KAB. MALANG – Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat melalui bidang Pengolahan, Pemasaran dan Usaha Perkebunan melakukan kunjungan kerja (kunker) tembakau ke Balai Penelitian Tanaman Pemanis Dan Serat (Balittas), Kabupaten Malang. Kunker yang dipimpin oleh Kepala Bidang Pengolahan, Pemasaran dan Usaha Perkebunan (PPUP), H. Fajar Abdillah, S.Hut., M.A.P ini dilaksanakan pada hari Rabu (17/11). Kunker ini dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan, wawasan dan keterampilan dalam pengolahan dan pasca panen komoditas tembakau.

Kunker yang diterima langsung oleh Peneliti Balittas, Sulis Nur Hidayati, SP, M.P ini terdiri dari petugas provinsi, petugas pendamping dari kabupaten di Jawa Barat, perwakilan APTI (Asosiasi Petani Tembakau Indonesia) Wilayah Jawa Barat dan perwakilan petani tembakau di Jawa Barat dengan jumlah total sebanyak 40 orang peserta. Adapun Kepala PPUP, H. Fajar Abdillah, S.Hut., M.A.P. hadir dengan didampingi oleh Kepala Seksie Panen dan Pengolahan, Novie Yulia Savitri, SP., MM., Kepala Subbagian Keuangan dan Aset, Lasmawati, SE. M.M.

Dalam sambutannya Kabid PPUP, Fajar Abdillah menyampaikan bahwa tujuannya membawa teman-teman petani tembakau dari Jawa Barat ke Balittas adalah untuk memperoleh pengetahuan, wawasan, dan keterampilan terkait penanganan pascapanen dan pengolahan tembakau karena Balittas ini merupakan sumber ilmunya komoditas tembakau. Selain itu, Fajar juga juga mengapresiasi APTI yang senantiasa membina petani tembakau di Jawa Barat khususnya.

“Kami membawa teman-teman petani tembakau dari Jawa Barat, ingin memperoleh knowledge dan pengetahuan, wawasan, keterampilan terkait penanganan pascapanen dan pengolahan tembakau karena bagi kami Balittas ini merupakan sumber ilmunya komoditas tembakau”, ujar Fajar.

“Kami juga mengapresiasi kepada APTI yang senantiasa membina petani tembakau di Jawa Barat khususnya, semoga nanti ada yang bisa disampaikan terkait pertembakauan di Jawa Barat. Terimakasih pula karena kami telah diterima dengan baik oleh Balittas”, lanjut Fajar pada pihak Balittas.

Kemudian pengurus APTI, Sambas menjelaskan perkembangan terkini terkait tembakau di Jawa Barat. Menurut Sambas sudah ada beberapa kabupaten di Jawa Barat yang sudah selesai pelepasan varietas unggul tembakaunya. Sedangkan kondisi pertembakauan di Jawa Barat tetap eksis ditengah kenaikan cukai saat ini karena di Jawa Barat konsumsi tembakau bukan hanya untuk prabrikan sehingga tidak terlalu terpengaruh oleh kenaikan cukai.

“kondisi pertembakauan di Jawa Barat sebetulnya dengan kenaikan-kenaikan cukai yang sekarang ini akan berlanjut lagi, alhamdulilah tetap eksis karena produk tembakau ini konsumsinya langsung, selain untuk pabrikan, tembakau di Jawa Barat juga untuk dikonsumsi langsung sehingga tidak terlalu terpengaruh dengan kenaikan cukai tersebut”, ungkap Sambas.

Walaupun menurut Sambas dengan kenaikan cukai tersebut membuat kondisi para petani tembakau di lapangan sangat riskan karena banyaknya cukai illegal. Dengan adanya kenaikan cukai tembakau ini membuat maraknya tembakau yang berasal dari luar negeri dengan harga yang lebih murah sehingga dapat mengancam para petani tembakau lokal. Hal ini pun menurut Sambas justru akan merugikan pemerintah karena tentunya dengan adanya cukai illegal tersebut maka pajak dari cukai tembakau malah tidak akan sampai ke pemerintah.

“Walaupun kami di lapangan sangat riskan sekali malah jadi banyak cukai illegal. Malah di Kabupaten Bandung juga kita sudah temukan tembakau dari luar yang harganya murah seperti dari Philipina yang hanya 10rb-25rb. Jadi ketika pemerintah berusaha menekankan untuk kenaikan cukai tersebut, untuk meningkatkan pendapatan pajaknya, disisi lain menurut kami di Asosiasi malah justru mereka rugi sendiri, jadi pajaknya itu tidak sampai ke pemerintah”, lanjut Sambas.

Oleh karena itu Sambas berharap pemerintah dapat mempertimbangkan lagi terkait kenaikan cukai tembakau ini. Menurut Sambas terkait tembakau ini tidak bisa dipisahkan dari budaya leluhur rakyat Indonesia.

“Jadi untuk kenaikan cukai tersebut mohon dipertimbangkan lagi dengan sangat. Karena bicara tembakau bicara budaya leluhur tembakau Indonesia”, tutup Sambas pada akhir penjelasannya kepada pihak Balittas dan Disbun.

Selanjutnya Sulis dari Balittas menuturkan terkait perbedaan cara pengolahan tembakau di Jawa Timur dan Jawa Barat. Menurut Sulis perbedaannya kalau di Jawa Barat tembakau dirajang halus semua, sedangkan kalau di Jawa Timur kebanyakan dirajang semi kasar dan kasar. Selain itu, waktu tanam tembakau di Jawa Timur sangat terikat dengan waktu bukanya industry tembakau.

..”perbedaannya kalo di Jawa Barat itu rajang halus semua, kalau di Jawa Timur itu semi kasar dan kasar. Sebagian tanam tembakau itu di akhir musim hujan, dalam kondisi kering, patokan itu diperketat dengan bukanya industri tembakau sehingga tidak mungkin buka di bulan Mei, Juni. Selalu buka di akhir September, paling lama akhir Oktober”, kata Sulis.

Menurut Sulis tanaman tembakau di Jawa Timur juga sangat terpengaruh oleh factor cuaca. Kondisi tembakau yang tidak kuat terlalu lama bila terendam air sehingga banyak tanaman tembakau yang tidak bisa diselamatkan karena mati sebelum waktu panen akibat terendam banjir.

“Tahun ini bulan Juli, Agustus, kami banyak dapat kiriman tembakau yang terendam air. Kalau lebih dari 24 jam tidak akan bisa diselamatkan. Banyak terjadi di tahun ini, area-area tembakau yang terendam banjir. Biaya panennya juga mahal, kalau pun di panen di usia yang belum matang, hasil juga tidak bagus. Tanaman tembakau ini sangat terpengaruh oleh faktor cuaca sehingga banyak tanaman mati sebelum panen”, ungkap Sulis.

Menurut Sulis faktor lain yang membuat tembakau di Jawa Timur sangat tergantung pada waktu bukanya industri tembakau adalah biaya simpan hasil panen tembakau yang tinggi. Selain itu, jika disimpan dan kondisi lembab juga akan menjadi masalah dan tentu akan menurunkan kualitas tembakau. Begitupun jika dijual kepada tengkulak makan serapannya pun tidak terlalu besar.

“..Kalau di gunung, April akhir sudah tanam, di dataran rendah bulan sudah tanam, panen itu sekitar Agustus akhir, harapannya begitu panen kering langsung dibawa ke Gudang. Kalau misalkan tembakaunya dijual ke tengkulak, nanti serapannya tidak terlalu besar. Kalau mereka simpan, biayanya besar, kalau lembab juga nanti jadi masalah”, lanjut Sulis.

Kemudian Sulis mengungkapkan bahwa di Jawa Timur juga terdapat tembakau rajang halus meskipun jumlahnya relatif lebih rendah dibandingkan dengan tembakau rajang kasar. Menurutnya jenis tembakau rajang halus ini dijual ke daerah Jawa Barat juga.

“Di Jatim juga ada tembakau rajang halus, tembakau rajangan halus bondowoso. Dijualnya di Jabar, di pasar Tanjungsari, walaupun pangsa pasarnya ke Tulung agung. Ada juga yang rajang halus tetapi jumlahnya relatif sedikit dibandingkan yang kasar”, tutup Sulis.**(HUMAS-RESTI)


Dibaca : 87 kali