BANDUNG - Petani Milenial (PM) asal Kabupaten Bandung ini merawat dan memelihara tanaman kopinya dengan hati. Unik memang namun inilah kenyataan yang dituturkan Dian Nugraha Ramdani (PM bidang perkebunan) kepada tim monev PM Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat saat ditemui di kebunnya yang berlokasi di Desa Sindang Galih, Kabupaten Sumedang, Kamis (18/11/21).

Dian (panggilan akrabnya), lahir di sumedang tepatnya Desa Cihanjuang. PM yang kental dengan lingkungan pesantren ini (SMP – SMA di pesantren), melanjutkan pendidikan jurusan Sastra Inggris ke Perguruan Tinggi UIN Sunan Gunung Jati.  Lingkungan religi yang ia alami tak membuat surut semangat dan perhatiannya terhadap kelestarian alam.  Menurut penuturannya, Dian bergabung dalam komunitas pecinta alam. “Ke gunung itu seperti pergi ke air jam berapa  aja tidak masalah, kadang  jam 12 malam”, ungkap Dian.

Kecintaannya terhadap alam  sejak mahasiswa ternyata tidak hanya sebatas naik gunung dan menikmati keindahan alam, namun sudah mulai memperhatikan orang-orang yang menanam tanaman, penanaman pohon itu “cep cul” (tanam terus tumbuh sendiri) aja lalu ditinggalkan, lanjut Dian. 

Jebolan UIN 2013 ini merasa jenuh dengan rutinitas aktivitasnya sebagai wartawan sehingga beliau terdorong untuk keluar dan menikah dengan orang Cicalengka.   Kebetulan mendapat mertua montir dan mempunyai lahan yang banyak/luas.  Sesuai hobynya pecinta alam, mertua memberi lahan dan berpesan kepada Dian, “tanah kebonan.. naon wae” (lahan kebunin apa saja).

Pada akhir tahun 2015, Dian sudah mulai merancang berkebun akan tetapi belum punya dasar ilmu menanam, bibit kopi ia beli dari SPMA Tanjung Sari  karena pada saat itu dijadikan pilot projek SMKPPN dengan kurikulum kopi atau  sekolah kopi di Indonesia.

Lahan yang berlokasi di Sindang Galih tersebutpun mendapat saran dari pihak SPMA agar ditanam kopi varietas Tipika karena ketinggiannya 950 mDpl. Sesuai saran yang ia peroleh, Dian tak pikir panjang langsung membeli bibit Tipika sebanyak 750 batang dan mulailah menanam dengan jarak tanam 1,80 m x 1,80 m karena belum memahami jarak tanam ideal (biasanya 2m x 2m), tutur Dian.  Untuk pengolahan lahan sampai pada penanaman dikerjakan sendiri bersama 6 orang anak-anak muda sahabat Dian, tidak melibatkan tenaga kerja karena tidak mempunyai modal untuk membayar pekerja, ungkap Dian.

Tanggal 13 Januari 2021 menjadi sejarah bagi Dian dan sahabatnya, karena pada tanggal tersebut  merupakan hari pertama mereka melakukan penanaman bibit kopi. Saat ini lahan yang dimiliki Dian pribadi seluas 320 tumbak + 40 tumbak (0,5 ha), sementara sahabat Dian yang 6 orang memiliki lahan masing-masing pada lokasi yang berbeda. 

Kini Dia sudah bergabung dalam kelompok tani di Kabupaten Bandung, yang diberi nama “usahatani milenial pamoyanan”.  Pembentukan kelompok tani ini masih tergolong baru,   9 September 2021, Dian menjabat sebagai sekretaris.  Menurut Dian anggota yang aktif saat ini baru mencapai 10 orang, semuanya anak-anak muda yang hobby digital.

Kisah menarik Dian sebelum bergabung menjadi PM, perawatan tanaman masih dilakukan asal asalan karena belum tau bagaimana cara bercocok tanam yang baik dan benar. “Pupuk NPK ditabur dengan dosis diatas normal (kebanyakan) akibatnya tanaman pada mati, jadi tanaman yang masih hidup sekitar 650 pohon. Kondisi ini diperparah lagi dengan adanya serangan ulat penggerek batang yang menyebabkan tanaman tiba-tiba layu dan mati”, ungkap Dian.

Sejauh ini penanganan serangan penggerek batang, dilakukan dengan memotong tanaman yang terserang lalu membakarnya, ucap Dian.  Pihaknya sangat bersyukur dan senang karena tim monev juga memberikan bimbingan terkait penanganan serangan hama penyakit yang tepat sesuai kondisi kebunnya.   

Alasan kurang paham ilmu pertanian inilah yang melatar belakangi Dian tertarik menjadi salah satu PM, Dian ingin memperoleh ilmu tentang pertanian dan penanganan pascapanen karena sudah mulai menanam. Program PM ini diketahui Dian dari IG yang diposting oleh Gubernur Jawa Barat.   “Melihat IG tersebut, saya tertarik ingin mendapat ilmu menanam agar bisa berekspresi lebih banyak dibidang pertanian, ungkap Dian”. Tidak tertarik penawaran Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang ditawarkan bank karena sudah turunan dari nenek2nya tidak pernah meminjam uang kepada siapapun, istilah Dian hanya mengandalkan keajaiban hidup. Menjadi PM semata-mata hanya ingin tau ilmunya agar bias berekspresi dan bereksperimen, lanjut Dian.

Pihaknya mengaku karena tidak tertarik mengajukan KUR maka proposal PM pun dia tidak punya namun rencana aksi apa yang harus ia lakukan telah ia susun.   Dalam rencana aksi tersebut telah dituangkan rincian aktivitas yang akan ia lakoni dari hulu hingga tengah, bukan sampai hilir “hanya  sampai menghasilkan kopi bubuk”, kata Dian.  Cita-citanya sederhana, sudah merasa cukup usahatani dari hulu hingga tengah, tidak berkeinginan sampai ke hilir (membuka café).

Dian mengaku selain dari kebun sendiri, bahan baku selama ini didapatkannya dari petani Lebak Kaso (pak Yudi) binaan ITB. Dian tidak berniat membuka café walau mampu memproduksi  sampai  bubuk.  Beliau menjual produknya baik green bean, roasted bean dan kopi bubuk ke perorangan, pertemanan, permintaan instansi-instansi dan café-cafe. “Suka ngirim ke rosteri, paling jauh ke badan riset inovasi nasional di Jakarta”, ungkap Dian. Pihaknya mengaku menyiapkan stok bubuk hanya sedikit sesuai pesanan saja.

Terkait proses pengolahan, beliau lebih sering melakukan secara manual karena belum memiliki fasilitas alat pengolah sendiri dan menurutnya pengakuan konsumen cita rasa manual lebih enak.  Untuk harga roasbean Dian membandrol hanya Rp. 200ribu/kg krn di sangria sendiri manual bukan pake mesin roasting”, kata Dian. Dalam pengolahan kopi Dian mengaku banyak belajar dari ibu Lilis (mentornya dalam roasted bu lilis), ungkapnya. Khusus kopi bubuk Dian membandrol seharga Rp. 25ribu/100gr untuk  reseler agar mereka bisa  jual Rp. 30 – 35 ribu, lanjutnya.

Kopi dengan merek dagang SINAPEL ini, kebanyakan dijual dalam bentuk bubuk.  Nama SINAPEL memang masih asing ditelinga, menurut Dian nama tersebut diambil dari  nama blok kebun dimana Dian menanam kopi. Sinapel artinya tempat angker dan mengerikan, tuturnya sambil tertawa.

Sesekali Dian juga mengolah kopi jenis Liberika yang diperolehnya dari Gunung Geulis (kopi buhun) namun hasil sangria hanya untuk konsumsi sendiri dan tidak diperjual belikan. Menurutnya Liberika itu rasanya maild seperti minum coklat tidak terlalu asam.   Untuk arabika proses pengeringan dilakukan dengan menjemur memakai nyiru, proses fermentasinya di tumbuk, dengan kondisi kadar air 12,4%. Semua proses pengolahan dilakukan secara mandiri, manual dan sesekali berkolaborasi dengan SPMA dalam hal roasting.

Dian mengaku belum pernah mendapat bantuan dari siapapun, kecuali benih 500 batang jenis arabika varietas Lini S dari Balai Pengembangan dan Produksi Benih Perkebunan (BPPBP). Dari 500 batang dibagi bagi ke kebun anggotanya, Dian sendiri hanya membutuhkan 140 batang, sisanya ditanam di kebun anggota, ungkap Dian.

Dalam bercocok tanam Dian, tidak menggunakan pupuk kimia, semua yang digunakan pupuk kandang. “Penggunaan pupuk  kimia hanya NPK sebanyak 2 kali sisanya pupuk kandang”, kata beliau. Sejauh ini tau pertanian dari pelatihan yang diikutinya di Dinas Perkebunan ditambah dengan membaca-baca.  Baginya manfaat setelah menjadi PM banyak sekali terutama manfaat ilmu.

PM yang kental dengan lingkungan komunitas pesantren ini benar-benar memperlakukan tanaman kopinya sebagai sahabat. Setiap ke kebun mengucap salam sambil mencium tanamannya dan pada saat mulai menanam pasti  membaca doa, agar tanamannya tumbuh dengan baik dan memberi hasil sesuai harapan.  Perlakuan ini pun ditularkannya pada sahabat milenialnya dalam kelompok tani, mereka menjadikan tanaman sebagai sahabat milenial, ungkap Dian.

Terkait pemasaran, Dian mengaku dilakukan secara online dan offline.  Untuk online hanya via wa, IG, sedangkan offline permintaan langsung dari teman dan café.  “Perkiraan omzet per bulan dari hasil diversifikasi usaha kurang lebih begini”, jelas Dian kepada tim. Penjualan kopi bubuk 6 kg/bulan (60 bungkus x 25K = Rp.1.500.000), Green beans 6 kg/bulan x 90K = Rp. 540.000, Sereh 300kg x Rp.3500 = Rp. 1.050.000, Cascara 2 kg/bulan (20 bungkus x 20k = Rp.400.000), Teh kelor 4kg (40 bungkus x 8k = Rp.320.000), Benih kelor 50 x 15.000 = Rp. 750.000 sehingga total omzet Dian per bulan Rp. 4.560.000. Tentu ini menjadi bukti nyata program yang dicanangkan Gubernur Jabar secara matematis dan realistis bisa tercapai, dengan catatan PM nya harus mampu mengeksplor potensi diri.

Modal awal Dian kurang lebih hanya Rp.10juta untuk   beli benih, memberi makan sahabatnya saat mengolah tanah, membeli pupuk hingga tahun ke 2 (dua) untuk lahan Dian sendiri seluas kurang lebih 0,5 Ha.

Masalah yang ditemui di kebun  hanya serangan hama penyakit yaitu penggerek batang, karat daun dan sedikit terdapat penggerek buah, ujarnya,  Masalah lain terkait dengan alat-alat pengolahan yang belum ia miliki, sehingga untuk roasting harus menyewa ke SPMA.   Pihaknya mengaku kelompok tani temannya (LMDH) pernah mendapat bantuan alat roasting buatan  salah satu politeknik di Bandung, namun kurang bagus karena hasilnya selalu gosong, dan sudah korban 7,5kg green bean ngosong saat dicoba, ujar Dian.

Dian menyarankan, agar pemerintah lebih fleksibel ke PM, benteng-benteng birokrasi harus lebih leluasa kepada PM, “kalau integritas PM nya benar kenapa tidak dilonggarkan aturan-aturannya, soalnya tidak berkelompok sehingga susah mendapat bantuan. PM rata-rata baik dan jujur, bantuan yang diberikan pemerintah tidak akan dijual, “jadi mohon ada kebijakan khusus untuk PM jangan se ribet aturan ke petani biasanya”, ungkap Dian berseloroh. (HUMAS DISBUN/SITI).


Dibaca : 74 kali