konsumtif ini”, tutur Emil.

Kemudian Emil menyampaikan bahwa hasil PPKM di Jawa Barat ini sudah menurunkan kasus covid-19, harapannya dengan dibantu vaksinasi dapat memulihkan ekonomi Jawa Barat lebih cepat. “Minggu lalu tidak ada lagi zona merah di Jawa Barat, rumah sakit stabil. Ditambah bedanya tahun ini dengan tahun lalu itu adanya vaksin yang membuat kekebalan dan kesehatan masyarakat lebih meningkat. Koordinasi metode PPKM menurunkan kasus dan kombinasi dengan vaksinasi yang terus dimasalkan, kami berharap ekonomi pulih”, tambah Emil.

Emil juga menyebutkan bahwa selama masa PPKM ini UMKM di Jawa Barat mengalami peningkatan, yang bermasalah ternyata pada level korporasi. “Salah satu catatannya kami untuk jual beli UMKM selama PPKM ini naik 30% di Jawa Barat. Ternyata saat ini yang masih bermasalah itu korporasi, kalau sudah menegah kecil ternyata malah meningkat. Jadi kita coba cari strategi untuk memulihkan produksi di level korporasi. Saya senang berarti bekerja keras bahwa korporasi yang telah membuktikan saya doakan lancar”, ujar Emil.

Untuk itu Emil akan mempromosikan korporasi di Jawa Barat kepada negara luar meningkatkan upaya peningkatan ekspor Jawa Barat. “Saya minta company profilenya, nanti besok akan saya bagikan pada kedubes Denmark. Kalau saya good data, good decision, bad data bad decision. No data no decision. Saya harus hafal apa yang harus saya promosikan sehingga bisa menembus tidak hanya Uni Emirat Arab, tapi ke seluruh dunia”, ujar Emil.

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan, Dedi Junaedi mengungkapkan “Kami dari Kementrian Pertanian sangat menyambut baik serta mengucapkan selamat kepada Dinas Perkebunan bersama jajarannya yaitu Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat, pengusaha teh dan petani teh di Jawa Barat, bahwa saat ini sejalan dengan menteri pertanian yang sedang menggalakkan program Gratieks, gerakan tiga kali ekspor  dengan mencanangkan peningkatan produktivitas dan daya saing  14 komoditas perkebunan termasuk teh didalamnya. Kami juga mendukung proses pemasarannnya dengan menyelenggarakan peningkatan kapasitas bagi para petani kita untuk yang ketiga kalinya”, ujar Dedi.

Kemudian Dedi barharap agar PT Kabepe Chakra melakukan kemitraan dengan petani dan memang sudah dilakukan dan dirinya mengaku senang karena  ada pembagian KUR secara simbolis kepada para petani. Hal ini sejalan dengan Kementan ditengah keterbatasan APBN hadir KUR,  untuk tahun 2021 ini alokasi untuk sektor pertanian 70 T dan alokasi terbesar bagi subsektor perkebunan. Tanggal 28 Maret sektor pertanian baru mencapai 19 T. Jadi harapan kami masih bisa dioptimalkan lagi karena alokasinya masih  cukup besar hampir 27 T untuk sektor perkebunan ternasuk teh didalamnnya, tentu dengan Jawa Barat sebagai pemasok terbesar sekitar 70% teh nasional disumbangkan dari Jawa Barat.

Dedi juga berterimakasih kepada Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil yang supportnya luar biasa terhadap perkebunan khususnya teh. Menurut Dedi penting untuk diketahui bahwa teh ini memiliki banyak fungsi  misal untuk konservasi,  di Jawa Barat ini banyak mengalir sungai di sekitar kebun teh seperti Citarum yang merupakan sumber air, oleh karena itu kebun teh harus kita lestarikan.

Dedi menyatakan bahwa Ditjen Perkebunan akan mendorong mulai dari hulu termasuk benih, yang utama intensifikasi, peningkatan nilai tambah dan bagaimana supaya petani teh ini didominasi oleh para petani milenial. Sekarang sudah mulai tumbuh komunitas-komunitas milenial dan pihaknya akan terus berkolaborasi dengan Disbun Jabar dengan petani teh, pelaku usah teh yang tergabung dalam Dewan Teh Indonesia.**(HUMAS-DISBUN)

 


Dibaca : 52 kali