Kelompok Tani (Poktan) merupakan kumpulan petani yang dibentuk oleh para petani atas dasar kesamaan kepentingan, kesamaan kondisi lingkungan sosial, ekonomi dan sumberdaya, kesamaan komoditas, dan keakraban untuk meningkatkan dan mengembangkan usaha anggota. Dengan dasar kesamaan ini petani secara bersama-sama belajar, membangun dan mengembangkan Poktannya.

Menurut Peraturan Menteri Pertanian Nomor 67 tahun 2016 tentang Pembinaan Kelembaagaan Petani, Poktan dibagi ke dalam empat kelas kemampuan yaitu pemula, lanjut, madya, dan utama. Kelas Poktan tersebut menggambarkan secara utuh kemampuan dari Poktan, yang diberikan penilaian berdasarkan lima aspek kemampuan atau panca kemampuan poktan, yaitu aspek kemampuan merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan kegiatan, melakukan pengendalian dan pelaporan, dan mengembangkan kepemimpinan. Kelima aspek peniaian tersebut dideskrispsikan ke dalam bentuk penilaian kelas Poktan dengan rentang nilai sebagai berikut::

  1. skala nilai 0-245 termasuk Poktan Pemula;
  2. skala nilai 246-455 termasuk Poktan Lanjut;
  3. skala nilai 457-700 termasuk Poktan Madya, dan
  4. skala nilai 701-1000 termasuk Poktan Utama.


Berdasarakan data yang dimiliki Dinas Perkebunan, sebaran kelas Poktan perkebunan di Jawa Barat belum merata, masih banyaknya Poktan yang berada pada kelas pemula sebesar 79,48%,  kelas lanjut 18,71%, kelas madya 1,77%, dan kelas utama 0,04%.

Sebaran kelas kelompok tani perkebunan di Jawa Barat

Poktan seolah sulit berkembang dan tidak mengalami kenaikan kelas, hal ini juga mengesankan bahwa Poktan tidak meningkat secara kemampuan. Hal ini ditunjukan dengan presentase Poktan yang paling banyak berada pada kelas pemula sebesar 79,48%. Padahal pembinaan terus dilakukan baik oleh Dinas Perkebunan Jawa Barat, Dinas Kabupaten/Kota, Kementerian Pertanian, dan pihak lain yang terlibat dalam pembinaan Poktan.

Terdapat beberapa kendala yang mengakibatkan lambatnya kenaikan kelas Poktan, diantaranya:

  1. tidak sebandingnya antara jumlah tenaga Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) dengan sasaran Poktan binaan;
  2. status PPL ini adalah polyvalen, yaitu PPL membina seluruh Poktan dari subsektor tanaman pangan, hortikultura, peternakan dan perkebunan, tetapi karena kewenangannya lebih dominan di subsektor tanaman pangan, maka akibatnya banyak poktan dari sub sektor lainnya, termasuk perkebunan, menjadi kurang terfasilitasi proses penilaiannya, sehingga banyak status kelas poktan yang datanya cenderung tidak berubah dalam beberapa tahun;
  3. pengurus Poktan umumnya kurang memahami terhadap pertanyaan dalam angket penilaian kelas poktan ketika dilakukan penilaian, sehingga banyak bukti fisik (evident) yang tidak disiapkan sebagaimana mestinya, akibatnya hasil penilaian menjadi terhambat.

Beberapa kendala tersebut mengakibatkan lambatnya kenaikan kelas Poktan, khusunya Poktan perkebunan.

Perlu adanya perubahan metode yang lebih efektif dan efisien dalam penilaian Poktan,. Poktan sebagai wahana belajar harus diberikan gambaran mengenai kompetensi apa saja yang harus dimiliki oleh Poktan. Selain itu sebagai bahan evaluasi dan pengembangan Poktan, Poktan harus diberikan kesempatan untuk melakukan penilaan secara mandiri mengenai kemampuan Poktannya.

Penilaian mandiri yang dilakukan oleh Poktan, selain sebagai sarana evaluasi, juga sebagai upaya diseminasi kepada Poktan mengenai aspek dan kriteria apa saja yang harus dilakukan sehingga Poktan dapat naik kelas. Metode penilaian mandiri kelompok tani dapat dilakukan secara online. Metode penilaian harus dapat memberikan kesempatan kepada Poktan untuk mengisi penilaian secara mandiri dengan tetap melampirkan bukti fisik yang diunduh. PPL tetap berperan untuk melakukan verifikasi terhadap bukti-bukti yang diunduh oleh Poktan.

Penilaian mandiri akan mempercepat proses penilaian, sehingga kenaikan kelas kelompok tani pun akan berjalan lebih cepat juga. Meningkatnya kelas Poktan tentu akan berdampak pada kemampuan Poktan dalam menguasai aspek-aspek yang disyaratakan dalam penilaian. Seiring dengan meningkatnya kemampuan Poktan, diharapkan kesejahteraan kelompok tani akan ikut meningkat, pun begitu halnya dengan kesejateraan dari anggota kelompok tani.

(Bidang SDP)


Dibaca : 336 kali