BANDUNG – Program Petani Milenial bercita-cita mendorong regenerasi tenaga kerja di sektor pertanian Jawa Barat yang memiliki inovasi, gagasan, dan kreativitas.  Bagas dan Chandra (sebagai petani milenial bidang perkebunan) telah menggerakkan kewirausahaan bidang perkebunan khususnya kopi dan vanili melalui pemanfaatan teknologi digital, yang menjadikan wajah perkebunan menjadi lebih segar dan atraktif untuk bisa berkelanjutan di Jawa Barat. Hal ini diungkapkan mereka pada tim monev Disbun dikediamannya, Jalan Taman Kartini, Kota Cimahi pada Kamis (18/11/21). 

Si kembar ini mengaku pada saat ditemui tim monitoring dan evaluasi program Petani Milenial (PM) Dinas Perkebunan, merasa bersyukur mendapat kesempatan menjadi PM, pasalnya mereka melihat data keberadaan petani pada tahun 2030 nanti hanya tinggal 30%, sedangkan mereka sendiri sejak tahun 1998 sudah punya lahan/kebun yang ditanami kacang, jagung dan kayu Akasia, namun tidak mempunyai basic ilmu terkait pertanian sehingga pengelolaannya asal-asalan dan produktivitasnyapun tidak optimal. Jiwa mudanya terpanggil, ingin menjadi salah satu petani sukses pada tahun 2030 nanti. 

Pengakuan Bagas dan Chandra ini benar-benar sedang berproses menepis anggapan masyarakat terkait generasi milenial yang enggan menjadi petani. PM berlatar belakang Sarjana Psikologi ini sangat ulet, rajin dan punya cita-cita luhur yaitu “membantu masyarakat bangkit dari keterpurukan ekonomi akibat dampak pandemic” Berkat keuletan dan kreativitasnya “mengulik” teknologi digital terkait perkebunan dan bermodal ilmu hasil bimtek yang mereka peroleh dari Dinas Perkebunan, mereka mengaku 100% manfaat program PM ini sangat dirasakan dampaknya, begitu pula terhadap masyarakat sekitar kebun turut menikmati dampaknya,  Bahkan rekan kuliah dan teman arisan orang tuanya pun ikut bangga dan telah menikmati hasil usaha kopi yang mereka kembangkan.

Tim monev Disbun yang berjumlah 5 orang, diterima Bagas dan Chandra di ruang khusus yang sekaligus digunakan mereka sebagai ruang proses produksi green bean, roasted bean dan kopi bubuk. Diawali dengan perkenalan tim oleh Kasi SDM bidang Sumber Daya Perkebunan Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat, Ir. Arniati Rahim, hingga menyampaikan maksud dan tujuan dilaksanaknnya monev PM. Selanjutnya secara bergantian, anggota tim monev (Ir. Siti Purnama, MP., Lany Apriliani SP, Leo, dan Dedi) mengajukan pertanyaan kepada Bagas dan Chandra dengan tujuan untuk mengetahui perkembangan aktivitas rintisan usaha dan kegiatan yang dilaksanakannya.

Disamping itu untuk menjaring saran dan masukan para PM setelah mereka mendapat bekal ilmu tentang perkebunan. Hasil informasi yang terjaring akan digunakan sebagai bahan analisis kinerja dan analisis perencanaan untuk perbaikan aktivitas program PM khususnya bidang perkebunan pada tahun 2022 mendatang.

Si Kembar ini mengungkapkan pada tim tujuan utamanya mengikuti PM adalah untuk mendapatkan ilmu teknik Budidaya yang baik dan benar (Good Agricultural Practices), untuk mengetahui Good manufacturing Practices (GMP) atau teknik pengolahan dan penanganan pasca panen yang tepat agar mereka bisa lebih optimal dalam mengelola kebunnya dari hulu hingga hilir. 

PM yang hobby fotografi, offroad, nyanyi, dan touring motor-motoran vespa ini mengolah kopinya selain proses natural, full wash juga membuat proses honey/ red honey. Pihaknya mengaku pada saat mengikuti bimtek, benar-benar kaget dengan bahasa atau istilah istilah terkait “pertanian/tanaman”, karena biasanya sehari hari yang akrab didengar dan digunakan bahasa/istilah terkait “manusia” sesuai dengan latar belakang pendidikannya “psikologi”. Penuturan Bagas rasa robusta hasil proses full wash buatannya persis seperti rasa kopi alor, dan paling banyak disukai konsumen setelah red honey. 

Mereka mengaku sejak menjadi PM sudah mampu menjual 750 kg. Rata-rata per bulan permintaan green bean sekitar 70-80 kg. Si kembar bertekat akan terus konsen mengembangkan robusta karena hasil pengalaman dan study yang mereka lakukan di Jabar atau bahkan dunia penyuka arabika murni sangat jarang sebaliknya penyuka robusta sangat banyak.

Bagas dan Chandra mengaku green bean hasil olahan asalan (sebelum mereka mengetahui teori cara penanganan pascapanen kopi) dijual seharga  30rb/kg setelah ikut bimtek, dan sudah menerapkan GMP dan Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) agar produk yang dihasilkannya  aman dikonsumsi dan terhindar dari bahaya kontaminan baik secara phisik, kimia maupun biologi, mereka berani menaikkan harga jualnya jauh diatas harga sebelumnya, “rencananya diatas 45rb/kg, masih belum ditetapkan”, tutur si kembar kepada tim monev.

Keluarga Bagas dan Chandra memiliki kebun kopi di Cikalong Kulon Kabupaten Cianjur arah ke Jonggol, tepatnya pada ketinggian 450Mdpl sehingga sangat cocok untuk jenis kopi robusta. Niatnya yang tulus untuk memajukan perekonomian masyarakat sekitar kebun memotivasi mereka memburu ilmu kopi mulai dari mencari informasi di youtube, mengikuti bimtek, sharing ilmu dengan para ahli kopi hingga akhirnya mereka mampu menghasilkan cita rasa kopi robusta yang dikelolanya dengan berbagai macam rasa. Kepiawaiannya melakukan treatment (istilah mereka senang “ngulik”) akhirnya si kembar ini mampu menyajikan berbagai macam cita rasa kopi yang unik.

Tantangan yang diberikan teman baristanya pada saat mengikuti bimtek Barista yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kota Bandung, membuat mereka mampu mengelola kopi dari hulu hingga hilir, mereka mengaku dengan beans yang sama mampu menciptakan 22 menu/cita rasa yang berbeda. Tentu ini merupakan kemajuan yang luar biasa berkat ulet dan gigihnya mencari ilmu.  “Bimtek Barista hanya 20 minggu dan materi terbatas jadi kalua tidak rajin ngulik, mana bisa berkembang dan menciptakan menu menu unik”, kata Bagas dan Chandra.

Selain menjual bahan baku untuk café-café, PM kembar ini juga menjual dalam bentuk produk kopi susu kemasan. Namun sayang ijin usaha yang baru dikantonginya baru sebatas Ijin dari Rw dan kelurahan. Menurut mereka yang paling banyak repid order, dokter-dokter dan teman kampusnya. Bagas dan Chandra mengakui produk buatan mereka membuat tidak ngantuk dan aman terhadap konsumen penderita asam lambung, soalnya prosesing dari awal hingga akhir higienis dan bersih alias menerapkan GMP dan HACCP.

Disamping mengembangkan kopi, Chandra juga mengembangkan vanilli saling berkolaborasi dengan Bagas. Khusus untuk vanili mereka ikut ke dalam grup vanili Jawa Timur sehingga banyak mendapat informasi tambahan dari bimtek yang telah diikutinya pada Dinas Perkebunan.  Saat ini PM yang kreatif ini sedang membuat role model pengembangan vanili di depan rumahnya.  Dengan bangganya Bagas menunjukkan kepada tim rambatan seperti inilah yang sudah disediakannya, terbuat dari paralon dan sabut. “Saat ini baru bikin 20 belajar dr youtube  bareng-bareng sama  ayah”, katanya. 

Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang diperoleh Bagas telah dimanfaatkan untuk membeli alat alat prosessing pengolahan dan perawatan kebun kopi, sedangkan KUR yang diterima Chandra digunakan untuk pengembangan vanili.

Mereka telah berhasil merangkul masyarakat sekitar untuk bergabung membentuk kelompok tani dengan nama Mekar Abadi. Saat ini anggota kelompoknya sudah berjumlah 33 orang padahal baru dibentuk bulan ini. Mereka juga berhasil merangkul anak-anak yang kerja di Jakarta jadi tukang cuci mobil, pulang kembali ke kampung/Cianjur menjadi petani milenial anggota kelompoknya. Anak-anak inilah yang menjadi tanggungjawab mengolah lahan dan menjaga keamanan kebun. PM seperti inilah yang diharapkan pemprov Jabar mengikuti program unggulan ini, bukan PM yang memikirkan fasilitas yang diberikan pemerintah saja. Tertepis sudah bahwa anggapan generasi milenial enggan menjadi petani. Ini salah satu bukti nyata tage line TINGGAL DI DESA, REZEKI KOTA, BISNIS MENDUNIA.**(HUMAS DISBUN/Siti)


Dibaca : 136 kali