BANDUNG – Komoditas kopi Jawa Barat jenis liberica diam-diam banyak peminat dari sejumlah kafe, pada musim panen tahun 2021 ini. Sentra produksi kopi liberica Jawa Barat adalah di Sumedang, sekitaran Tanjungsari, yang kini sedang masa panen dan banyak peminat. Komoditas kopi liberica (liberika) di Jawa Barat umumnya merupakan tanaman tua yang umurnya puluhan tahun bahkan ada yang 100-an tahun. Soal cita rasa kopi, memang tergantung selera masing-masing, ada yang menyukai jenis arabika, ada yang robusta, namun juga liberica.

Gambaran banyak peminat kopi liberica (liberika) pada musim panen 2021, tergambar dari Kecamatan Pamulihan dan Kecamatan Tanjungsari Sumedang, Jumat, 10 September 2021.Populasi tanaman kopi liberica di Sumedang, misalnya di Desa Sukawangi, Pamulihan, dan Desa Margajaya, Tanjungsari. Kebanyakan, pohon-pohon tersebut dipelihara masyarakat, dengan meneruskan dari yang sudah ada sebelumnya.

Informasi dari Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat, menyebutkan, sebenarnya populasi pohon kopi liberica di Pamulihan dan Tanjungsari masih ada lebih dari 1.000-an pohon. Misalnya, Yoyo (48th) dari kelompok tani Karya Mandiri Prima, Desa Sukawangi,  Pamulihan, Sumedang, memiliki 690 pohon, yang sudah ditandai sebagai PIT (pohon induk terpilih) 49 pohon. Musim panen raya hanya berlangsung 3 bulan saja yakni Agustus-September-Oktober.

Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat, Hendi Jatnika, menyebutkan, sejauh ini kopi liberika dikembangkan mandiri oleh para petani, dan masih sangat sedikit produksinya di jabar, “Karena mungkin permintaan pasar cukup tinggi, akhirnya harga produk kopi tersebut menjadi lebih mahal dibanding jenis kopi lainnya,” ujarnya.

Kepala Bidang Pengembangan dan Perlindungan, Hermin Karlina menyebutkan, produksi kopi liberica Jawa Barat tahun 2020 mencapai 7 ton cerry dari 700 pohon. Informasi diperoleh dari petani kopi liberica atau disebut pula liberika, di Pamulihan, biasanya menyuplai kafe dan banyak peminat.

“Namun karena sejak pandemi sulit permintaan dari kafe, para petani kopi liberica beralih jualan online dengan omset 70 kg greenbean/bulan atau Rp 5 jt/bulan,” ujarnya.

Kepala Seksi Pengendalian Perkebunan Mochamad Sopian Ansori, mengatakan, informasi diperoleh dari lapangan pula, disebutkan, Yoyo mengatakan, kopi liberika sudah sangat tua, cerita dari neneknya Ma Kasinah yang baru sebulan lalu meninggal dunia berusia kurang lebih 119 tahun, pada saat ia kecil, pohon liberika sudah rata-rata besar.

Ma Kasinah meninggalkan 6 orang anak dan seluruh keturunannya berjumlah 79 orang. Mencapai generasi ketujuh atau kakait siwur. ***

 

Sumber : https://deskjabar.pikiran-rakyat.com/ekbis/pr-1132567190/kopi-liberica-asal-sumedang-jawa-barat-diam-diam-banyak-peminatnya


Dibaca : 46 kali