KAB. BANDUNG – 1.000 orang petani kopi di Kabupaten Bandung akan mendapat bantuan pembiayaan dari Bank BJB, hal ini disampaikan pada acara Focus Group Discussion (FGD) Akses Permodalan yang berlangsung di Gapoktan Mandalawangi, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung, Selasa (30/11/2021).

FGD tersebut dilaksanakan oleh Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat (Disbun Jabar) berkolaborasi dengan Komite Pemulihan Ekonomi Daerah (KPED) Provinsi Jawa Barat Divisi Pertanian dan Ketahanan Pangan, Bank BJB, dan Dinas Pertanian Kabupaten Bandung (Distan Bandung).

Gapoktan Mandalawangi beranggotakan sekitar 1.000 orang petani kopi merupakan Gapoktan yang tergabung dalam korporasi petani Java Preanger Lestari Mandiri (JPLM) di Kabupaten Bandung. Gapoktan ini sudah memiliki pasar yang pasti dan luas, termasuk pasar ekspor. Satu tahun musim panen mampu memproduksi 340–700 ton kopi berasan (green bean).

Pasar kopi, baik domestik maupun internasional masih terbuka luas, sehingga Gapoktan perlu melakukan peningkatan jumlah produksi untuk memenuhi pasar tersebut. Upaya yang bisa dilakuakan adalah meningkatakan produksi melalui perbaikan pola budidaya dan paska panen kopi oleh petani, dalam melakukan hal tersebut, petani memerlukan bantuan modal sehingga produktivitas dan mutu kopi meningkat.

FGD diawali oleh sambutan dan penyampian arah kebijakan perkebunan di Jawa Barat yang disampaikan oleh Sekretaris Disbun Jabar, Rika Jatnika. Rika menyampaikan bahwa pemerintah terus berupaya untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang ada di masyarakat, khususnya petani perkebunan yang menjadi kewenangan dari Disbun Jabar.

“Kebijakan pemerintah untuk mendorong percepatan penyelesaian masalah petani bersinergi dengan baik pada kondisi yang aktual yang dimiliki oleh masyarakat petani serta kebijakan khusus mengarah pada persoalan yang dihadapi oleh masyarakat petani”, katanya.

Salah satu upaya yang terus dilakukan adalah dengan memberikan pemahaman mengenai permodalan kepada petani serta akses untuk mendapatkanya, FGD Akses Permodalan kali ini merupakan salah satu bukti konkret yang dilakukan oleh pemerintah. Sumber pembiayaan melalui perbankan merupakan salah satu akses petani untuk mendapatkan pembiayaan untuk meningkatkan kapasitas usahanya.

“FGD ini merupakan kolaborasi Disbun Jabar, KPED Jabar, Bank BJB, dan Dinas Pertanian Kabupaten Bandung dalam menyelesaikan permasalah sekaligus upaya pemulihan ekonomi masyarakat”, imbuh Rika.

Selanjutnya, KPED Jabar yang diwakili oleh Hadiyan, memaparkan mengenai upaya pemulihan ekonomi yang dilakukan oleh KPED Jabar. Covid-19 merupakan Qodarulloh yang tidak bisa dihindari, kita harus bisa mengambil hikmah dan secepatnya beradaptasi terhadap kondisi yang ada, harus melihat peluang yang ada sehingga menjadi golongan yang kreatif terhadap kondisi, bukan golongan yang reaktif.

“…Kita harus berdamai dengan situasi, harus menjadi kreatif bukan reaktif”, katanya.

Jawa Barat terus berkontribusi terhadap ekspor nasional, yaitu sebesar 15 % ekspor nasional atau 166 milyar dolar berasal dari Jawa Barat, salah satunya adalah dari komoditas kopi. Dalam melakukan ekspor sendiri tidak lepas dari beberapa kendala diantaranya keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) dan penggunaan teknologi.

Hadiyan melajutkan bahwa terdapat tiga sektor yang menunjukan kinerja positif selama pandemic covid-19 ini, yaitu pertanian, kesehatan, dan teknologi. Pertanian yang menunjukan kinerja positif menggambarkan bahwa pertanian akan selalu dibutuhkan oleh masyarakat dan belum bisa tergantikan.

Dalam menghadapi Covid-19 terdapat tiga skema yang dilakukan oleh KPED Jabar, yaitu penyelamatan, pemulihan, dan penormalan. Sekarang kita banyak berada pada kondisi pemulihan ekonomi sebagai dampak dari covid-19. Silih tulungan merupakan salah satu upaya KPED Jabar dalam pemulihan ekonomi dengan kolaborasi berbagai pihak atau pentahelix.

Acara dilanjutkan dengan penjelasan Bank BJB mengenai skema pembiayaan yang diberikan kepada petani yang disampaikan oleh Fahmi Rusyad, Manger Divisi UMK Bank BJB. Skema pembiayaan yang diterapkan adalah melalui kerjasama pola kemitraan, kerjasama pola kemitraan adalah kerjasama antara bank dengan perusahaan mitra dalam hal penyaluran kredit UMKM kepada mitra binaan. Tujuannya adalah

  1. Meningkatkan portofolio Kredit UMKM
  2. Penciptaan ekosistem baru dalam penyaluran Kredit UMKM
  3. Mendapatkan peluang pasar dan target market yang lebih efektif dan efisien

Fahmi, menjelaskan bahwa terdapat 6 manfaat dari skema pembiayaan melalui pola kemitraan, yaitu:

  1. Harga barang stabil
  2. Kontinuitas supply barang
  3. Kulitas barang terjaga
  4. Membuka akses keuangan
  5. Akses pasar hasil panen
  6. Meningkatakan kesejahteraan petani.

Lebih lanjut Fahmi menyampaikan, proses pengajuan untuk pembiayaan kepada anggota Gapoktan Mandawalangi sudah hampir selesai, hanya tinggal penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS), yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Dari 1.000 orang petani yang didaftarkan akan diberikan pembiayaan secara bertahap sesuai prosedur perbankan.

Besaran kredit yang akan didapat adalah Rp. 25.200.000 per hektare lahan kopi petani. Penyaluran akan disesuaikan dengan Rencana Kerja Usaha (RKU) yang sudah disusun. Skema pelunasannya pun berbeda dengan kredit biasanya yang diangusur setiap bulan, petani (debitur) melunasi pinjamannya ketika musim panen selesai atau bayar panen (yarnen)

“Pelunasannya adalah Ketika musim panen atau yarnen”, imbuh Fahmi.

Selanjutnya, Bustomi, ketua Gapoktan Mandalawangi menyampaikan bahwa, mereka menyambut baik adanya kerja sama ini. Petani memiliki keinginan yang kuat untuk meningkatkan usahanya serta memiliki komitmen. Petani pun sangat setuju dengan skema pembiayaan melalui kemitraan, karena ada kepastian hasil panen mereka akan terjual habis, serta pasar yang sudah tersedia. Bustomi juga menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terwujudnya Kerjasama ini

Adanya bantuan pembiayaan kepada petani ini diharapkan dapat memberikan semangat kepada petani untuk terus berusaha dan meningkatkan pendapatannya. Dengan pola kerja sama kemitraan, pasar sudah dijamin, sehingga produk petani dapat diserap pasar sepenuhnya. Hal ini juga menjadi upaya dalam pemulihan ekonomi petani dalam menghadapi pandemic covid-19.***(Bidang SDP-DISBUN/Adi Firmansyah)


Dibaca : 104 kali