BANDUNG – Aksi Tali Intan inovasi pelayanan public yang fokus merubah pola pikir dan budaya kerja petani terhadap serangan hama penyakit dan penggunaan pestisida kimia. Hal ini disampaikan Ir. Siti Purnama, MP selaku innovator inovasi Aksi Tali Intan kepada seluruh peserta Pelatihan Kepemimpinan Administrator (PKA) dan Pelatihan Kepemimpinan Pengawas Angkatan V Provinsi Sulawesi Tenggara yang berlangsung di Ballroom Hotel De Braga (22/09).

Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat kembali menjadi narasumber pada Kegiatan Studi Lapangan Pelatihan Kepemimpinan. Pada kali ini salah satu inovasi terbaik dari Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat yang berhasil mewakili Provinsi Jawa Barat masuk dalam Top Inovasi Terpuji KIPP Tahun 2021 dipaparkan oleh inovatornya kepada 82 orang peserta pelatihan kepemimpinan yang terdiri dari 41 orang peserta Pelatihan Kemimpinan Administrator (PKA) dan 41 orang peserta Pelatihan Kepimpinan Pengawas Angkatan V (Lima) Provinsi Sulawesi Tengah.

Kepala BPSDM Provinsi Sulawesi Tengah, Dra. Novalina, MM mengungkapkan dalam sambutannya bahwa pelaksanaan studi lapangan ini diharapkan bisa memberikan pembaharuan mindset dan culture set yang dapat menopang reformasi birokrasi, dan bisa meningkatkan wajah pelayanan public di Indonesia sehingga lebih inovatif, terlebih ditengah pandemic Covid-19, karena salah satu kunci sukses kepemimpinan ialah terus berinovasi.

“Kenapa kami memilih Provinsi Jawa Barat sebagai tempat kunjungan kami dalam kegiatan Studi Lapangan ini karena Provinsi Jawa Barat berhasil meraih penghargaan Top 45 Inovasi Pelayanan Publik 2020 dan Top 21 Inovasi Pelayanan Publik Penanganan Covid-19 dari Kementerian PANRB RI”, pungkas Novalina.

Kemudian Siti Purnama membuka paparannya dengan berbagi tips suskesnya dalam berinovasi sampai ke level nasional. Siti menjelaskan bahwa prinsipnya sebagai ASN yang harus bekerja dan tidak pernah membayangkan penghargaan ataupun hadiah. Sebagai ASN dirinya bekerja di meja tetapi sebagai abdi masyarakat, Siti harus turun ke masyarakat. “Ketika turun ke masyarakat itu barulah saya ‘belanja masalah’, makanya saya bisa memunculkan berbagai inovasi”, kata Siti.

Menurut Siti kunci dari berinovasi adalah dengan memahami tupoksi, menganilisis dampak dan masalahnya karena disanalah peluang untuk berinovasi memberikan solusi atau penyelesaian masalah. “Pahami tupoksi, kemudian dianalisis apakah sudah dilakukan semua atau belum. Kadangkala ada yang sudah tetapi belum berdampak. Kami di Disbun sasaran utamanya adalah petani pekebun, sering kali mereka mengeluh, artinya tupoksi saya belum berdampak. Kemudian masih ada yang belum saya kerjakan berarti disana ada masalah, masalah ini adalah peluang bagi kita untuk memberikan penyelesaian masalah”, lanjut Siti.

Siti menekankan bahwa inovasi itu datang dari sebuah masalah. Menurutnya setelah dirinya mengetahui masalah apa yang tengah dihadapi petani di lapangan kemudian Siti selalu bergegas untuk mencatatnya di handphone, lalu setelah sampai di rumah barulah Siti menuangkannya ke dalam bentuk tulisan. 

“Membuat inovasi itu mudah, asal ada masalahnya. Inovasi datang dari masalah”, ulang Siti kepada pada seluruh peserta pelatihan.

Siti mengungkapkan beberapa inovasi yang telah dibuatnya seperti Aksi Tali Intan yang merupakan kependakan dari Aksi Petani Peduli Perlindungan. Si Perut Laper yaitu Sistem Informasi Peruntukan Lahan Perkebunan. Dalam penciptaan judul inovasinya menurut Siti dirinya sengaja membuat judul yang menarik agar membuat orang lain penasaran.

Inovasi Aksi Tali Intan ini menurut Siti berawal dari kepedulian petani yang sangat kurang pada saat serangan hama penyakit masih rendah, petani cenderung menunggu serangan hamanya berskala besar. Kemudian serangan hama penyakit yang tinggi sebanyak 35% (170.858 Ha) terhadap 10 komoditas. Kondisi petani saat itu di lapangan masih belum peduli sehingga terus-menerus menggunakan pestisida kimia. Pilihan utama para petani saat itu hanyalah penggunaan pestisida kimia karena daya bunuh tinggi, mudah diaplikasikan dan hasilnya cepat terlihat.

“Sehingga lama kelamaan ‘tanahnya sakit’, lingkungan ekosistem terganggu, kesuburan lahan menurun dan cepat menjadi tandus. Hal ini menyebabkan kualitas produk tidak bagus dan mengandung residu pestisida sehingga lama kelamaan produktivitas menurun dan petani mulai mengeluhkan produktivitas yang rendah. Dari sanalah timbul ide untuk berinovasi merubah pola pikir dan budaya kerja”, ungkap Siti.

Perubahan pola pikir dan budaya kerja yang dimaksud menurut Siti adalah pola pikir petani diubah dari yang tadinya menunggu sampai serangannya parah dengan mencoba melihat kondisi kebunnya setiap hari dan misalnya ada serangan ulat atau penyakit mulai ditangani sejak dini sehingga tidak menunggu tanamannya parah dan tidak menggunakan pestisida kimia secara terus menerus.

Adapun menurut Siti keunikan inovasi Aksi Tali Intan yang lantas membuatnya masuk ke dalam Top 45 Inovasi Terpuji, selain karena aksinya yang sederhana, adanya perubahan pola pikir dan budaya kerja petani. Pada inovasi ini juga terdapat pemberian insentif langsung kepada petani. Insentif ini tidak berupa uang melainkan berupa pestisida hayati yang dibuat di laboratorium yang tentunya menggunakan dana APBN sehingga tidak memerlukan tambahan biaya diluar anggaran.

Cara kerja inovasi Aksi Tali Intan ini terbilang sederhana menurut Siti, petani hanya perlu memungut hama penyakit yang dilakukannya setiap hari, kemudian mengumpulkan hama penyakit tersebut ke dalam kantong plastik yang bisa ditemukan dengan mudah dan ekonomis, selanjutnya dilakukan pencatatan jumlah hama penyakit yang terkumpul dan melaporkan jumlah hama penyakit pada regu pengendali organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Barulah petani yang mengumpulkan hama penyakit terbanyak akan mendapatkan insentif berupa pupuk organik dan APH (Agen Pengendali Hayati).

Menurut Siti walaupun dengan aksinya yang sederhana ini tetapi inovasi Aksi Tali Intan memiliki dampak yang luar biasa yaitu melahirkan petani yang peduli terhadap tanaman tanpa penggunaan pestisida kimia, serangan hama penyakit yang tadinya tinggi mulai menurun, sehingga mampu meningkatkan produktivitas menjadi 44%. Dengan ini turut meningkatkan serapan pasar terhadap produk juga menjadi 85%, yang kemudian mampu meningkatkan pendapatan petani sebanyak 86%.

Siti juga sangat memikirkan startegi keberlanjutan inovasinya ini agar dapat terus berjalan dan dimanfaatkan oleh para petani. Oleh sebab itu, Siti melakukan beberapa strategi keberlanjutan inovasi Aksi Tali Intan ini. Menurut Siti secara institusional inovasi Aksi Tali Intan ini dipayungi oleh beberapa landasan hukum, salah satunya yaitu Perda Jabar No. 5/2020 tentang penyelenggaraan perkebunan.

Kemudian secara sosial inovasi ini terbuka bagi semua petani, melayani informasi, konsultasi perlindungan tanaman, hama penyakit utama, gejala serangan, dan pengendaliannya secara gratis. Selain itu dalam inovasi ini juga bekerjasama dengan klinik tanaman, Balai Penyuluh Pertanian, dan RPO sehingga dapat menjangkau lebih banyak petani. Secara manajerial pun, pengelola inovasi ini difasilitasi oleh bimtek pengamatan hama penyakit, pengembangan APH, pengendalian OPT dan untuk jaminan kualitas layanan diberlakukan SOP dan membuat video cara pengendalian hama penyakit, pungkas Siti sebelum menutup paparannya.

Setelah kegiatan paparan dari semua narasumber selesai, kegiatan pelatihan kepemimpinan ini dilanjutkan dengan sesi diskusi berdasarkan lokus setiap kelompok peserta pelatihannya masing-masing. Siti Purnama menjadi narasumber pada diskusi untuk lokus pertanian. **(HUMAS DISBUN-RESTI)


Dibaca : 53 kali